Memaksa Diri Berubah

Kita masih merasakan ketegangan karena kurva COVID yang belum juga berakhir. Banyak bahaya yang mengancam hidup kita: bencana alam, perang, dan berbagai bahaya mengancam kita. Manusia adalah makhluk yang rentan, sangat rentan. Orang yang tadinya sehat, tiba-tiba meninggal dunia. Hidup ini pun rentan. Mengemukakan hal ini bukan bermaksud menakut-nakuti atau mengancam. Kita harus berpikir logis, realistis, dan berakal sehat. Dan kita harus selalu dalam keadaan berkenan di hadapan Allah. Sebab, kita tidak tahu kapan kita menghembuskan nafas kita yang terakhir. Kita harus selalu memeriksa diri dan berjaga-jaga, supaya setiap saat kalau kita meninggal dunia, kita didapati benar-benar berkenan. Dan itu bisa kita usahakan. Bukan sesuatu yang tidak bisa kita capai. Ini bukan sesuatu yang bersifat spekulatif atau gambling. Ini sesuatu yang pasti bisa kita capai, kalau kita berjuang dan berusaha dengan sungguh-sungguh. 

Itulah sebabnya, kita harus memberi waktu untuk berdoa, datang ke gereja mendengar Firman. Tujuannya agar kita menjadi manusia sesuai yang dikehendaki Allah. Jangan ada dosa yang disimpan. Jangan ada kebencian, dendam, sakit hati. Kita bisa mengenali keadaan kita, kalau kita sungguh-sungguh mau mengenali. Dan Roh Kudus pasti memberi kita pengertian. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita untuk kita lakukan. Allah menghendaki kehendak-Nya dilakukan, tetapi Allah tidak memaksa. Kita masing-masinglah yang harus memaksa diri kita sendiri untuk hidup seturut kehendak Allah secara terus-menerus. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri untuk berkeadaan berkenan di hadapan Tuhan secara terus-menerus, dan akhirnya nanti secara otomatis kita dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Allah, sebab sudah menjadi irama hidup kita. Selama belum menjadi irama hidup kita, belum menyatu dalam diri kita, kita yang harus memaksa diri kita. Paksa diri kita untuk tidak berbuat salah dalam hal apa pun. 

Jadi, apa kata orang tentang kita, baiklah kita diam. Karena kita semua akan ada di pengadilan Tuhan. Tidak perlu membela diri. Yang nuraninya baik, bisa tahu ini benar atau salah. Yang nuraninya bengkok, pasti tidak punya kepekaan membedakan roh. Kita ini berjuang untuk benar. Tidak mudah. Kita harus memaksa diri kita untuk benar. Memaksa diri kita untuk berkenan di hadapan Tuhan. Memaksa diri kita untuk hidup suci. Memaksa diri kita untuk hidup tak bercacat, tak bercela, yang nantinya menjadi irama yang otomatis. Hidup kita harus begitu: memaksa diri. 

Kesucian itu mestinya bisa jadi irama. Melakukan kehendak Allah itu jadi irama. Tapi yang pertama, kita harus memaksa diri dulu. Dan tujuan keselamatan kita itu sebenarnya adalah perubahan hidup agar kita bisa berpikir, berperasaan, berperilaku sebagai anak-anak Allah. Dari kodrat dosa ke kodrat ilahi, yang secara otomatis berpikir, berperasaan seperti Tuhan, dan selalu sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini namanya benar-benar berstatus sebagai anak-anak Allah atau anggota keluarga Kerajaan Allah. 

Seharusnya kita tidak melakukan hukum karena perintah. Memang pada mulanya dipaksa begitu, tetapi lama-lama jadi irama. Kalau di dalam Injil diistilahkan sebagai ‘perubahan cara berpikir.’ Ini yang perlu kerja keras supaya benar-benar bisa mengalami perubahan kodrat. Sampai secara otomatis, kita bisa mengampuni musuh; otomatis tidak marah yang tidak perlu; otomatis tidak bisa genit lagi; otomatis tidak tertarik dunia. Tapi hari ini kita masih berkata, “dunia bagus sekali, ya.” Atau ketika melihat barang bagus, kita berkata dalam hati, “Kalau punya ini, pasti menyenangkan.” Tapi kita harus jujur dan sadar bahwa kita selama bertahun-tahun sudah terbiasa dengan cara berpikir, gaya hidup dengan segala hasrat dan nafsu-nafsunya yang meleset. Walaupun bukan pelanggaran moral yang memalukan, tapi tidak di dalam ketepatan standar kesucian Allah. Tidak mudah; bukan sesuatu yang mudah untuk mengubah karakter atau kebiasaan hidup ini. 

Itulah sebabnya di dalam Injil Matius 11:28 dikatakan, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” ini bukan untuk semua orang. Bukan untuk yang letih lesu karena belum dapat jodoh, kesepian, tertindas terus, belum punya rumah, dan lain sebagainya. Memang keadaan sulit bisa menggiring kita ke Tuhan. Letih lesu dan berbeban berat di ini adalah letih lesu dan berbeban berat dimana orang membutuhkan Tuhan untuk belajar. Kalau kita membaca, konteksnya di sini adalah hal rohani bagi orang kecil (Mat. 11:25, “… karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”) “Kecil” di sini adalah nepios; orang tulus yang mencari kebenaran. Orang yang mencari kebenaran adalah orang yang mengalami keletihan, kelesuan, berbeban berat menyangkut kehidupan rohani. Jadi kalau pengertian kita “letih lesu” ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, kita salah sebab maksud kedatangan Tuhan Yesus bukan untuk itu.

Kita yang harus memaksa diri kita sendiri untuk berkeadaan berkenan di hadapan Tuhan, sampai akhirnya menjadi irama hidup kita.