Penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus—karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus—harus diterima dengan iman. Dan iman itu tidak sama dengan sekadar pengakuan status Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Iman bukan hanya aktivitas nalar atau pikiran, melainkan tindakan. Oleh karena kesalahan pengertian tersebut, secara de facto atau kenyataannya, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum diselamatkan atau belum benar-benar diperdamaikan dengan Allah. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Berilah dirimu didamaikan.” Kalau sampai Paulus mengatakan demikian, berarti harus ada usaha dari pihak manusia untuk menciptakan atau membangun perdamaian tersebut.
Untuk memahami hal ini, kita harus terlebih dahulu mengerti apa yang dimaksud dengan “diperdamaikan.” Apa artinya? Perdamaian berarti rekonsiliasi dengan Allah. Rekonsiliasi adalah tindakan untuk memulihkan hubungan yang sudah putus, rusak, atau retak dari dua pihak agar terjalin kembali seperti semula atau sesuai dengan maksud hubungan itu diadakan. Hal ini selaras dengan pengertian keselamatan, yaitu usaha Allah dalam proses mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah semula. Maksud dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula adalah supaya manusia berada dalam keadaan yang memungkinkan, atau berpotensi, memulihkan hubungan dengan Allah. Yang salah bukan Allah, melainkan manusia. Dan manusia berada dalam keadaan tidak mampu melakukan rekonsiliasi atau berdamai.
Puji Tuhan, keselamatan merupakan inisiatif dari pihak Allah. Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat pendamaian atau rekonsiliasi tersebut terjadi secara otomatis. Kedatangan Tuhan Yesus membuat kita dianggap benar terlebih dahulu, walaupun kita belum benar, lalu dibawa kepada Bapa di surga. Agar hubungan itu benar-benar pulih, manusia yang telah berkhianat harus mengubah diri. Dalam rekonsiliasi dengan Allah, yang harus melakukan perubahan adalah manusia, karena manusialah yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Allah tidak kehilangan kemuliaan-Nya; manusialah yang kehilangan kemuliaan-Nya. Itulah sebabnya, dalam proses keselamatan, orang percaya harus mengenal hakikat Allah dengan benar dan harus berusaha dengan segala perjuangan untuk memiliki kodrat-Nya (2Ptr. 1:3–4).
Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 5:9–10, Paulus mengatakan, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Mengapa harus berkenan? Apakah supaya bisa diselamatkan? Tentu tidak. Keselamatan adalah inisiatif Allah. Allah menyediakan jalan keselamatan—“bukan hasil usahamu” (Ef. 2:8–9)—melainkan karena iman. Iman adalah respons terhadap karya keselamatan Allah tersebut.
Jika orang-orang Kristen “diparkir” dengan pengertian, “kamu sudah didamaikan, kamu sudah selamat,” lalu dalam liturgi gereja yang kita ikuti dan lagu-lagu yang kita nyanyikan kita memuji dan menyembah Allah, mengagungkan Dia karena keselamatan yang telah Dia berikan sehingga pendamaian dianggap telah terjadi, hal itu tidak salah. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita sudah menjadi manusia yang memiliki potensi hubungan yang harmonis dengan Allah? Sebab untuk itu, kodrat kita harus berubah. Itulah isi dari perjalanan hidup orang Kristen. Kita, orang percaya, harus mengubah diri agar dapat mengimbangi Allah dalam sebuah rekonsiliasi.
Sederhananya, kita bermusuhan dengan seseorang sehingga kita berkelahi, berkonflik, ribut, atau berantem dengannya, lalu didamaikan agar memiliki hubungan seperti semula, atau sesuai dengan maksud tujuan hubungan itu diadakan. Itu berarti hubungan tersebut harus terus dipelihara. Tidak seperti orang yang berkelahi di jalan, setelah didamaikan lalu berpisah. Dengan Allah, kita harus terus bersekutu sebagai anak, dan Allah adalah Bapa kita. Rekonsiliasi hanya dapat terjadi jika ada perubahan.