Tidak semua orang yang datang kepada Yesus datang membawa pergumulan dirinya sendiri. Ada kalanya seseorang datang kepada Tuhan karena memikirkan orang lain. Ia berdoa bukan karena dirinya sedang sakit, tetapi karena ada orang yang sedang menderita. Ia menangis bukan karena masalahnya sendiri, tetapi karena melihat orang yang dikasihinya sedang berada dalam kesulitan. Inilah yang kita temukan dalam kisah seorang perwira dalam Matius 8:5–13. Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira kepada-Nya dan memohon pertolongan. Menariknya, ia tidak datang karena dirinya sakit, tetapi karena hambanya sedang terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan sangat menderita.
Perwira itu memiliki kedudukan. Ia adalah seorang yang memiliki otoritas dan kemungkinan besar mempunyai cukup banyak sumber daya. Namun, kedudukannya tidak membuatnya kehilangan kepedulian terhadap seorang hamba. Ia melihat penderitaan orang yang dipercayakan kepadanya dan tidak tinggal diam. Di sinilah kita menemukan sebuah teladan penting: kasih membuat seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dunia sering mengajarkan kita untuk berjuang demi kepentingan pribadi. Kita memikirkan kebutuhan, masa depan, keberhasilan, dan kenyamanan kita. Semua itu memang penting. Namun, kehidupan yang berpusat pada Kristus mengajar kita untuk melihat kebutuhan orang lain.
Perwira itu membawa pergumulan hambanya kepada Yesus. Ia menjadi seorang pendoa syafaat. Ia berdiri di antara kebutuhan orang lain dan pertolongan Tuhan. Ia mungkin tidak mampu menyembuhkan hambanya, tetapi ia tahu kepada siapa ia harus membawa pergumulan tersebut. Bukankah ini juga panggilan kita? Ada orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita yang mungkin sedang mengalami pergumulan, tetapi tidak mampu mengungkapkannya. Ada anggota keluarga yang sedang kehilangan harapan. Ada sahabat yang sedang menghadapi tekanan. Ada rekan kerja yang sedang mengalami masalah. Ada jemaat yang sedang berjuang dalam kesunyian. Mungkin mereka tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar, tetapi mereka membutuhkan seseorang yang mau peduli dan membawa mereka kepada Tuhan dalam doa.
Perwira itu tidak berkata, “Itu bukan urusanku.” Ia justru datang kepada Yesus. Hal yang juga menarik adalah respons Yesus. Ketika mendengar permohonan itu, Yesus berkata bahwa Ia akan datang dan menyembuhkan hambanya. Perhatian Yesus terhadap pergumulan seorang perwira menunjukkan bahwa Tuhan memperhatikan kebutuhan manusia, bahkan kebutuhan seseorang yang mungkin dianggap kecil oleh dunia.
Namun, perwira itu kemudian menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Ia berkata bahwa dirinya tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Ia percaya bahwa Yesus cukup berkata-kata dan hambanya akan sembuh. Di sini kita melihat bahwa kepedulian terhadap orang lain harus berjalan bersama dengan ketergantungan kepada Tuhan. Kita dapat membantu, mendampingi, menasihati, dan berdoa, tetapi kita bukanlah penyelamat mereka. Kita membawa mereka kepada Yesus.
Mungkin hari ini Tuhan sedang mengingatkan kita kepada seseorang. Jangan abaikan dorongan itu. Ambillah waktu untuk mendoakannya. Hubungi dia. Dengarkan ceritanya. Berikan penguatan. Jika memungkinkan, hadirlah dalam pergumulannya. Kita tidak selalu dapat menyelesaikan masalah orang lain, tetapi kita dapat membawa pergumulan mereka kepada Tuhan.