Skip to content

Memperbaiki Diri Sendiri Dahulu

 

Perhatikan! Kita tidak boleh berkompromi dengan dosa. Jika seseorang bersalah, kita boleh menegurnya. Namun itu pun hanya jika ada komando dari Tuhan. Masalahnya, sering kali tanpa komando Tuhan kita langsung mempersoalkan, mempersalahkan, mencela, dan menjatuhkan orang lain. Itu berarti kita tidak mengampuni, dan jika kita tidak mengampuni, maka kita pun tidak diampuni. Inilah yang dimaksud dengan ukuran yang kita pakai kepada orang lain akan dipakai juga kepada kita. Di sini terlihat bahwa menjadi orang Kristen sejati ternyata sangat berat. Kita bisa dirugikan, tetapi tidak berhak menghakimi. Bagaimana sikap kita? Itulah sebabnya ayat sebelumnya mengatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” yaitu orang yang rela diperlakukan tidak adil. Kekristenan memang luar biasa.

Tuhan Yesus sering mengkritik keras dan mencela orang-orang Farisi serta ahli Taurat. Apakah itu berarti Ia menghakimi? Tidak. Walaupun kelak Ia akan menjadi Hakim, selama berada di bumi Ia tidak menghakimi. Dasar kritik-Nya adalah, pertama, kebenaran Allah—bukan sudut pandang pribadi-Nya, melainkan dari Bapa; firman yang menegur. Kedua, Tuhan bermaksud memperbaiki mereka dengan menegur kesalahan mereka agar diluruskan. Apakah kita boleh melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tuhan Yesus? Ya, jika Tuhan memberi komando untuk menegur saudara kita yang bersalah. Bahkan itu menjadi panggilan atau kewajiban jika Tuhan memberi komando. Namun kita harus bijaksana dan tidak bermaksud mencari-cari kesalahan.

Matius 7:3 berkata, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Maksud Tuhan agar kita tidak menghakimi orang lain adalah supaya kita terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri. Setelah itu barulah kita dapat membantu orang lain memperbaiki diri. Jadi jelas bahwa panggilan Tuhan bagi kita adalah memperbaiki, bukan menghakimi. Dengan kata lain, ketika Tuhan berkata, “jangan menghakimi,” sebenarnya Ia juga berkata, “perbaikilah dirimu terlebih dahulu!” Seharusnya kita cepat menilai diri sendiri secara mendetail, tetapi lambat dan berhati-hati dalam menilai orang lain. Dalam menilai tindakan atau keadaan orang lain kita tidak boleh gegabah, sebab kita tidak memahami secara lengkap fenomena dan latar belakang tindakan orang tersebut. Kita bukan Tuhan. Itulah sebabnya kita tidak boleh dengan mudah menilai tindakan atau keadaan orang lain. Misalnya ketika kita melihat seseorang marah. Kita tidak tahu alasan mengapa ia marah. Ironisnya, sering kali kita menilai hanya dari sudut pandang kita yang sempit dan subjektif.

Sering kali kita melihat orang mengomentari tindakan orang lain tanpa memahami persoalannya. Komentar itu kemudian berkembang menjadi gosip, bahkan fitnah. Itu sangat jahat. Ada juga orang yang—karena belum dewasa—suka sekali mengomentari sesuatu. Jangan menilai orang dari tempat kita berpijak, tetapi nilailah orang dari tempat ia berpijak. Kita harus memahami alasan mengapa seseorang berada dalam keadaan tertentu, mengapa ia berbuat sesuatu, serta bagaimana latar belakang masalah yang sebenarnya. Masalahnya, kita sering bersikap subjektif dalam menilai orang lain sehingga hampir semua orang tampak salah di mata kita, seolah-olah hanya diri kita sendiri yang benar. Orang seperti ini sangat sulit diubah. Karena itu, jangan mudah berkomentar. Kita harus belajar mengunci mulut kita.

Sudah menjadi kebiasaan manusia pada umumnya untuk lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur, “Mengapa kamu melihat selumbar (kárphos = serbuk kayu) di mata saudaramu, tetapi tidak melihat balok kayu (dokos) di matamu sendiri?” Ada orang yang sampai tua pun masih memiliki sikap seperti ini. Ia tidak pernah mau disalahkan. Selalu ada alasan untuk membela perilakunya. Bahkan ketika sudah terpojok, ia baru meminta maaf. Itupun sering kali dengan marah dan tanpa kerelaan.

Jika kita adalah orang seperti itu, berarti kita bukan pribadi yang memiliki batin yang baik; hati kita pasti tidak lurus. Ciri orang seperti ini adalah ia tidak memiliki banyak teman. Di mana pun ia berada, ia selalu mengalami benturan dengan orang lain. Secara psikologis hal ini sangat jelas. Ia tidak memiliki teman, apalagi teman yang rela berkorban untuknya. Ini baru dilihat dari sisi umum, belum dari sisi rohani. Jika ia memiliki teman, biasanya temannya adalah orang yang ditindas, dapat diatur, atau yang mendatangkan keuntungan baginya. Berbeda dengan orang yang dapat menerima keadaan orang lain. Orang seperti ini biasanya memiliki banyak teman, bahkan ada teman yang rela berkorban baginya.