Kita harus benar-benar siap. Kira-kira, kalau kita menghadap Tuhan, apakah kita sudah siap? Sejujurnya, kebanyakan dari kita belum siap karena kita tidak sungguh-sungguh memeriksa diri. Oleh sebab itu, kita perlu memiliki waktu untuk bermeditasi dan berdoa. Saat kita menghadap Tuhan, itulah waktunya kita memeriksa diri: “Apakah ada yang salah, Tuhan? Apakah masih ada kebiasaan-kebiasaanku yang keliru, Tuhan?” Namun ironisnya, banyak orang tidak peduli, karena Tuhan tidak terlihat—terlebih lagi perasaan-Nya. Padahal, jika kita percaya bahwa Tuhan itu hidup dan ada, maka kita harus memperhatikan perasaan-Nya.
Untuk itu, kita perlu “menghidupkan” Tuhan dalam hidup kita. Tuhan akan terasa “mati” bagi orang yang memandang-Nya mati, namun Tuhan hidup bagi mereka yang sungguh memandang-Nya hidup. Ini bukan hal main-main—perasaan krisis rohani ini sungguh tidak main-main. Sebagian besar orang percaya memang menghormati Tuhan, tetapi bagi mereka yang masih hidup dalam dosa, sering kali mereka tidak menjaga perasaan Tuhan. Kita memang tidak memaki Tuhan, namun dari tindakan kita, sering kali kita melukai-Nya. Datang ibadah setiap hari pun tidak menjamin kita masuk surga. Yang menentukan adalah bagaimana kita hidup setiap hari—dengan pikiran yang jernih dan hati yang tulus.
Masalahnya, jika seseorang sudah terlanjur rusak, akan sulit untuk diubah. Orang baik saja bisa rusak—apalagi orang yang memang tidak baik sejak awal. Namun jika kita menjadi pribadi yang menyenangkan Tuhan—yang mempesona hati Tuhan—maka Tuhan pasti akan melindungi orang-orang yang kita kasihi. Pikirkanlah Tuhan. Jangan terus meratapi diri, sebab kita ini berharga dan indah di mata Tuhan. Itulah yang penting, dan itulah harta kekal kita. Ketika seseorang sungguh-sungguh melihat kekekalan dan kemuliaan surgawi, barulah ia rela kehilangan apa pun demi kemuliaan itu. Bukan berarti kita mengabaikan masalah ekonomi, kesehatan, atau rumah tangga—semua itu tetap harus ditangani dengan tanggung jawab.
Namun justru dalam kehidupan sehari-hari itulah kita harus menunjukkan kesungguhan dalam mencari Tuhan. Perasaan krisis rohani ini harus dikaitkan dengan kenyataan bahwa waktu hidup kita sudah singkat. Maka jangan menunda. Orang muda pun tidak tahu kapan akan dipanggil Tuhan. Jangan membayangkan Tuhan secara keliru, seolah-olah Tuhan hanya mengurus soal uang, rumah tangga, atau kesehatan. Tentu Tuhan peduli akan hal-hal itu. Namun Tuhan jauh lebih peduli akan keselamatan jiwa kita. Jika kita mampu mempesona hati Tuhan—hidup dalam penurutan kepada kehendak-Nya—maka Tuhan pasti menyatakan diri-Nya dalam hidup kita. Ia akan menjadi nyata dalam keseharian kita.
Carilah Dia. Kita harus sungguh-sungguh mencari Tuhan. Tuhan tahu apakah kita serius atau tidak. Dan jika kita sungguh-sungguh, Tuhan akan menjadikan kita orang-orang istimewa bagi-Nya. Mulailah sekarang. Petakan hidup kita: kapan waktu berdoa, kapan mendengarkan khotbah. Jangan menonton hal-hal yang tidak perlu. Ubahlah hidup kita dengan mengubah rutinitas harian. Atur kembali waktu hidup kita—dan kita akan menjumpai Tuhan. Jangan menipu Tuhan dengan segudang pelayanan atau sejumlah persembahan. Tuhan rindu bersekutu secara intim dengan kita, ciptaan-Nya.