Skip to content

Menengok ke Belakang

 

Ada sebuah kutipan indah dari filsuf Kristen terkenal, Søren Kierkegaard: “Hidup hanya bisa dimengerti ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan.” Prinsip ini menemukan resonansi yang sangat dalam ketika diterapkan pada perjalanan iman Kristen. Sering kali kita baru menyadari kebaikan Tuhan setelah berlalunya suatu peristiwa atau masa tertentu. Ketika berada di tengah badai kehidupan, kita hanya melihat ombak permasalahan dan angin pencobaan; tetapi setelah badai reda dan kita menoleh ke belakang, barulah kita menyadari bahwa tangan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Pemazmur Daud memberikan gambaran yang amat dinamis tentang sifat Allah dalam Mazmur 23:6: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Kata “mengikuti” di ayat ini merupakan terjemahan dari kata Ibrani rādaf — kata kerja intensif yang memiliki pengertian “mengejar” (to pursue, run after). Bayangkan seorang prajurit yang mengejar musuhnya dengan segenap tenaga, atau seorang pemburu harta karun yang tak kenal lelah mengejar buruannya. Kata kerja ini menggambarkan tindakan aktif dan penuh semangat dari Allah yang mengejar kehidupan kita dengan kasih setia-Nya. Artinya, sepanjang hidup ini Ia tidak pernah lelah menopang dan memelihara kita dengan kebajikan serta kemurahan-Nya, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Sepanjang tahun 2025 ini, mungkin kita telah melewati berbagai lembah kehidupan dan mendaki terjalnya tebing pencobaan: kehilangan orang yang dikasihi, rasa kecewa yang mendalam, atau pergumulan ekonomi yang semakin kompleks. Jika hari ini kita masih dapat berdiri, itu bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kemurahan Tuhan yang senantiasa menuntun setiap langkah kaki kita. Seraya menengok ke belakang, kita dapat berkata seperti Daud: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Dari pengakuan iman sang pemazmur, kita dapat memperhatikan pergeseran fokusnya. Solusinya bukan pada diangkatnya masalah yang dihadapi, tetapi pada kehadiran Sang Gembala. Gada—sebagai alat untuk melawan ancaman—dan tongkat—untuk menuntun domba-domba—Tuhanlah yang menjadi penghiburnya.

Inilah pelajaran berharga ketika kita menengok ke belakang. Tidak jarang kita baru bisa bersyukur setelah waktu berlalu. Kita sering kali baru menyadari bahwa justru di lembah-lembah kekelaman itulah kita belajar merasakan kehadiran-Nya secara nyata. Di sana pula kita belajar bergantung sepenuhnya pada pertolongan Tuhan. Kekuatan kita sendiri habis, dan pada titik itulah kita menemukan bahwa kekuatan-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan kita. Dulu kita mengira doa-doa kita diabaikan, padahal Tuhan menunda menjawabnya karena Ia tahu apa yang terbaik—menurut versi Allah, bukan versi kita sendiri. Dulu kita merasa semua pintu tertutup, padahal Ia sedang melindungi kita dari jalan yang salah. Ketika menengok kembali, kita akan melihat pola kasih Tuhan yang menenun setiap peristiwa menjadi sebuah mahakarya yang indah.

Salah satu buah rohani terbesar dari kebiasaan “menengok ke belakang” adalah lahirnya syukur sejati. Syukur seperti ini lahir dari pengenalan dan penghayatan bahwa hidup ini adalah perjalanan bersama Tuhan. Tidak ada langkah yang sia-sia apabila kita berjalan di bawah tuntunan Sang Gembala Agung. Bahkan kegagalan sekalipun dapat menjadi sarana untuk memetik pelajaran berharga dari setiap kehendak dan rencana-Nya, serta membentuk karakter yang semakin serupa dengan Kristus.

Menjelang akhir tahun ini, ambillah waktu sejenak untuk menengok ke belakang—bukan dengan penyesalan atau kekecewaan, melainkan dengan rasa syukur. Mari kita menghitung setiap berkat yang telah Tuhan beri, terutama berkat-berkat kecil yang sering terlewat: napas kehidupan, kesehatan yang dipulihkan, keluarga yang mengasihi dan mendukung, pelayanan yang terus berbuah, damai di hati, serta sukacita surgawi meski badai di luar belum reda. Semua itu adalah bukti nyata kasih karunia Allah—kebajikan dan kemurahan-Nya—yang bukan hanya mengikuti, melainkan mengejar kita setiap hari.