Menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan bukan berarti kita tidak melakukan hal-hal yang bersifat materi. Namun artinya, kesuksesan atau tujuan akhir kita adalah memuaskan hati Bapa. Bukan sekadar tidak melukai hati Tuhan, melainkan menyukakan hati-Nya, sehingga kita menjadi anak kesukaan Allah. Untuk itu, seseorang harus rela melepaskan hatinya dari belenggu keduniawian, seperti cinta uang dan haus kehormatan. Ia harus berani mengubah gaya hidupnya. Kegiatan sehari-hari harus jelas dan terarah. Hidup kita harus fanatik dalam mencintai Tuhan, sehingga dapat mewarnai orang-orang di sekitar kita.
Jika cinta kita kepada Tuhan bulat dan utuh, maka kehausan kita pun akan bulat dan utuh. Pada tahap inilah seseorang memiliki kehidupan ilahi yang benar. Memiliki kehidupan ilahi berarti mengalami pertumbuhan yang sejati sampai pada tingkat lahir baru, di mana tidak ada lagi keindahan dunia yang memikat hati, dan kita dapat berkata bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebutuhan hidup kita. Inilah yang dimaksud dengan haus dan lapar akan kebenaran. Dalam setiap peristiwa yang kita alami, kita harus melihat bagian mana yang hendak Tuhan bentuk. Hati kita harus jujur melihat kemunafikan dan dosa yang belum kita ubah. Milikilah hati yang hancur di hadapan Tuhan agar kita dapat merasakan hadirat-Nya setiap saat.
Kita harus berkomitmen bahwa tidak ada yang dapat membahagiakan kita selain Tuhan. Pernyataan Tuhan dalam Matius 5:6 menunjukkan bahwa hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan. Bukan kepuasan umum, melainkan kepuasan khusus yang tidak dialami manusia kecuali ia rela kehilangan apa pun. Ketika kita rela kehilangan apa pun dan siapa pun, kita memiliki segalanya, karena Tuhan adalah segalanya. Kita tidak mungkin haus dan lapar akan Tuhan tanpa berusaha mengerti kehendak-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan memuaskan hati-Nya. Di situlah kita mengalami kenikmatan dan damai sejahtera yang melampaui segala akal.
Firman Tuhan mengajar, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Hal ini tercapai jika kita haus dan lapar akan kebenaran. Jika kita sungguh haus dan lapar, mustahil kita tidak mengingini firman-Nya dan melakukannya. Mengerti firman dan melakukan kehendak-Nya menjadi kesukaan kita. Ketika kita menikmati apa yang menjadi kesukaan Tuhan, kita ikut menikmati sukacita bersama-Nya. Tuhan ingin setiap orang percaya menikmati kesenangan saat melakukan kehendak-Nya, bukan melakukannya dengan terpaksa atau hanya Tuhan yang bersukacita secara sepihak.
Memang pada awalnya kita seperti melukai daging sendiri ketika meninggalkan keinginan daging, materialisme, dan nafsu-nafsu kita. Namun pada waktunya, hal itu akan menjadi kenikmatan bersama Tuhan. Ingatlah kisah orang kaya dan Lazarus. Banyak orang kaya, berpendidikan tinggi, dan beruntung secara jabatan serta kenikmatan duniawi, sesungguhnya sedang digiring menuju kebinasaan kekal. Sebaliknya, Lazarus memperoleh kepuasan di dalam Tuhan. Ini menjadi isyarat agar kita memahami rahasia kehidupan yang sejati.
Kita tidak dapat menunggu jamahan Tuhan dan berharap berubah secara tiba-tiba; kitalah yang harus mengambil keputusan untuk berubah. Lepaskan diri dari setiap ikatan dosa, kepahitan, dan dendam. Roh Kudus akan menuntun kita mencapai tahap kecintaan kepada Tuhan yang bulat dan utuh, sampai kita dapat berkata bahwa hanya ada satu yang kucintai, dan tidak ada yang lain selain Tuhan.