Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dikenal sebagai severe letter, surat kemarahan, surat yang pedas dan keras, yang membongkar serta menunjukkan dan menegur kebejatan mereka serta praktik hidup yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Teguran itu menimbulkan satu respons dukacita yang mendalam, dan dukacita itu adalah dukacita ketika kita menyadari keadaan kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Namun suatu hari kita akan dihibur oleh Tuhan, dan penghiburan yang Tuhan berikan itu adalah penghiburan abadi. Sejujurnya, sampai pada tingkat seseorang meratap seperti ini, terus terang jarang terjadi, sebab orang harus melihat kesucian dan kekudusan Tuhan. Dan untuk melihat serta menemukan kesucian dan kekudusan Tuhan, seseorang harus memiliki dua hal.
Pertama, pengenalan akan Tuhan, yaitu pengetahuan tentang keagungan Pribadi-Nya. Hal ini bukan hanya diukur dengan parameter moral umum. Kesucian dan keagungan Pribadi Tuhan tidak bisa dan tidak cukup diukur dengan parameter moral umum. Kesucian Tuhan dan keagungan Pribadi-Nya itu luar biasa, dan kita harus belajar sampai menemukan keagungan Pribadi Tuhan dari apa yang ditulis dalam Injil, tulisan Rasul Paulus, Petrus, Yakobus, serta tulisan-tulisan pastoral para rasul Tuhan. Dari sana akan muncul pengertian tentang kesucian Tuhan di dalam pikiran kita.
Kedua, pengalaman pribadi. Seperti ketika Yesaya bertemu dengan Tuhan yang ujung jubah-Nya memenuhi Bait Allah, ia berjumpa dengan para serafim dan berkata, “Celakalah aku!” Padahal Yesaya adalah seorang nabi yang standar moralnya pasti lebih dari orang kebanyakan. Namun ketika ia berjumpa dengan kekudusan Tuhan, ia berteriak dan berseru, “Celakalah aku, aku orang yang najis bibir dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir.” Ternyata kesucian Tuhan membuat dia gemetar. Dan itu pula yang seharusnya membuat kita gemetar. Gereja tidak boleh mengarahkan jemaat untuk meratapi masalah-masalah duniawi dan fana, melainkan membimbing mereka kepada ratapan yang kudus—dukacita yang sesuai dengan kehendak Allah—yang oleh Tuhan disebut sebagai kebahagiaan apabila kita memilikinya. Oleh sebab itu, hal ini sejajar dengan kenyataan bahwa jika kita memiliki berbagai kesenangan hidup, apa pun bentuknya, maka Tuhan tidak akan menjadi kesenangan kita. Namun jika kita berkata, “Tuhan, Engkau satu-satunya kesenanganku,” dan sungguh-sungguh tidak berpaling kepada yang lain, maka kesenangan kita akan menjadi bulat.
Kita dapat hidup sebagai orang yang bermoral—menghormati orang tua dan menjauhi pembunuhan, pencurian, perzinaan, serta pelanggaran lainnya—namun tanpa berjalan dengan Tuhan, moralitas yang tampak baik itu justru dapat menumbuhkan kesombongan dan membuat kita merasa layak masuk surga, padahal keselamatan bukanlah hasil dari perbuatan baik. Jika Tuhan memberikan kita kasih karunia, maka kita harus menjadi sempurna, dan kesempurnaan itu harus mengikuti standar kesucian Tuhan.
Dengan demikian, kita tidak akan merasa hebat, sebaik apa pun moral kita, sebab standar kesucian kita adalah Tuhan. Maka kita terus melangkah dan terus melangkah. Ketika kita tahu betapa sulitnya mencapai hal itu, kita meratap dan memiliki dukacita—dan itulah dukacita yang berkenan kepada Tuhan.
Sebab jika kita memiliki banyak target duniawi, banyak kesenangan yang apabila tidak kita raih membuat kita susah hati, maka kita tidak akan memiliki dukacita yang sesuai kehendak Allah. Sebaliknya, jika kita memiliki banyak kesenangan dan ketika kita gagal meraihnya kita menjadi susah hati, maka kita pasti tidak mempersoalkan kesucian hati dan kebenaran di hadapan Tuhan secara benar.
Nilai salib Tuhan itu sangat mahal, maka harus diimbangi dengan kerelaan kehilangan nyawa. Kita tidak bisa menjadi Kristen yang tidak menyerahkan nyawa. Kasih karunia bukan untuk orang-orang yang setengah hati atau yang hanya sekadar ingin beragama demi menyelamatkan hidupnya. Camkan ini: kasih karunia bukan untuk orang yang tidak ekstrem dengan Tuhan. Iman kepada Tuhan adalah segalanya dan harus merenggut seluruh hidup kita, karena iman berarti kesediaan kita untuk tunduk pada kedaulatan Allah secara mutlak. Dengan iman seperti itulah kita dapat menanggapi anugerah atau kasih karunia Tuhan secara benar.