Skip to content

Menerima Realitas

 

Makin hari, ilmu pengetahuan semakin maju. Salah satu bentuk kemajuan ilmu pengetahuan adalah berkembangnya pemahaman tentang jiwa manusia yang digeluti dalam disiplin ilmu psikologi. Ilmu psikologi banyak menjelaskan kepada kita bagaimana dinamika kejiwaan seseorang sangat memengaruhi seluruh kehidupannya. Ada interaksi timbal balik yang kuat antara tubuh jasmani dan jiwa seseorang. Bahkan, jika dipandang dari sudut pandang teologis, hubungan tersebut dapat ditambah dengan roh atau dimensi kerohanian. Jadi, ada hubungan timbal balik yang kuat antara tubuh, jiwa, dan roh seseorang. Manusia dalam dirinya sendiri tidak terpisah-pisah, melainkan merupakan satu kesatuan yang utuh.

Implikasi dari hal ini adalah apabila ada salah satu unsur dalam diri manusia yang tidak sehat, hal tersebut akan memengaruhi unsur lainnya. Misalnya, jika seseorang terus menyimpan akar pahit, peluangnya untuk mengalami penyakit jantung atau kanker menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, seseorang yang tidak menjaga pola makan sehat dapat mengalami dampak pada kesehatan mentalnya, seperti mudah marah atau sulit berkonsentrasi. Emosi yang buruk akan membentuk roh atau karakter yang melukai orang lain. Di sini kita menjumpai interaksi yang kuat antara ketiganya. Tidak heran apabila Paulus, dalam 1 Tesalonika 5:23, berdoa bagi tubuh, jiwa, dan roh orang percaya agar dapat dikuduskan secara bersamaan menjelang kedatangan Tuhan.

Terkait dengan hal mengampuni, perlu diketahui bahwa pengampunan dimulai dengan penerimaan terhadap realitas. Ketika kita hendak mengampuni seseorang, tidak mudah bagi tubuh, jiwa, dan roh kita untuk melakukan hal tersebut. Banyak orang Kristen atau bahkan hamba Tuhan mengesankan bahwa pengampunan begitu mudah dilakukan. Mereka menggunakan Efesus 4:26 untuk memberi kesan bahwa jika pengampunan tidak dilepaskan pada saat itu juga, maka orang percaya akan langsung berdosa kepada Allah. Memang ada benarnya bahwa orang percaya tidak boleh betah menyimpan kepahitan karena hal itu akan berdampak buruk bagi dirinya. Namun, dalam melepaskan pengampunan, ada proses yang perlu dijalani, layaknya pertobatan: menerima realitas luka.

Sebagaimana pertobatan dimulai dari kesadaran dan penerimaan akan ketidaktepatan dalam diri kita, demikian pula pengampunan. Pengampunan dapat mulai dilepaskan ketika kita menerima bahwa kita terluka oleh perbuatan orang lain. Ada kecenderungan orang Kristen bertingkah seolah-olah ia baik-baik saja karena takut dicap tidak cepat melepaskan pengampunan. Padahal, dalam dirinya, ia belum selesai dengan rasa sakit itu. Ia hanya menyangkal (denial) rasa sakit tersebut, bukan berdamai dengannya. Berdamai dengan rasa sakit yang berujung pada pengampunan selalu berangkat dari kejujuran bahwa kita terluka dan bahwa hal itu sungguh menyakiti kita. Kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Tuhan ini harus diekspresikan melalui dialog yang tulus dalam doa. Seseorang yang tidak mengakui bahwa ia terluka atau terlalu cepat mengatakan bahwa ia telah mengampuni akan sulit berujung pada pengampunan yang sejati. Hanya orang yang mengakui atau menyadari bahwa ia sakit yang dapat disembuhkan. Kita harus membawa realitas luka-luka yang kita alami itu dalam doa dan ratap tangis secara jujur.

Pengakuan yang tulus akan luka membuka pintu anugerah Allah bagi kita. Dengan mengakui hal tersebut, Allah akan menolong kita membebat luka itu melalui berbagai peristiwa yang diizinkan-Nya terjadi. Allah dapat mengatur berbagai kemungkinan agar kita dapat memulai proses berdamai dengan diri sendiri. Sampai pada suatu titik, luka yang kita miliki tidak lagi menganga, dan pengampunan mulai terasa ringan untuk diucapkan. Pada titik inilah pengampunan yang tulus dapat keluar. Bukan karena kita melupakan apa yang telah dilakukan oleh orang lain—mungkin sampai mati kita tetap mengingatnya—tetapi karena kita telah menerima atau berdamai dengan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Kita menyadari bahwa mereka juga adalah sesama manusia yang sedang berjuang untuk menjadi lebih baik, sama seperti kita. Dalam proses tersebut, bukan tidak mungkin mereka melukai kita tanpa sengaja. Atau, jika pun mereka melakukannya dengan sengaja, pasti ada rentetan peristiwa dalam hidup mereka yang menggiring mereka menjadi pribadi yang melukai orang lain. Dengan menerima realitas luka dan kemudian berproses bersama Allah, kita dimampukan untuk melahirkan pengampunan yang tulus.