Perdamaian tidak cukup ditunjukkan dengan menjadi orang yang beragama Kristen dan setia pergi ke gereja. Ini adalah persoalan keadaan: apakah keberadaan kita memungkinkan rekonsiliasi dengan Allah. Jadi, bukan hanya soal status dibenarkan lalu otomatis bisa berdamai dengan Allah, melainkan keadaan hidup yang harus sungguh-sungguh menjadi benar.
Ada pula orang-orang Kristen yang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat, dalam arti telah meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan moral. Tadinya melakukan pelanggaran moral, lalu berhenti dari pelanggaran tersebut dan mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Padahal, pertobatan adalah langkah hidup setiap hari. Dalam bahasa Yunaninya, metanoia, yaitu perubahan pikiran yang membuat seseorang memiliki cara berpikir yang baru.
Cara berpikir yang berubah akan mengubah gaya dan cara hidup. Gaya dan cara hidup yang berubah akan terus berlanjut sampai pada perubahan kodrat, sehingga dari manusia yang berkodrat manusiawi menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Orang yang tidak semakin berkodrat ilahi, tidak semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah, tidak makin serupa dengan Yesus dan tidak menuju kesempurnaan seperti Bapa, tidak mungkin berdamai dengan Allah. Karena itu, tidak cukup seseorang berkata sudah bertobat pada tahun tertentu, lalu sekolah teologi dan menjadi pendeta. Jika karakternya belum berkarakter ilahi, ia tidak bisa “klop” atau berekonsiliasi dengan Allah. Keadaan hidup yang meleset (hamartia, Yun.) tidak menyukakan hati Tuhan, melainkan mendukakan hati-Nya. Oleh sebab itu, semakin tua, kita seharusnya semakin tidak meleset. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan ucapkan seharusnya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jika tidak, tidak akan pernah terjadi rekonsiliasi yang sejati.
Memang, bagi orang Kristen yang baru, ketika keberadaannya masih sering meleset atau bahkan masih melakukan pelanggaran moral, Tuhan dapat menunjukkan toleransi. Namun, jika seseorang telah belasan atau puluhan tahun menjadi Kristen, ia tidak bisa terus-menerus hidup seperti manusia pada umumnya. Ia harus mengalami perubahan kodrat. Pada umumnya, manusia masih mencari kesenangan diri sendiri dan tidak memikirkan perasaan Allah. Orang yang masih mencari kesenangan diri sendiri adalah orang yang mendukakan hati Allah. Sebaliknya, orang yang berusaha menyukakan hati Allah seharusnya berhenti membahagiakan dirinya sendiri. Namun, banyak orang berpikir bahwa dengan menyenangkan diri sendiri, ia akan bahagia. Padahal belum tentu. Itu adalah kesenangan palsu, yang korbannya adalah mendukakan hati Allah. Akibatnya, rekonsiliasi dengan Allah tidak pernah terjadi. Hal ini sejajar dengan kebenaran bahwa orang yang menemukan Allah akan menemukan dirinya sendiri.
Orang yang dapat menyukakan hati Allah sesungguhnya sedang menyukakan dan membahagiakan dirinya sendiri. Orang yang tidak percaya tidak akan berusaha menemukan, mengenal, dan menyenangkan hati Allah. Orang yang berhenti mencari kebahagiaan dari dunia ini akan mencari kebahagiaan di dalam Tuhan. Karena itu, langkah yang harus kita usahakan dalam hidup ini—dan harus kita mulai sekarang—adalah bagaimana segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga sungguh-sungguh menyenangkan hati-Nya. Allah tidak mungkin berekonsiliasi dengan orang yang tidak menyenangkan hati-Nya. Pada hakikatnya, kita memang diciptakan untuk Dia, untuk kesukaan dan kesenangan hati-Nya. Suka atau tidak suka, itulah tujuan penciptaan kita. Dan justru di sanalah kebahagiaan kita. Oleh sebab itu, jika kita menjadi orang Kristen, kita tidak mungkin lagi hidup secara “wajar” menurut standar dunia, sebab kita harus mulai hidup teosentris, bukan egosentris.
Allah ingin mengubah kita. Itulah sebabnya Ia memberikan Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Ia bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan menggarap hidup kita, mengerjakan kesempurnaan di dalam diri kita. Namun, banyak orang berpikir bahwa darah Yesus sudah menudungi mereka, sehingga Allah menerima mereka apa adanya dan membiarkan keadaan mereka terus seperti itu, yang penting darah Yesus telah “membungkus.” Pemahaman ini keliru. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Ada proses yang harus dijalani agar kita diubahkan. Melalui perubahan itulah kita dapat berekonsiliasi dengan Allah, menjadi selaras, “klop,” atau “krek” dengan Allah.
Orang tua mengasihi anak-anaknya. Ketika anak masih kecil, mengompol atau nakal sering kali tidak diperhitungkan; anak itu tetap dipeluk, dicium, dan diperhatikan. Namun, orang tua tidak menghendaki anaknya terus-menerus menjadi anak yang suka mengompol. Anak itu harus bertumbuh dewasa, memiliki kedewasaan seperti orang tuanya, dan dapat “klop” serta “krek” dengan orang tua. Demikian pula dengan kita. Agenda hidup kita satu-satunya adalah semakin sempurna dan semakin serupa dengan Yesus, sebab kita rindu dapat berjalan bersama Dia.