Skip to content

Memberi Pengaruh

 

Jika potensi umum saja tidak kita miliki, maka kendaraan apa yang dapat dipakai Tuhan untuk menunggangkan potensi khusus yang akan Ia berikan? Jika kita tidak memiliki kemampuan apa pun, bagaimana Tuhan akan menitipkan karunia khusus yang hanya dimiliki oleh orang percaya? Oleh karena itu, pengajaran seperti ini seharusnya diberikan kepada jemaat sejak mereka masih muda; sejak remaja dan masa pemuda mereka sudah harus diajar. Kita tidak akan menjadi garam jika kita tidak memiliki keunggulan sesuai dengan potensi yang Tuhan berikan. Memang tidak semua orang memiliki keunggulan yang sama.

Mungkin bagi kita yang sudah berusia di atas 50 tahun merasa terlambat. Ya, sejujurnya memang terlambat, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Berserulah kepada Tuhan dan akuilah kesalahan kita. Mengapa pada waktu muda kita berhenti sekolah? Banyak orang akan beralasan bahwa orang tua tidak mampu. Padahal banyak orang yang jauh lebih tidak mampu, tetapi tetap dapat bersekolah karena memiliki tekad yang kuat. Cobalah kita memeriksa di mana letak kekurangan dan kelemahan kita. Jika kita tidak memiliki kelebihan, lalu dalam hal apa kita dapat menjadi garam dunia? Maka siapa pun kita, belum terlambat. Bagi yang merasa gagal, ingatlah bahwa Dia adalah Allah yang hidup, yang akan bereaksi ketika kita berjuang untuk berubah dan bertobat.

Jangan menganggap hal ini sederhana. Menjadi garam berarti orang percaya memiliki potensi dan nilai yang dibutuhkan oleh sesama, yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Hal ini menunjuk pada fungsi garam yang tidak dapat digantikan oleh sesuatu yang lain. Banyak orang Kristen berpikir bahwa orang percaya harus membawa pengaruh kebaikan: “Ayo menjadi garam.” Padahal jika hanya membawa pengaruh kebaikan, banyak orang non-Kristen juga dapat melakukannya. Bahkan mereka tidak kalah baiknya dengan kita, dan dalam banyak hal dapat menjadi jauh lebih baik.

Sering kali kita membatasi dan memandang secara dangkal pengertian tentang menjadi garam, yaitu hanya dengan berbuat baik kepada orang lain. Padahal mereka juga dapat berbuat baik. Tetapi apakah mereka garam? Tidak. Kata “kamu” yang dimaksud dalam perkataan Tuhan Yesus itu adalah orang percaya. Ayat ini ditujukan kepada orang percaya, yaitu anggota keluarga Kerajaan Allah. Jika hanya melalui suatu perbuatan baik seseorang dapat menjadi garam, bagaimana dengan orang non-Kristen yang dapat melakukan kebaikan yang sama? Banyak orang pun mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang baik. Ada yayasan yang membangun rumah bagi masyarakat yang tidak mampu; itu juga suatu bentuk kebaikan. Ada pula yang memberikan operasi katarak secara gratis, bahkan sampai operasi kanker. Ada orang dari daerah yang tidak mampu datang ke Jakarta dan dibawa menggunakan pesawat. Apakah itu garam? Sementara orang Kristen justru tidak melakukan hal tersebut. Atau jika ada yang melakukannya, jumlahnya tidak banyak.

Orang percaya harus dapat memberi pengaruh yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Pengaruh ini harus bersifat luas, bahkan mendunia. Pengaruh seperti apakah itu? Jika kita membaca Matius 5:10–12, konteksnya berbicara tentang penganiayaan: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Mereka mengalami penganiayaan yang sangat berat. Namun pada akhirnya nama mereka tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama. Artinya mereka membawa pengaruh bagi bangsa dan masyarakat pada zamannya, dan pengaruh itu diakui. Mereka memiliki pengaruh yang tidak dapat dilakukan oleh nabi-nabi jahat atau nabi-nabi palsu. Jadi ada sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Cobalah kita renungkan: bagaimana seorang anak tukang kayu, yang selama hidup-Nya hanya ditemani oleh orang-orang sederhana yang tidak berpendidikan tinggi, yaitu masyarakat jelata, mati sebagai seorang yang dianggap kalah di kayu salib dengan tuduhan menghujat Allah dan memberontak terhadap Kaisar, namun mampu mengubah dunia tanpa pedang. Jika bukan karena Tuhan, hal itu tidak mungkin terjadi. Ia tidak menghimpun kekuatan untuk menyerang kota-kota dengan menggunakan pedang.