Skip to content

Memahkotai Tahun dengan Kebaikan Tuhan

 

Ada keindahan yang khas dan syahdu di setiap penghujung tahun; bukan hanya berasal dari gemerlap lampu hias atau sukacita pesta pergantian tahun, melainkan dari sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Momen seperti ini mengajak kita menoleh ke belakang, menyusuri kembali lorong waktu selama dua belas bulan terakhir, dan dengan penuh kekaguman menyadari betapa besar kasih Tuhan yang setia menuntun setiap langkah kita.

Mazmur 65, yang dilantunkan oleh Daud, menghadirkan gambaran mulia tentang Tuhan sebagai Raja Agung yang dengan penuh kedaulatan “memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu; jejak-Mu mengeluarkan lemak” (Mzm. 65:12). Setiap hari yang kita lalui, setiap hembusan napas kita, termasuk di dalamnya setiap tantangan yang kita hadapi, semuanya merupakan bagian dari mozaik indah karya penyertaan-Nya yang penuh hikmat dan kasih.

Ketika Daud menulis mazmur ini, penting untuk diingat bahwa ia tidak sedang hidup dalam kenyamanan istana atau bebas dari badai kehidupan. Ia sangat akrab dengan rasa takut dikejar-kejar musuh, pedihnya dikhianati orang terdekat, serta pahit dan sesaknya hidup dalam pelarian. Konteks kehidupan yang berliku inilah yang membuat pengakuannya begitu dahsyat dan menggetarkan. Di tengah segala ketidaksempurnaan hidupnya, Daud mampu melihat dengan mata iman dan berseru bahwa Tuhanlah yang memahkotai tahunnya dengan kebaikan.

Pernyataan ini mengajarkan kepada kita sebuah kebenaran penting: kebaikan Tuhan tidak bergantung pada suasana hati kita atau situasi yang kita alami. Dia selalu baik—dari awal hingga akhir tahun—bahkan ketika penglihatan kita terhalang oleh kabut kesulitan. “Jejak-Mu mengeluarkan lemak” (atau “kelimpahan,” menurut terjemahan NIV: abundance) berbicara tentang penyertaan dan pimpinan Tuhan yang menghasilkan buah melimpah dan menyegarkan jiwa kita.

Oleh karena itu, menutup tahun dengan hati yang bersyukur pada hakikatnya adalah tindakan pengakuan iman. Tindakan ini berarti dengan rendah hati menyadari bahwa semua yang kita miliki—baik waktu, kesehatan, maupun keluarga—semata-mata adalah anugerah Allah. Memang tidak semua hal berjalan sesuai dengan skenario yang kita tulis dalam agenda harapan kita, namun iman yang dewasa percaya bahwa semuanya berjalan sesuai dengan rencana Tuhan yang lebih besar dan terbaik, dimana kadang kita baru memahami hal itu setelah peristiwa berlalu, saat kita menoleh ke belakang (retrospeksi) dan melihatnya dari perspektif yang lebih utuh.

Bersyukur di penghujung tahun juga berarti melepaskan masa lalu dengan damai. Jika sepanjang tahun ini ada kesalahan yang kita sesali, kegagalan yang menimbulkan luka, atau kata-kata yang terlanjur diucapkan, inilah saat terbaik untuk mempercayakan seluruh hidup kita kepada kasih karunia Allah yang memulihkan. Kita memang tidak dapat memutar kembali waktu untuk memperbaiki segalanya, tetapi kita dapat datang kepada Pribadi yang penuh rahmat. Ia mengampuni, memulihkan, dan memberi kekuatan yang baru. Dengan demikian, kita dapat memasuki tahun yang baru tanpa beban dan luka lama. Oleh anugerah Allah, kita diizinkan memulai dengan hati yang dibasuh, bersih, dan penuh pengharapan akan kasih setia Tuhan yang selalu baru setiap pagi.

Tahun 2025 mungkin telah mengajarkan kita banyak hal: tentang ketekunan di tengah proses yang panjang, pentingnya kesabaran dan keteguhan hati ketika doa-doa terasa tidak dihiraukan, serta betapa berharganya kehadiran Tuhan dalam setiap detail hidup kita. Hari ini, sebelum kita melangkah dengan penuh antisipasi ke tahun 2026, marilah kita mengambil waktu berdiam diri untuk menyambut undangan Tuhan.

Berkontemplasilah di hadapan-Nya; ingat dan catatlah berkat-berkat Tuhan yang tak terhitung. Lihatlah mahkota kebaikan-Nya yang indah dengan mata rohani—bagaimana Ia meletakkannya di atas perjalanan satu tahun ini. Melangkahlah ke depan dengan keyakinan teguh bahwa jejak kaki-Nya di tahun mendatang akan terus mengeluarkan kelimpahan: segala berkat rohani yang tersimpan di dalam surga bagi mereka yang mengasihi-Nya.