Skip to content

Memercayai Pribadi-Nya

 

Dalam hidup ini, segala sesuatu ada untuk kemudian meninggalkan kita. Ada akhir dari segala sesuatu. Itulah hukum kehidupan yang perlu kita sadari dengan sungguh-sungguh agar kita tidak ceroboh. Segala sesuatu datang untuk kemudian pergi. Yang menjadi persoalan bukanlah datang dan perginya, melainkan apa yang terjadi selama hal itu ada. Hari ini kita ada di dunia, tetapi suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini. Kita datang, lalu kita pergi. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa apa pun persoalan yang sedang kita hadapi saat ini tidak akan berlangsung selama-lamanya dalam hidup kita. Suatu hari, persoalan itu pasti pergi dari kehidupan kita. Namun, sekali lagi, pertanyaannya ialah: apa yang kita lakukan selama masa hidup kita di dunia ini? Sebab hal itulah yang menentukan kualitas akhir dari kembara hidup kita di dunia.

Dalam Yohanes 19:30 tertulis, “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Artinya, Ia telah mengakhiri tujuan mengapa Ia datang ke dunia dan hidup selama tiga puluh tiga setengah tahun. Ia menyelesaikan tugas-Nya, alasan mengapa Ia hadir di dunia ini. Dalam hidup ini, banyak orang dapat memulai sesuatu, tetapi tidak mampu menyelesaikannya. Banyak orang dapat memulai, tetapi tidak sanggup membawanya sampai tuntas. Komitmen Yesus untuk menyelesaikan tugas-Nya mengalahkan seluruh derita dan sengsara yang harus Ia alami. Kita sangat bersyukur karena kita menyembah Tuhan yang bukan hanya dapat berjanji, tetapi Tuhan yang setia.

Ia adalah Tuhan yang memegang komitmen sampai akhir dan tidak menyerah, sekalipun keadaan sangat sulit. Via Dolorosa bukan sekadar rute yang dilalui Kristus, melainkan juga rute perjalanan iman kita. Kekristenan yang sejati selalu melalui jalan ini, Via Dolorosa. Yesus sesungguhnya bisa berhenti dan mundur jika Ia menghendaki. Namun kita bersyukur karena Ia tidak mundur; komitmen-Nya tetap Ia pegang. Kita bersyukur karena Ia menyelesaikan tugas-Nya sampai akhir. Apa yang Ia derita tidak menghentikan-Nya untuk menyelesaikan panggilan yang Ia terima. Dan Ia menyelesaikannya dengan sempurna.

Sejujurnya, berapa banyak di antara kita yang mundur di tengah jalan? Hal ini terjadi karena kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu memiliki tujuan, dan tidak ada yang sia-sia dalam pengiringan kita kepada-Nya. Tuhan memperhitungkan semuanya. Jika Tuhan berurusan dengan seseorang dan Ia melihat bahwa orang itu sungguh-sungguh mau berurusan dengan diri-Nya, maka Tuhan akan membangun hubungan yang sangat intim dan akrab dengan orang tersebut. Tuhan menghendaki kekasih-kekasih-Nya memercayai Pribadi Allah tanpa sedikit pun keraguan. Kepada kekasih-kekasih-Nya inilah Tuhan sering dengan sengaja membawa mereka ke dalam keadaan yang sangat berpotensi menimbulkan keraguan terhadap Tuhan dan terhadap Pribadi-Nya sendiri.

Di sinilah kita memahami bahwa memercayai Pribadi Allah sepenuhnya bukanlah hal yang mudah. Tuhan menghendaki agar kita memercayai Pribadi-Nya melalui pengalaman langsung, bukan sekadar karena mendengar kesaksian orang lain atau melihat fenomena dalam kehidupan sesama. Karena itu, bagi kita yang memperoleh hak istimewa seperti ini, bersiaplah dan bersikaplah dengan benar. Jangan meragukan Tuhan. Tetaplah setia dan taat kepada-Nya.

Abraham, kekasih Tuhan, dibawa ke dalam situasi di mana Tuhan menjadi misteri bagi dirinya, bahkan seolah-olah menjadi ancaman. Abraham bisa saja berkata, “Allah yang kukenal tidak seperti ini. Mengapa Allah bertindak demikian? Mengapa Allah melakukan hal ini kepadaku?” Namun Abraham tidak berkata demikian. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Abraham taat.

Abraham telah lulus dalam berbagai ujian: menunggu kelahiran anak, mengalami masa-masa kekeringan, tidak kembali ke Ur-Kasdim, memilih pergi ke Mesir, bahkan nyaris kehilangan istrinya. Puncaknya adalah ketika Abraham harus mempersembahkan anaknya, Ishak. Namun Abraham tidak membantah. Luar biasa. Ia memercayai kebijaksanaan Allah, kecerdasan Allah, dan seluruh rancangan-Nya. Jika kita membaca Alkitab, begitu Abraham mendengar perintah itu, keesokan harinya ia segera mempersiapkan keledai, membawa para hambanya, dan mengajak Ishak. Ia tidak menunda. Abraham sebenarnya bisa saja menunda, dengan harapan bahwa Allah akan “mengubah pikiran-Nya”.

Yusuf, sejak muda, telah menerima penglihatan bahwa ia akan menjadi pemimpin besar, bahkan lebih besar daripada saudara-saudara dan orang tuanya. Namun perjalanan hidup Yusuf sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menuju penggenapan penglihatan itu. Ia justru dibawa ke dalam keadaan yang semakin menjauh dari penggenapan janji Allah, hingga akhirnya terkubur di penjara. Pernyataan Yusuf yang luar biasa muncul ketika ia menolak bujukan istri Potifar, “Bagaimana mungkin aku melakukan dosa yang besar ini terhadap Allah?” Yusuf tidak mencurigai Allah yang membawanya ke dalam kesengsaraan dan ketidakpastian. Ia tetap setia dan taat. Bagaimana dengan kita?