Skip to content

Membuktikan Bahwa Dia Hidup

 

Kalau kita renungkan, kita menjadi anak-anak Allah yang memiliki jagat raya—memiliki triliunan galaksi, di mana setiap galaksi memiliki ratusan miliar bintang atau matahari, dan setiap matahari memiliki banyak planet—yang semuanya menunjukkan bahwa segala kuasa ada di tangan Bapa. Lalu, kita kurang apa lagi? Kita mau mencari apa dalam hidup ini? Apalah artinya kekayaan dan kesenangan dunia yang sesaat? Jangan sampai gereja menjadi sekadar aktivitas keagamaan yang tidak benar-benar memotivasi orang untuk mengalami perjumpaan dengan Allah, karena para pemimpinnya sendiri tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Cakap berkhotbah, mampu memimpin organisasi, dan pelayanan bisa tetap berlangsung. Apalagi di Indonesia, yang masyarakatnya religius. Ber-Tuhan dianggap sebagai kewajiban, bahkan kebutuhan, karena Tuhan sering diposisikan sebagai sarana untuk meraih berbagai berkat jasmani.

Puji Tuhan, jika kita disadarkan oleh Tuhan, sehingga hari ini kita bisa berubah dan memilih untuk mengikut Tuhan Yesus dengan benar. Ayo, kita mengalami dan mencari Tuhan. Mari kita menantang diri kita sendiri: jika kita percaya bahwa Allah itu hidup, maka kita harus mengalami Dia secara nyata. Tuhan mengizinkan berbagai pergumulan dan persoalan yang berat, tetapi melalui semuanya itu kita diajar untuk membuktikan bahwa Dia hidup. Ketika kita berani menanggalkan kesenangan daging—walaupun pikiran daging kita tidak rela; ketika kita berani berkomitmen untuk tidak menoleh ke belakang dan tidak mengingini dunia—akan ada sesuatu yang terasa hilang dalam diri kita. Namun justru di situlah kita membuktikan bahwa Allah kita hidup, ketika Ia menggantikan semuanya dengan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang tidak dapat dijelaskan selain harus dialami sendiri.

Banyak pertanyaan memang tidak mudah terjawab. Tetapi jika Allah itu hidup, Allah dapat berbicara. Jika Allah berjanji menyertai kita sampai kesudahan zaman, dan janji itu diberikan dalam konteks perintah Yesus, “jadikan semua bangsa murid-Ku,” maka itu berarti Dia sanggup mengajar kita. Mari kita mempersoalkan hal itu, kita mempertanyakannya dengan jujur, dan kita mau mendengar langsung dari Sang Guru Agung kebenaran-kebenaran-Nya. Kita akan merasakan bagaimana Tuhan memberikan hikmat yang tidak pernah kering. Dan di situlah kita membuktikan bahwa Allah kita hidup.

Perjalanan bersama Tuhan—hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan setiap hari—membuat kabut di depan mata kita seolah-olah tersingkap, sehingga kita dapat melihat Kerajaan Surga dengan iman. Perjumpaan dengan Allah membuat kita betah duduk berjam-jam di kaki Tuhan, sekalipun Allah seakan-akan tidak merespons kita. Namun kita tahu bahwa Dia Mahamulia dan berhak memperlakukan kita demikian, dan kita pun harus merasa pantas diperlakukan seperti itu. Kita dapat duduk diam berjam-jam, walaupun Allah seakan-akan tidak memberikan respons apa pun, tetapi kita tetap betah berada di hadapan-Nya. Lalu kita berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu.”

Setiap kita harus belajar. Ini bukan hanya untuk rohaniwan atau pendeta. Setiap orang Kristen harus belajar, sebab setiap kita adalah anak-anak Allah yang akan mewarisi Kerajaan Surga dan kemuliaan bersama Tuhan kita, Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah membuat kita rela menderita dan rela melakukan apa pun demi kesukaan Allah. Kita rindu memiliki prestasi yang tinggi—prestasi yang ketika kita menutup mata, nilainya bersifat kekal. Bayangkan jika seseorang hidup dalam keadaan yang belum atau tidak berkenan kepada Allah, lalu dipanggil ke dalam kekekalan. Itu bukan hukuman lima atau sepuluh tahun yang bisa mendapat pengurangan, melainkan kekekalan di mana seseorang terpisah dari Allah selama-lamanya. Kita harus takut akan hal itu.

Tidak ada artinya apa pun yang kita miliki di dunia ini. Kita adalah anak-anak Allah yang akan mewarisi kemuliaan bersama dengan Yesus. Pengharapan itu menguduskan—dan itu benar. Yesus berkata, “Jangan bersukacita karena kamu dapat mengusir setan atau mengadakan mukjizat; bersukacitalah karena namamu tertulis dalam Kitab Kehidupan dan kamu mewarisi Kerajaan Allah.” Jika kita sungguh-sungguh mengetahui pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan kita, kita akan rela meninggalkan segala sesuatu. Namun banyak orang tidak berani. Mereka beralasan, “Yang lain juga berbuat demikian. Apa salahnya kalau aku juga melakukannya?” atau “Kali ini saja, nanti lain waktu tidak.” Akhirnya, mereka tidak pernah benar-benar lepas dari dosa-dosa itu.

Kita harus berani meninggalkan percintaan dunia. Perjumpaan dengan Allah akan menggiring kita kepada Kekristenan yang sejati—bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup: bagaimana kita hidup sebagai anak-anak Allah, dan Allah sebagai Bapa kita. Tidak ada kehidupan yang lebih indah daripada kehidupan yang diubahkan menjadi anak-anak Allah yang mampu menyenangkan hati-Nya.