Skip to content

Menghancurkan Kesombongan

 

Apabila kita mendapat perlakuan tidak adil dari seseorang, kita harus tahu bahwa tidak mungkin Tuhan tidak mengadakan perhitungan. Tuhan pasti mengadakan perhitungan, sebab Ia adalah Hakim yang adil, yang tidak akan membiarkan ketidakadilan berlangsung terus-menerus. Sebagai biji mata Tuhan, kita pasti terlindungi dan dibela oleh-Nya. Perlakuan tidak adil itu harus kita terima sebagai cara Tuhan untuk menghancurkan kesombongan-kesombongan kita. Ada orang-orang yang sering mendapat perlakuan tidak adil atau dipersalahkan padahal tidak bersalah. Orang seperti ini sesungguhnya istimewa, karena Tuhan sedang membentuk batinnya. Seperti banyak ibu yang mendapat perlakuan tidak adil dari suaminya. Biarlah Roh Kudus yang menolong kita.

Orang-orang yang memperlakukan sesamanya dengan tidak adil biasanya merasa bisa berbuat sesuka hati karena memiliki kekuatan atau kuasa. Kita tidak bisa mengubah orang, bahkan Tuhan pun tidak mengubah orang yang memang tidak mau berubah. Banyak orang jahat, dan terhadap hal-hal yang tidak patut kita harus bersikap tegas—menegur atau memperingatkan—tetapi kita tidak boleh bertindak semena-mena. Sering kali terjadi, ketika seorang ibu kesal di kantor terhadap atasannya, pelampiasan emosinya justru mengenai pembantu rumah tangga, anak-anak, atau suaminya. Demikian juga suami yang kesal, sasarannya adalah istrinya.

Tuhan Yesus, ketika menjadi tawanan, juga diperlakukan tidak adil oleh orang-orang yang memusuhi-Nya, baik oleh sebangsa-Nya, yaitu orang Yahudi, maupun oleh orang kafir, yakni tentara-tentara Romawi. Namun Tuhan Yesus tetap menerima tanpa membalas. Bahkan doa mengalir dari mulut-Nya, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Betapa indahnya jika kita dapat masuk ke wilayah itu—wilayah kemerdekaan yang sejati. Ketika kita ditekan dengan beban sepuluh kilogram dan kita kuat, Tuhan dapat mengizinkan beban yang lebih besar lagi. Sampai pada titik tertentu, kita tidak perlu lagi diuji dalam hal-hal kecil, karena kita akan berhadapan dengan perkara-perkara yang lebih besar, bahkan perlawanan terhadap Injil—orang-orang yang dengan kekuatan politik, uang, dan hukum mendiskriminasi kita. Latihannya dimulai dari menghadapi orang-orang di sekitar kita terlebih dahulu.

Kita dapat memasuki wilayah rela diperlakukan tidak adil ketika duduk diam di kaki Tuhan, sambil merenungkan: apa untungnya jika melawan, dan apa ruginya jika memilih diam? Justru ada keuntungan ketika kita diam, sebab Tuhan mengajarkan agar kita memberikan pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Ini nasihat yang tidak wajar menurut logika manusia. Namun Tuhan mengajarkannya, dan ketika Tuhan mengajar, Ia juga memberikan kesanggupan untuk melakukannya. Melalui proses kehidupan, kita mengingat apa yang Tuhan Yesus katakan, “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”; “Datanglah kepada-Ku, kamu yang letih lesu dan berbeban berat”; jangan memiliki keinginan untuk selalu dihormati, diperlakukan adil, dan dituntut hak-haknya.

Firman Tuhan juga berkata, “Apabila seseorang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu kepadanya; dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu; dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan satu mil, berjalanlah bersama dia dua mil” (Mat. 5:39-41). Ini adalah kiasan yang berarti kita tidak membalas ketika diperlakukan tidak adil. Dalam Roma 12:19, 1 Tesalonika 5:15, dan Ibrani 10:30 juga terdapat ajaran agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ketika kita rindu berubah dan duduk diam di kaki Tuhan, seolah-olah kita kehilangan kepribadian atau keakuan kita. Namun justru dengan cara itulah kita diubahkan secara total. Sebaliknya, jika kita jarang berdoa, tidak bersekutu dengan orang-orang yang takut akan Tuhan, dan tidak memperhatikan firman, maka keakuan kita akan hidup kembali.

Mari kita membawa setiap perlakuan tidak adil yang kita terima ke hadapan Tuhan dengan jujur dan terbuka. Tuhan akan membalut hati kita. Kebenaran harus dipraktikkan, bukan hanya disampaikan. Ingatlah kisah Yusuf, yang akhirnya menjadi orang yang berhasil. Berkhotbahlah melalui perbuatan, bukan hanya perkataan. Sikap kita harus berubah, karena orang dapat membaca sikap dan perkataan kita. Jika kita gagal dan gagal lagi, jangan menyerah atau putus asa. Sebab ketika kita berkata ingin belajar lemah lembut, justru kita akan berhadapan dengan orang-orang yang mengkhianati, menikam, dan menusuk dari belakang. Tidak ada kesembuhan jiwa tanpa proses, karena itu kita harus terlebih dahulu menghadapi masalah, barulah kita bisa belajar dan diubahkan.