Apabila dikatakan bahwa kita dibenarkan, itu bukan hanya dianggap sekadar benar, melainkan diajar supaya benar-benar menjadi benar. Kita disucikan bukan hanya dianggap bahwa dosa kita telah diampuni dan dilupakan, melainkan kita benar-benar tidak memiliki potensi untuk berbuat dosa. Banyak orang Kristen merasa bahwa secara otomatis dan mistis mereka telah menjadi orang yang selamat. Padahal, Alkitab mengatakan bahwa malaikat-malaikat saja dibuang; maka kita jangan sampai menyia-nyiakan anugerah yang begitu besar yang diberikan kepada kita.
Satu aspek yang harus dimengerti ialah jangan ada orang yang merasa mempunyai sesuatu yang membuat ia layak di hadapan Tuhan. Keselamatan hanya oleh anugerah, itu benar. Jadi, jangan kita datang dengan merasa bahwa kita memiliki sesuatu. Kelakuan kita semua rusak, tetapi Tuhan mau mengampuni dosa-dosa kita. Namun, anugerah jangan dipahami secara salah. Bukan berarti bahwa jika darah Tuhan telah ditumpahkan, maka semua dosa manusia akan diampuni lalu masuk surga; tidak demikian. Semua orang harus menghadap penghakiman. Oleh sebab itu, sebelum penghakiman, orang-orang yang diselamatkan—yang dikembalikan ke rancangan semula—harus dirawat, dipulihkan, dan diperbaiki. Jadi, kalimat ‘Miskin di hadapan Allah’ mengandung panggilan untuk rela dibentuk karena menyadari bahwa dirinya belum seperti yang Tuhan kehendaki; sebab itu, setiap orang yang menerima Yesus harus menyerahkan diri sepenuhnya untuk diarahkan menjadi manusia seperti yang Dia inginkan.
Dengan kesadaran bahwa keadaan kita belum seperti yang Allah kehendaki, kita tertantang untuk berubah. Hal ini nanti akan bertalian dengan “berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran.” Paulus sendiri di dalam suratnya berkata, “Bukan seolah-olah aku telah sempurna, tetapi aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus.” Tuhan menangkap Paulus dan Paulus hendak menangkap apa yang Tuhan kehendaki untuk ditangkap. Sebab anugerah bukan berarti menghilangkan tanggung jawab manusia, lalu manusia menjadi boneka. Paulus hendak menangkap sesuatu, yakni menjadi serupa dengan Tuhan dalam kematian-Nya atau menjadi serupa dengan Tuhan Yesus, dan hal ini tidak terjadi secara otomatis.
Dengan kesadaran ini, kita memiliki kerelaan untuk dibentuk oleh Tuhan menjadi seperti yang Dia inginkan. Tugas kita adalah belajar. Dan kalau Tuhan berkata, “Akulah Guru dan Tuhanmu, lakukanlah apa yang Kulakukan,” maka pertanyaannya adalah: apakah kita sudah melakukan apa yang Tuhan lakukan? Kalau kita sadar bahwa keadaan kita belum sempurna, berarti kita harus terpacu untuk belajar terus-menerus hingga menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Suatu keadaan yang mengagumkan, di mana kita yang tidak dapat mencapai Sang Khalik yang menciptakan langit dan bumi—Sang Khalik Yang Mahakudus dan Yang Mahamulia—kemudian mempunyai Pengantara dan dapat kembali dipertemukan dengan Sang Khalik Yang Mahaagung; itu adalah hal yang luar biasa.
Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Tidak ada jalan yang disediakan oleh Allah yang melaluinya manusia dapat mencapai Yang Mahaagung kecuali melalui Tuhan Yesus Kristus. Apabila kita menyadari dan menghayati hal ini, maka apa pun yang kita miliki dan dapat kita berikan kepada Tuhan tidak akan seimbang dengan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Hal yang penting di sini adalah ketika kita benar-benar menghayati betapa mahal harga keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita.
Miskin di hadapan Allah artinya kita harus menyadari bahwa keadaan kita belum seperti yang Tuhan inginkan; ini adalah suatu panggilan untuk bersikap rendah hati, sekaligus di dalamnya terkandung panggilan untuk memiliki target. Rendah hati artinya menyadari keadaan kita belum seperti yang Tuhan kehendaki dan kita melihat satu target bagaimana menjadi seperti yang Tuhan inginkan. Menyadari anugerah yang begitu mahal dan berharga, kita akan berani mempertaruhkan segenap hidup kita—apa pun tanpa batas—untuk masuk dalam proses pertumbuhan rohani atau proses penyempurnaan sampai kita mencapai satu keadaan di mana kita menyenangkan hati Tuhan.