1 Petrus 1:17
“Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.”
Setelah kita memahami bahwa Allah adalah Pribadi yang memiliki kehendak dan rencana, kita harus melangkah lebih jauh untuk menyadari bahwa di balik kehendak-Nya, ada “perasaan” Allah. Dalam Kejadian 6:5–6, Alkitab mencatat sebuah realitas yang mengharukan sekaligus menggetarkan: ketika kejahatan manusia menjadi besar di bumi, hati Allah menjadi pilu dan menyesal. Ayat ini membukakan tabir bahwa Allah bukanlah sebuah kekuatan impersonal yang kaku, melainkan Pribadi yang memiliki perasaan yang dapat terusik oleh sikap hidup ciptaan-Nya. Jika sikap manusia pada umumnya saja dapat memengaruhi perasaan Tuhan, terlebih lagi sikap hidup kita yang kini telah menyadari status sebagai anak-anak Allah.
Kita perlu memahami sebuah prinsip rohani yang sangat fundamental: sikap kita terhadap kehendak Tuhan akan membangkitkan respons tertentu dari-Nya. Ketaatan kita terhadap rencana dan keinginan Bapa akan membangkitkan perkenanan-Nya, sebuah senyum ilahi yang memberikan ketenangan batin. Sebaliknya, ketidaktaatan kita bukanlah sekadar pelanggaran aturan moral, melainkan sebuah pemberontakan yang melukai hati-Nya. Pemberontakan ini membangkitkan kemarahan dan dukacita-Nya. Sebagai anak-anak Allah, kita tidak boleh lagi bersikap sembrono atau mengabaikan perasaan Tuhan. Hidup dalam kesembronoan menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh mengenal Pribadi yang kita panggil “Bapa” tersebut.
Petrus mengingatkan kita dalam 1 Petrus 1:17 bahwa jika kita berani memanggil-Nya Bapa, maka konsekuensi logisnya adalah kita harus hidup dalam “ketakutan” atau kegentaran selama kita menjadi pendatang di dunia ini. Kegentaran ini bukanlah ketakutan seorang budak terhadap tuan yang kejam, melainkan ketakutan seorang anak yang sangat mencintai ayahnya sehingga ia merasa gentar jika tindakannya akan melukai perasaan sang ayah. Tanpa adanya kegentaran yang merambat dalam jiwa, kita sebenarnya belum menghayati hubungan kita dengan Allah secara benar. Bagaimana mungkin kita tidak gentar jika kita sadar bahwa Sang Khalik tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya, hadir di tengah-tengah kita, dan senantiasa responsif terhadap setiap tindakan kita?
Kesadaran akan Allah yang dekat dan responsif seharusnya mengubah cara kita memandang setiap detik kehidupan kita. Kita hidup di alam semesta yang diatur oleh Sang Penguasa yang memiliki pribadi dan kehendak. Dia memiliki rencana-rencana besar yang harus kita pedulikan dengan sangat serius. Ketika kita mulai menghayati kedekatan ini—bahwa setiap tarikan napas dan setiap keputusan kita diperhatikan oleh mata Bapa yang penuh perasaan—maka akan muncul kegentaran yang hebat di dalam diri kita. Kegentaran inilah yang akan menjaga kita dari perilaku yang menyimpang dan mendorong kita untuk selalu mencari apa yang menyenangkan hati-Nya.
Memiliki kegentaran ilahi adalah bukti nyata bahwa kita telah pulih ke martabat yang semula. Manusia yang mulia adalah manusia yang hatinya bergetar terhadap keinginan Penciptanya. Jangan biarkan jiwa kita menjadi tumpul dan abai terhadap perasaan Tuhan. Sebaliknya, marilah kita senantiasa memompa jiwa kita untuk peka terhadap detak jantung Bapa. Dengan hidup dalam kegentaran yang sehat ini, kita tidak hanya menjaga diri dari dosa, tetapi kita sedang membangun sebuah hubungan yang hidup dan dinamis dengan Allah. Inilah warisan rohani yang tiada taranya: berjalan di bumi dengan kesadaran penuh bahwa setiap langkah kita memengaruhi perasaan Sang Bapa di surga.