Yohanes 14:27
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”
Terang berarti kebahagiaan. Untuk melatih kebahagiaan tanpa bergantung pada sarana tertentu diperlukan suatu proses. Terlebih lagi bagi orang yang sudah memiliki banyak hal dalam hidupnya. Yang penting adalah bagaimana kita memiliki sesuatu, tetapi tidak terikat padanya. Hal ini tidak mudah. Ingatlah bahwa Iblis tidak dapat “dinikmati” tanpa fasilitas. Jika seseorang dapat menikmati Iblis, maka orang tersebut pasti telah menyimpang. Sebaliknya, Tuhan dapat dinikmati, dan apabila Tuhan dapat kita nikmati bahkan tanpa fasilitas apa pun, maka kita pasti memiliki damai sejahtera.
Iblis tidak dapat dinikmati tanpa sarana. Ia selalu mengaitkan dirinya dengan fasilitas atau materi. Oleh karena itu, orang yang sangat mengingini benda dan menikmatinya secara berlebihan sebenarnya sedang menjadikan benda tersebut sebagai berhala. Jika kebahagiaan kita hanya bergantung pada sarana atau materi, berarti hati kita telah terikat kepada dunia. Hal itu dapat menjadi bentuk perselingkuhan rohani.
Orang yang memiliki kebahagiaan karena Tuhan akan memancarkan terang itu kepada orang-orang di sekitarnya. Orang yang tidak terikat dengan dunia akan bermurah hati kepada sesamanya, sebab ia tidak menggantungkan keadaan jiwanya pada benda atau materi. Ia rela berbagi diri. Orang lain akan melihat bahwa kebahagiaan kita bukan berasal dari benda, melainkan dari Tuhan. Bahkan orang dapat bertanya, bagaimana seseorang dapat memiliki kebahagiaan seperti ini? Dan tanpa banyak perkataan kita dapat menunjukkan bahwa kita memiliki kekayaan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun dan siapa pun, yaitu Tuhan.
Paulus dapat berkata, “Bersukacitalah kamu!” bahkan ia menegaskan lagi, “Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” Padahal ketika ia menulis perkataan tersebut, ia sedang berada di dalam penjara. Secara manusiawi, seseorang yang berada di dalam penjara seharusnya tidak dapat bersukacita. Namun Paulus tetap dapat bersukacita. Inilah yang harus kita latih. Jangan menggantungkan kebahagiaan pada materi, melainkan pada Tuhan. Ketika Tuhan berkata, “Kamu adalah terang dunia,” itu berarti kita harus memancarkan kebahagiaan yang berasal dari Tuhan dan membagikannya kepada orang lain.
Sering kali Tuhan mengizinkan seseorang mengalami kondisi yang ekstrem, dan melalui kondisi tersebut Tuhan membawa orang itu kepada suatu tingkat kerohanian di mana ia dapat menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaannya. Dunia di sekitar kita adalah dunia yang telah rusak dan membentuk cara hidup manusia sedemikian rupa. Terlebih lagi pada zaman Perjanjian Lama, kebahagiaan seseorang sering kali diukur dari terpenuhinya kebutuhan jasmani. Keadaan hidup pada masa itu dengan mudah menggiring manusia untuk memiliki cara berpikir yang sangat duniawi.
Dalam kesaksiannya, pemazmur berkata, “Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Tentu kemuliaan yang dimaksud bukan kemuliaan duniawi seperti yang sering terlihat pada orang-orang fasik. Sebab pada kalimat berikutnya ia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Kita harus sampai pada prinsip hidup seperti ini. Hanya dengan prinsip tersebut kita dapat memenuhi firman Tuhan yang mengatakan, “Baik aku makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Tuhan.”
Yang celakanya adalah ketika seseorang hidup dalam kondisi nyaman—ekonomi baik, tubuh sehat, tidak mengalami kesulitan apa pun, dan segala sesuatu berjalan lancar—keadaan tersebut justru membuatnya melupakan Tuhan sehingga ia tidak mengalami proses pembentukan dari Tuhan. Seharusnya kita tidak perlu menunggu sampai Tuhan membawa kita ke dalam kondisi ekstrem baru kita memindahkan hati kita kepada Tuhan. Dalam keadaan yang makmur, subur, dan nyaman pun seharusnya kita sudah sungguh-sungguh mengarahkan hati kita kepada surga. Jika kita benar-benar menginginkannya, Tuhan pasti akan menuntun kita.