Skip to content

Melangkah di Tengah Ketidaktahuan

 

Kejadian 12:4

“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”

Allah memanggil Abram untuk keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, menuju suatu tempat yang belum ia ketahui. Secara manusiawi, panggilan ini dapat dipandang tidak masuk akal, sebab Abram diminta meninggalkan tanah kelahiran, lingkungan sosial, serta rasa aman yang telah mapan, tanpa kepastian arah dan masa depan. Namun, Abram bersedia melakukannya. Ia keluar dari zona kenyamanannya karena percaya bahwa Allah yang memanggilnya tidak mungkin keliru. Respons Abram ini menjadi teladan yang menginspirasi orang percaya untuk berani menaati Allah di tengah ketidaktahuan.

Dalam keterbatasan manusia memahami kebesaran dan kemahakuasaan Allah, sejatinya manusia sebagai ciptaan sepenuhnya bergantung kepada Allah yang berdaulat atas hidupnya. Rentang kehidupan manusia yang terbatas—sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh tahun—merupakan kesempatan untuk menata hidup dalam ketaatan dan kesetiaan penuh kepada Allah sebagai bentuk pengabdian yang nyata kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian, ketaatan tidak dapat dilepaskan dari kesadaran akan keterbatasan manusia dan supremasi kehendak ilahi.

Tidak mudah memahami Allah dalam seluruh kemahakuasaan-Nya sebagai Pencipta dan Pemilik alam semesta. Sering kali, Allah yang berdaulat tidak menerangi seluruh jalan hidup manusia secara sekaligus, melainkan hanya memberikan terang secukupnya untuk satu langkah ke depan. Ia lebih sering digambarkan sebagai pelita kecil yang menerangi jalan setapak langkah demi langkah, bukan sebagai lampu sorot yang langsung menyingkap seluruh lintasan kehidupan. Oleh sebab itu, ketaatan menuntut keberanian untuk melangkah secara bertahap, tekun menjalani proses, dan konsisten belajar mempercayai Allah. Ketika Allah telah memulai rencana-Nya dalam kehidupan seseorang, respons yang tepat bukanlah keraguan atau kecurigaan, melainkan kesediaan untuk terus taat.

Kisah perjalanan iman Abram yang melangkah di tengah ketidaktahuan menyimpan pelajaran hidup yang sangat bernilai. Dalam Kejadian 12:1, Allah berfirman, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Perintah ini disampaikan tanpa penjelasan detail. Allah tidak menyebutkan nama negeri tujuan, tidak memberikan peta perjalanan, tidak menjelaskan jarak tempuh, maupun kondisi yang akan dihadapi. Alkitab hanya mencatat satu perintah yang tegas: pergi.

Situasi ini menjadi krusial karena salah satu hambatan terbesar dalam ketaatan adalah rasa takut terhadap masa depan yang tidak pasti. Ketaatan sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan “zona nyaman”, baik dalam bentuk relasi keluarga, kebiasaan hidup, kesenangan pribadi, maupun ego dan perasaan diri. Seperti Abram yang harus meninggalkan negerinya dan sanak keluarganya, orang percaya dipanggil untuk melangkah menuju “zona iman”, yakni kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada tuntunan Allah. Perintah Allah tidak pernah bersifat sewenang-wenang atau tanpa tujuan. Di balik perintah yang tampak sulit menurut perspektif manusia, selalu terdapat maksud ilahi, solusi, dan janji yang melampaui perhitungan rasional.

Hal ini ditegaskan melalui janji Allah kepada Abram dalam Kejadian 12:2–3, di mana Allah berjanji menjadikan Abram bangsa yang besar, memberkatinya, memasyurkan namanya, dan menjadikannya saluran berkat bagi seluruh bangsa di bumi. Janji tersebut menunjukkan bahwa ketaatan dan penggenapan rencana Allah tidak dapat dipisahkan. Namun, janji itu hanya menjadi nyata ketika perintah Allah ditaati terlebih dahulu. Dalam praktik kehidupan beriman, tidak jarang orang lebih tertarik pada janji Allah daripada ketaatan kepada perintah-Nya. Banyak yang ingin menjadi berkat dan menikmati berkat, tetapi enggan membayar harga ketaatan. Padahal, ketaatan merupakan jembatan yang menghubungkan janji Allah dengan realitas penggenapannya. Kesediaan Abram untuk mengeksekusi perintah Allah tanpa syarat menunjukkan ketaatan yang berkenan di hadapan Allah.

Kejadian 12:4 kembali menegaskan bahwa Abram tidak mengajukan keberatan, tidak menunda, dan tidak menuntut jaminan. Ia melangkah dengan segera. Sikap ini memperlihatkan bahwa ketaatan yang ditunda berpotensi berubah menjadi ketidaktaatan, bahkan pemberontakan. Abram membuktikan bahwa mempercayai Pribadi yang memberi perintah jauh lebih penting daripada mengetahui secara rinci ke mana ia akan pergi. Ketaatan tidak berarti bahwa seluruh jalan hidup telah terlihat dengan jelas. Ketaatan berarti bersedia melangkah karena percaya bahwa Allah telah melihat jalan tersebut secara utuh. Selama jalan itu berasal dari kehendak Allah, persoalan jarak, kondisi, kenyamanan, atau bahaya bukan lagi faktor penentu. Allah berjanji menyertai mereka yang berjalan dalam ketaatan.

Oleh karena itu, ketidaktahuan tentang masa depan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan perintah Allah pada masa kini. Ketaatan hari ini merupakan kunci yang membuka pintu bagi hari esok. Dalam perspektif iman, melangkah di tengah ketidaktahuan bukanlah tindakan gegabah, melainkan ekspresi kepercayaan yang dewasa kepada Allah yang setia menuntun umat-Nya.