Skip to content

Meneguk Kehadiran Tuhan

Kalau kita mau hidup suci, menjadi istimewa di mata Allah, maka kita bisa menjadi biji mata Allah; bukan bermaksud supaya bisa membalas kejahatan orang, bisa memakai kuasa Tuhan untuk mencelakai orang. Tentu bukan itu maksudnya. Tetapi kita membutuhkan proteksi, kita membutuhkan perlindungan Tuhan dari segala hal. Yang kita hadapi yang pertama, kuasa kegelapan. Mengerikan karena melampaui kekuatan kita. Yang kedua, manusia lama; diri kita yang terus mendesak untuk dipuaskan. 

Yang ketiga, pengaruh jahat di sekitar kita. Yang keempat, malapetaka, bencana yang tidak membuat kita dewasa. Yang kelima, orang-orang yang berniat jahat. Pasti ada saja orang yang berniat jahat kepada kita. Kita minta perlindungan Tuhan, bukan supaya Tuhan menghukum orang yang berniat jahat terhadap kita. Tetapi kita hidup suci, supaya kita sejak di bumi menjadi kekasih, sahabat Tuhan. Sampai di kekekalan, kita pasti mendapat tempat di hadirat Tuhan. 

Banyak orang yang hidup dalam keadaan terpuruk. Kita dapat merasa hidup ini betul-betul menyakitkan. Pada umumnya juga banyak orang merasa gagal. Coba kita buat angket. Dari 100 orang, berapa orang yang mengatakan “Aku sukses, bahagia. Aku telah mencapai cita-cita?” Rata-rata orang berkata, “Hidup ini berat.” Tidak sedikit dari mereka yang kecewa. Mungkin dari 100, bisa 10 orang, 15 orang sudah berusaha untuk bunuh diri, lebih menyenangi mati daripada hidup. Ketika kita berjalan dengan Tuhan, ada kekuatan supranatural—karena Allah itu supranatural—yang menopang hidup kita, yang memampukan kita untuk bisa melewati semuanya. Sebesar apa pun masalah kita, pasti kita bisa lewati. Maka kalimat “bisa dilewati” itu kalimat ampuh. Kita bisa melewatinya karena Tuhan beserta kita. 

Kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela, kehidupan yang kudus di hadapan Allah, itu momentum terindah dalam hidup. Tidak ada momentum yang lebih indah selain kehidupan yang kudus, tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Seindah apa pun hidup yang bisa diraih seseorang, pasti akan berlalu. Bisa juga tidak mendatangkan berkat, rahmat, anugerah sama sekali. Tetapi kesucian hidup; hidup yang tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah, itu tidak pernah akan berakhir. Keindahan, keagungan dari kehidupan seseorang yang tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah, tidak akan berakhir dan akan berlanjut terus sampai pada kekekalan. 

Kita harus berjuang untuk memiliki kehidupan yang tak bercacat, tak bercela. Hal yang sering membuat kita atau banyak orang salah adalah perkataan. Perkataan, paling banyak membuat kita bersalah. Jadi kita bisa mengerti mengapa Yakobus berkata, “Orang yang tidak bersalah dalam perkataannya, dia sempurna.” Masalahnya, bagaimana kita bisa menjaga perkataan? Jaga apa yang masuk di dalam pikiran kita. Sebab kalau yang masuk dalam pikiran itu baik, bersih, benar, suci, yang keluar dari mulut kita pun juga begitu. 

Makanya jangan melihat apa yang tidak perlu kita lihat, jangan bergaul dengan orang yang tidak membawa kita kepada kekudusan atau kesucian; orang-orang yang tidak membuat kita menjadi takut akan Allah. Begitu kita bangun tidur pagi hari, kita mulai dengan berdoa. Karena itu akan memberi kepada kita pengaruh yang kuat sekali untuk kita bisa bergairah hidup suci. Kalau pagi dimulai dengan kopi tanpa doa, “hitam” terus hidup kita. Tidak salah minum kopi, tetapi meneguk” kehadiran Tuhan dalam doa, itu yang pertama dan penting. 

Jangan bangun pagi yang dipikir “kopi, berita, baca koran.” Bukan tidak boleh baca koran, membaca atau mendengar berita. Tuhan dulu! Bahkan berita-berita yang tidak perlu pun, tidak perlu kita dengar. Jangan bangun pagi yang dilihat gadget, dengan banyak sajian. Pikiran kita jangan diisi oleh hal-hal yang tidak membawa kita kepada kekudusan, jadi rusak hidup kita. Kesucian itu dibangun dari perkara kecil dan praktis. Hal ini harus serius kita harus lakukan, sejak kita membuka mata, bangun tidur. Gairah kita kalau sudah dirusak oleh berita, oleh berbagai kesenangan hidup, jadi tidak bisa kita hidup suci. Bangun tidur, hendaknya yang pertama yang kita lakukan adalah berdoa.

Jadi untuk bisa membangun kesucian hidup; hidup yang tidak bercacat tidak bercela, harus ada atmosfer yang melingkupi kita. Maka, harus dimulai dari doa pagi. Jadi, doa pagi itu perannya besar sekali. Sebenarnya, tidak cukup dengan doa pagi. Harus juga ada doa pribadi. Untuk bisa menopang berbagai pergumulan berat yang kita hadapi dalam kehidupan, kita harus ada doa pribadi dengan Tuhan, waktu khusus yang kita siapkan untuk mendengar suara dan tuntunan-Nya. Inilah yang kita harus perhatikan dengan sangat-sangat serius. Allah menghendaki kita mengakhiri sisa umur hidup ini dengan kesucian. 

Meneguk kehadiran Tuhan dalam doa, itu yang pertama dan penting.