Gereja bukanlah showroom; gereja adalah bengkel. Gereja bukan mencari orang benar, melainkan mencari orang-orang berdosa dan rusak untuk diubahkan. Kita harus belajar menerima orang lain sebagaimana adanya. Tuhan Yesus sendiri menjamin bahwa Ia tidak akan membuang orang yang datang kepada-Nya (Yoh. 6:37). Tuhan menerima setiap orang. Namun kenyataannya, di gereja ada orang-orang moralis yang tidak memberi kesempatan kepada orang berdosa untuk mengenal kebenaran dan diselamatkan. Sesungguhnya kita harus menerima mereka. Kecuali jika orang itu meninggalkan kita dan nyata-nyata tidak mau bertobat, maka itu bukan lagi tanggung jawab kita. Tetapi selama mereka masih duduk mendengarkan khotbah dan mau menerima pelayanan, kita harus memberi kesempatan bagi mereka untuk diubahkan dan diselamatkan.
Sikap dan roh yang dipancarkan oleh “orang-orang kudus” di gereja sering kali membuat orang berdosa semakin tidak mau bertobat karena merasa gereja bukan tempat yang aman. Gereja yang benar membuat orang berdosa merasa aman—bukan aman untuk hidup dalam dosa, melainkan aman karena diterima supaya bisa diubahkan Tuhan. Jika kita bisa membuat orang baik menjadi lebih baik, itu tidak mengherankan. Namun jika kita bisa membuat orang berdosa menjadi baik, itu luar biasa. Banyak orang tidak betah di gereja karena merasa tidak disambut, lalu pergi dengan pemikiran bahwa mereka tidak layak berada di antara para moralis yang mengaku sebagai “orang-orang kudus.”
Ketika Tuhan Yesus menyambut orang berdosa seperti Zakheus (Luk. 19:1-10) atau perempuan berdosa yang mengurapi-Nya, tokoh-tokoh agama—para moralis yang merasa diri kudus—justru bersungut-sungut dan mempersalahkan-Nya. Namun Tuhan tidak memedulikan sikap mereka. Dengan integritas yang mengagumkan, Ia menerima orang berdosa. Pada akhirnya, orang-orang berdosa itu mewarisi Kerajaan Surga. Rasul Paulus menasihati orang percaya agar saling menerima seperti Kristus telah menerima kita (Rm. 15:7; Ef. 4:2), sehingga kita tidak saling menghakimi, menghukum, atau membinasakan. Kelemahlembutan seperti ini meredakan kegeraman.
Di mana pun kita berada, kita akan selalu berjumpa dengan orang-orang yang sukar kita terima, dan justru di situlah Tuhan hendak memperlebar hati kita. Jika dahulu hati kita sempit, Tuhan ingin memperluasnya. Seperti pedagang yang bersikap lemah lembut kepada konsumennya demi dapat menjual dagangannya, demikian pula kita harus berani bersikap lemah lembut supaya orang dapat diselamatkan. Mungkin tidak ada yang memberi kita mahkota di bumi karena sikap dan perjuangan itu, tetapi suatu hari Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan di Langit dan Bumi Baru.
Kita harus belajar menerima orang lain karena hidup ini singkat; jika terus menyimpan sakit hati, kepahitan, dan penolakan, persoalan kita tidak akan pernah selesai, bahkan akan berubah menjadi penyakit batin. Kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang tidak cocok dengan kita. Karena itu, kita harus mulai belajar lemah lembut di dalam keluarga terlebih dahulu, baru di luar. Kebesaran jiwa untuk menerima orang lain sebagaimana adanya akan mengalirkan kuasa yang memberkati. Hal ini tidak mudah, tetapi kita harus melatih diri memperbesar kapasitas jiwa supaya memiliki kebesaran hati seperti Tuhan Yesus Kristus.
Banyak pertikaian di gereja, perusahaan, dan rumah tangga terjadi karena ketidakmampuan menerima orang lain apa adanya. Milikilah kebesaran jiwa. Walaupun kita mampu membalas atau bertindak, tetapi kita memilih tidak melakukannya—di situlah kemerdekaan. Kita harus menjadi hamba yang melayani di mana pun berada. Keadaan sulit di bumi ini akan membuat kita kokoh dan kuat, serta membuat kita tidak terlalu melekat pada dunia ini dan akan lebih mudah “terbang” ke surga. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan pencobaan yang melampaui kemampuan kita. Tuhan itu adil; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan kepada siapa pun.
Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan Yesus dapat bergaul dengan orang-orang terbuang pada zaman-Nya. Ia tidak seperti para moralis yang semena-mena terhadap orang lain. Memang Tuhan tidak menyukai dosa, tetapi Ia mengasihi orang berdosa. Dalam kehidupan bermasyarakat—di gereja, tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan di rumah—kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sulit kita terima, bahkan seperti duri dalam daging. Lebih menyakitkan lagi jika “duri” itu adalah pasangan hidup kita sendiri. Namun kita masih dapat memilih menjadikannya sebagai sparing partner untuk saling menyempurnakan di dalam Tuhan. Di sinilah kita belajar menerima orang lain sebagaimana adanya, dan melalui itu kita akan mengalami kebebasan dan kemerdekaan yang sesungguhnya.