Skip to content

Menaklukkan Diri

 

Perikop Lukas 18 berbicara mengenai doa. Tuhan Yesus menasihati agar orang percaya berdoa dengan tidak jemu-jemu. Doa bukan sekadar melipat tangan, menekuk lutut, dan meminta sesuatu, melainkan sebuah hubungan dengan Tuhan. Karena itu, dalam Lukas 18 juga dikatakan, “Apakah Allah menunda-nunda membenarkan orang-orang pilihan-Nya?” Tidak. Ia akan segera membenarkan mereka. Namun Yesus melanjutkan dengan pertanyaan yang sangat serius: “Akan tetapi, jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Artinya, adakah orang yang berani tetap tekun di tengah dunia yang gelap, dunia yang tidak memiliki standar sebagai anak-anak Allah, dunia yang semakin fasik, tetapi tetap mempertahankan integritas, tetap taat dan setia, serta memiliki iman atau percaya yang benar seperti yang Allah kehendaki?

Dalam perikop tersebut, kita melihat keberanian dan kegigihan seorang janda dalam menghadapi seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli kepada siapa pun. Janda itu mampu menaklukkan hakim tersebut. Pertanyaannya, mampukah kita menaklukkan diri kita sendiri di bawah kekudusan Allah, di tengah dunia yang fasik ini? Sejauh mana kita tekun, taat, dan setia? Sebab Allah ingin mendapati iman seperti itu. Pada dasarnya, orang yang tidak berani hidup suci dan tidak berani meninggalkan percintaan dunia menunjukkan bahwa ia tidak memercayai Allah. Kita harus bersikap sangat radikal: hobi kita hanya satu, yaitu Tuhan; harta kita hanya satu, Tuhan; kesenangan kita hanya satu, Tuhan; kebahagiaan kita hanya satu, Tuhan.

Ada berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita supaya kita mengalami bahwa Allah benar-benar nyata dan benar-benar hidup, serta supaya kita belajar menaruh percaya kepada-Nya tanpa dusta. Tuhan rindu bersahabat dengan kita. Ia menghendaki hubungan yang eksklusif dengan kita. Namun, untuk itu, kita harus memercayai-Nya tanpa kecurigaan sedikit pun, sehingga percaya kita kepada Tuhan menjadi percaya yang melahirkan hubungan eksklusif. Hubungan seperti ini hanya mungkin terjadi melalui proses. Masalahnya, tidak semua orang memperoleh proses seperti ini, karena hal itu bergantung pada seberapa sungguh seseorang mau dipercayai oleh Tuhan.

Ingat firman Tuhan dalam Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Masalahnya ada dua. Pertama, apakah kasih itu tetap konstan, atau pada titik tertentu berhenti? Kedua, seberapa besar kasih seseorang kepada Tuhan?

Mengasihi Tuhan adalah hal yang sangat pribadi dan berada dalam kedaulatan masing-masing orang. Tuhan memberikan kedaulatan itu kepada kita. Sejauh mana kita mau hidup suci dan sedekat apa kita mau hidup dengan Allah, semuanya kembali kepada pilihan kita sendiri. Tuhan tidak bersikap diskriminatif. Ia membuka pintu selebar-lebarnya; setiap orang dapat meraih sebanyak mungkin dari apa yang Allah sediakan. Firman Tuhan berkata, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga.” Ingatlah, kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup. Mengapa kita tidak meraih yang terbaik dari Tuhan, supaya kita memperoleh apa yang bernilai kekal? Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kumpulkanlah bagimu harta di surga, bukan di bumi.”

Jadi, percaya ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Keselamatan membawa seseorang kepada hubungan yang intim dan eksklusif dengan Allah, seperti yang diungkapkan dalam Yohanes 17:20–21, “Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya mereka juga ada di dalam Kita.” Lalu mengapa Tuhan membawa kita ke dalam keadaan-keadaan yang sulit? Ternyata, hal itu bukan hanya dialami oleh Abraham, Yusuf, Yesus, atau Paulus, tetapi juga oleh kita. Pertanyaannya, secara jujur, apa yang telah kita perbuat bagi Tuhan?

Tidak sedikit orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi membatasi hubungannya dengan Tuhan. Yesus berkata, “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Kualami; dan Aku menentukan bagimu Kerajaan, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku.” Bapa di surga rindu melihat orang-orang yang berani menaruh hidupnya sepenanggungan dengan Yesus—orang-orang yang setia dan taat.