Skip to content

Mengganti Jala (1)

 

Dalam Matius 4:20 dikisahkan Simon dan Andreas menerima undangan Yesus dengan meninggalkan jala ikannya. Meninggalkan jala ikan, dalam konteks literalnya, berarti meninggalkan segala sesuatu demi Tuhan. Bagi nelayan seperti Simon dan Andreas, jala adalah alat penghidupan utama sebagaimana cangkul bagi seorang petani. Meninggalkan jala berarti meninggalkan segala sesuatu, termasuk yang paling mendasar, yakni penghidupan mereka.

Harus diakui bahwa narasi pemanggilan para murid pada Matius 4 ini sangat indah. Keindahannya terletak apabila ayat ke-20 ini dibaca bersamaan dengan ayat ke-19, di mana mereka diundang Yesus menjadi penjala manusia. Ketika mereka merespons undangan Yesus, mereka meninggalkan jala ikan dan menggantinya dengan “jala manusia”. Apakah jala manusia itu? Ia adalah kehendak dan rencana Allah. Para murid meninggalkan yang paling mendasar dalam hidup seorang manusia, yakni penghidupan, dan menggantinya dengan hal yang lebih mendasar, yakni kehendak dan rencana Allah atas hidupnya. Para murid tidak meninggalkan penghidupan tanpa arah, mereka meninggalkannya dengan arah yang jelas, yakni kehendak dan rencana Allah. Itulah yang lebih mendasar ketimbang kebutuhan hidup yang sementara. Di sinilah letak keindahan narasi tersebut.

Panggilan mengikut Tuhan bukan panggilan yang sporadis (tanpa arah dan tujuan). Paulus berkata bahwa ia bukan pelari tanpa tujuan dan petinju yang sembarangan memukul (1Kor. 9:26). Ia memiliki tujuan dan sasaran pukulan yang jelas, yakni pembenahan manusia batiniah yang terus bergerak seturut kehendak dan rencana Allah (1Kor. 9:27). Paulus sadar bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Firman tersebut adalah kehendak dan rencana-Nya. Bila dikatakan bahwa manusia hidup dari firman, itu bukan berarti kita menganggap remeh pencarian berkat jasmani. Berkat jasmani harus diusahakan dengan tanggung jawab karena itu juga merupakan bagian dari pengabdian kita kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana mungkin seseorang memenuhi kehendak dan rencana Tuhan apabila dalam hal kecil (berkat jasmani) ia tidak benar? Namun, pencarian berkat jasmani tidak boleh mengalihkan kita dari fokus yang sesungguhnya. Kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita adalah hal yang lebih mendasar yang perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, mengikut Tuhan tidak menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh fantasi dan utopis. Justru seseorang yang mengikut Tuhan adalah pribadi yang realistis. Ia memenuhi seluruh kebutuhan jasmani dengan penuh tanggung jawab. Akan tetapi, fokusnya bukan lagi pada bagaimana memperoleh berkat jasmani lebih banyak agar hidup lebih tenang. Ia akan “mengganti jalanya”. Ia akan berusaha menjaring kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Ia akan memiliki kegalauan yang kudus, yakni gelisah apabila tidak menemukan kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Dengan demikian, seseorang tidak akan tergesa-gesa dalam memutuskan, memilih, atau melakukan sesuatu. Ia akan mempertimbangkannya dengan matang, bukan hanya dari segi kemampuan finansial ataupun dampak dari suatu keputusan, melainkan juga perasaan Allah. Perasaan Allah ini dikenali dalam persekutuan yang intim dengan-Nya melalui interaksi hidup sehari-hari yang berusaha tidak bercela serta waktu perenungan yang intim dalam doa.

Seseorang yang mengganti jalanya bisa mengalami ketidaknyamanan, sebab perubahan jala berarti perubahan cita rasa jiwa. Perubahan cita rasa jiwa dari duniawi menjadi surgawi sangat menyayat manusia batiniah. Proses ini layaknya seseorang yang “sekarat”, di mana ia berada di antara hidup dan mati. Tidak ada kepastian dan kenyamanan. Namun, tidak ada keadaan sekarat yang tanpa ujung. Seseorang yang sekarat pasti akan kembali sadar ataupun berpulang. Begitu juga dengan perubahan cita rasa jiwa yang menyiksa ketika kita mengganti jala. Ketika cita rasa kita telah berhasil berubah, di situlah akhirnya kesenangan dunia tidak lagi menjadi nikmat.