Memaknai Momentum

Dalam perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Allah, sebagai umat pilihan yang dikasihi oleh Bapa, ada momentum-momentum yang penting yang Tuhan izinkan kita alami atau kita jalani, yang melaluinya Tuhan mau mengarahkan kita kepada-Nya atau mengarahkan kita kepada rencana-Nya yang mulia. Kita harus menangkap momentum itu. Yusuf, anak Yakub, mengalami banyak penderitaan hidup; dibuang ke dalam sumur, dijual menjadi budak, masuk penjara. Masa depan hidup anak Yakub ini gelap gulita. Tetapi ternyata, itu adalah momentum penting; momentum yang Tuhan izinkan dialami Yusuf untuk mengangkatnya, yang kemudian menjadi awal dari keselamatan seluruh keluarga Yakub, dan perjumpaan Yakub dengan anak kesayangannya ini. Allah memiliki banyak jalan, dan jalan-jalan-Nya sering tidak kita pahami. Tetapi, Allah tidak pernah mendatangkan kecelakaan kepada kita, sebab rancangan-rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera (Yer. 29:11-13).

Daud mengalami puncak penderitaan bukan hanya pada waktu dia menghadapi Goliat, tetapi ketika nyawanya seperti telur di ujung tanduk sebab dia dikejar, diburu nyawanya oleh Saul. Dia dilawan oleh bangsanya sendiri. Semua pasukan Saul memburu nyawanya. Tetapi ternyata, itu adalah momentum Daud sebagai latihan untuk suatu saat dia menjadi raja Israel. Demikian pula dengan gua singa Daniel, dapur perapian yang dinyalakan 7 kali lipat bagi Sadrakh, Mesakh, Abednego; semuanya adalah momentum-momentum yang mengubah hidup. Setiap kita memiliki momentum itu, kalau kita bisa membaca jejak Tuhan di dalam hidup kita. Momentum yang Tuhan izinkan kita alami, yang mengarahkan kita kepada Tuhan, kepada kemakmuran Tuhan; bukan kemakmuran duniawi. Yang mengarahkan kita kepada penggenapan rencana-rencana Allah yang indah bagi kemuliaan nama-Nya dan bagi keindahan hidup kita.

Mari kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup yang pernah kita alami, yang sebenarnya itu merupakan panggilan Tuhan untuk mengarahkan kita kepada rencana agung-Nya. Kalau kita telah menyia-nyiakan momentum itu, hari ini kita bisa berbalik. Masih ada kesempatan selama kita masih memiliki kehidupan ini. Ironis, banyak orang yang menyia-nyiakan momentum berharga yang merupakan berkat kekal yang Allah berikan, sehingga hidupnya tidak mengalami perubahan secara signifikan; tidak mengalami perubahan yang berarti. Rencana-rencana agung Allah yang didesain-Nya, tidak tergenapi dalam hidupnya. Sebab kalau kita menyia-nyiakan momentum yang berharga itu, maka kita tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan tidak jarang yang malah menjadi lebih menjauh dari Tuhan. Dan ingat, momentum itu tidak terulang lagi. Itu mahal, itu kasih karunia,

Orang yang terkonek dengan Tuhan, pasti memiliki kegentaran yang dahsyat, ia pasti tidak bisa hidup dalam dosa. Kesucian Allah akan mengejar dan “menghanguskan” dirinya. Masalahnya, kalau jujur, tidak banyak orang yang benar-benar konek dengan Tuhan. Karena hal ini dianggap tidak terlalu penting, bahkan dianggap mistik oleh teolog-teolog yang rasional. Ironi, banyak kepercayaan dan agama suku yang memiliki keyakinan yang berumur ribuan tahun, tetap eksis hari ini. Mereka bisa memaknai apa yang terjadi sebagai tindakan allah mereka, dewa mereka. Maka, mereka masih tetap setia dalam liturgi agama mereka. Tapi orang yang mengaku percaya Tuhan Yesus, malah tidak setia dan tidak memaknai tindakan Allah. 

Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. Masalahnya, apakah kita percaya dan mengalami janji-Nya? Atau kita hanya memaknai peristiwa-peristiwa tertentu sebagai tindakan Allah? Dari cara kita memaknai seluruh peristiwa hidup dan memercayakan diri menuruti kehendak Allah, hal tersebutlah yang akan membuktikan Allah kita adalah benar. Jangan lupa, agama lain pun punya kesaksian-kesaksian seperti itu, dan mereka bisa memelihara agamanya selama ribuan tahun, bahkan ada yang berani membela agamanya dengan darah dan nyawa. Rela tidak menikah, rela memberikan harta dan nyawanya, dan mereka bisa memaknai bahwa allah mereka benar. Mereka bisa membuktikan allahnya benar dengan versi dan cara mereka. Sekarang bagaimana kita bisa mengalami Tuhan, dan membuktikan Tuhan itu benar-benar hidup?

Perjumpaan dengan Allah harus terjadi dalam hidup setiap hari, setiap saat, melalui setiap kejadian dan peristiwa, dan benar-benar setiap kita harus memiliki kesaksian di dalam batin, “Allahku hidup.” Sampai kita memiliki kegentaran akan Tuhan. Tidak bisa tidak, dia akan hidup benar, hidup suci. Kalaupun dia salah, dia akan balik bertobat. Di matanya, dunia menjadi tidak menarik. Dia akan rela mengorbankan apa pun demi pekerjaan Tuhan. Dia yakin ada Kerajaan Surga yang indah. Dia melihat dari jauh dengan iman, seperti Abraham yang melambai-lambai pada kota yang akan datang. Maka, orang-orang seperti ini, tidak takut meninggal dunia. Dengan demikian, jangan pernah berhenti untuk mencari Allah. Sebab sering kali tanpa kita sadari, Iblis mencuri hati kita sehingga kita tertarik dengan keindahan dunia. Kita senang mendapatkan pujian, kita mengharapkan kedudukan, kita memimpikan kenyamanan, kita lupa bahwa dunia ini bukan rumah kita. Buktikan dan alami bahwa satu-satunya Allah yang benar itu Elohim Yahweh, dan Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan yang benar, yang pernah mati, tapi bangkit, Dia hidup, Dia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Jadi, bukan sekadar sebuah teori yang dikemas dalam khotbah, seminar, menjadi jurnal ilmiah, menjadi buku yang ditulis dan bahan diskusi, melainkan Allah adalah realitas yang benar-benar kita alami.

Setiap kita memiliki momentum yang Tuhan izinkan kita alami, yang mengarahkan kita kepada Tuhan, kalau kita bisa membaca jejak Tuhan di dalam hidup kita.