Di dunia hari ini, nyaris tidak kita temukan manusia yang serupa dengan Yesus. Dan inilah tantangan besar bagi kita—para teolog, para pemimpin gereja, dan juga jemaat Kristen—yang dipanggil untuk menjadi saksi di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana kita menyaksikan bahwa Yesus adalah Juru Selamat, Sang Penyelamat? Penyelamatan itu berlangsung melalui perubahan karakter dan watak kita, ketika kita dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Oleh sebab itu, kita harus berani hidup dalam ketidakwajaran. Kita harus berani hidup tidak wajar seperti manusia lain yang bukan umat pilihan. Jika kita masih memakai cara-cara hidup orang Kristen 400–500 tahun lalu dengan doktrin-doktrin yang hingga hari ini tetap dipertahankan, bahkan dibela mati-matian, kita tidak akan mampu menghadapi dunia yang telah menjadi sangat jahat. Kita harus membuka hati untuk mendengar insight, pewahyuan, iluminasi, atau pencerahan dari Allah, agar kita memperoleh firman yang segar dari hati Allah untuk menghadapi pengaruh dunia yang semakin rusak dewasa ini.
Sekali lagi, kehidupan masyarakat dan para teolog Barat yang gagal menyelamatkan gereja dan masyarakatnya hari ini merupakan peta sekaligus pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kita. Gereja-gereja yang dipimpin oleh pemimpin yang hanya mengenal Allah dari ruang akademis seminari atau sekolah tinggi teologi telah menciptakan atmosfer Kekristenan tanpa perjumpaan dengan Allah. Sementara kelompok gereja-gereja yang menekankan karunia-karunia Roh dan mukjizat sering kali hanya berfantasi mengenai Allah tanpa memperagakan kehidupan Yesus. Akhirnya, mereka jatuh ke dalam teologi kemakmuran, sehingga Kekristenan ditawarkan sebagai sarana untuk menyelesaikan persoalan hidup—penyakit, masalah ekonomi, jodoh, anak, dan sebagainya. Ironisnya, Kekristenan direduksi menjadi alat pemenuhan kebutuhan jasmani.
Padahal, sebenarnya Allah memakai gereja-gereja Kharismatik. Tuhan membangkitkan gereja Pentakosta untuk kembali kepada apa yang Tuhan Yesus ajarkan—kembali kepada gereja mula-mula. Namun, bukan sekadar bahasa roh atau karunia Roh saja, melainkan bagaimana mereka menjadi orang percaya yang benar-benar layak disebut Kristen, karena hidupnya seperti Kristus. Inilah yang bernilai dan berkualitas; inilah yang bersifat permanen.
Kita tidak berbicara dalam bahasa roh setiap saat, tetapi kita harus memperagakan kehidupan Yesus setiap saat yang karenanya orang menyebut kita “Kristen.” Jemaat mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, berani kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa demi Injil. Itulah sebabnya mereka disebut umat pemenang—lebih dari pemenang dibanding mereka yang unggul secara politik, ekonomi, jabatan, gelar, atau kekuasaan. Orang percaya menang karena tidak dapat dipisahkan dari kasih Kristus. Maka pertanyaannya bagi kita hari ini: ukuran kemenangan kita apa? Menang atas apa?
Secara khusus, bagi para hamba Tuhan, kitalah yang paling bertanggung jawab atas keadaan Kekristenan hari ini. Jika Kekristenan semakin merosot atau mengalami penyimpangan, maka gereja, pengurus sinode, dan para hamba Tuhanlah yang harus bertanggung jawab. Sebab kita—para pendeta, hamba Tuhan, dan pengurus sinode—dipandang oleh jemaat sebagai pihak yang mewakili Allah di dunia dan mengelola gereja-Nya.
Banyak jemaat masih memiliki pola pikir seperti penganut agama lain, yang menganggap rohaniwan, ulama, atau pemimpin agama sebagai mediator antara Allah dan umat. Karena itu, jika para pemimpinnya sendiri tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan hanya memiliki pengetahuan teologis semata, betapa rusaknya kehidupan iman jemaat yang dipimpinnya. Ketika dunia sudah sedemikian rusak, sementara jemaat tidak memiliki kepekaan rohani untuk memahami kebenaran, mereka akhirnya terseret ke dalam kehidupan keberagamaan semata. Mereka tidak hidup dalam Injil yang sejati—yaitu menghidupkan Yesus di dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia.