Skip to content

Meja Lama sebagai Tempat Kesaksian

 

Matius 9:10

Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.

Pertobatan yang sejati tidak hanya mengubah hubungan seseorang dengan Tuhan, tetapi juga mengubah cara ia memandang orang-orang di sekitarnya. Setelah dipanggil untuk mengikuti Yesus, Matius mengadakan perjamuan di rumahnya. Ia mengundang para pemungut cukai dan orang-orang yang selama ini menjadi lingkungan pergaulannya. Matius telah menerima panggilan yang mengubah hidup, dan sekarang ia ingin teman-temannya berjumpa dengan Pribadi yang sama.

Menarik bahwa Matius tidak memulai kesaksiannya dengan berkhotbah kepada orang banyak. Ia membuka rumahnya, menyediakan meja, dan membawa teman-temannya mendekat kepada Yesus. Rumah, harta, dan jaringan relasi yang dahulu mungkin dipakai untuk kepentingan diri, kini digunakan untuk pekerjaan Allah. Inilah salah satu tanda perubahan hidup: segala sesuatu yang kita miliki memperoleh tujuan yang baru. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa manfaatnya bagiku?” melainkan, “Bagaimana ini dapat dipakai untuk membawa orang kepada kebenaran?”

Perjamuan itu mengejutkan para pemimpin agama. Dalam masyarakat saat itu, makan bersama atau duduk semeja menandakan penerimaan dan persekutuan. Para pemungut cukai dianggap pengkhianat, sedangkan “orang berdosa” dipandang berlawanan dari garis kehidupan religius yang pantas. Karena itu, ketika Yesus makan bersama mereka, orang Farisi menilai bahwa Ia telah melanggar batas yang seharusnya dijaga. Sejatinya, justru di meja itulah tampak karakter Kerajaan Allah. Orang yang selama ini dipinggirkan memperoleh kesempatan mendengar panggilan keselamatan. Batas sosial tidak dibiarkan menghalangi belas kasihan, tetapi kebenaran juga tidak diturunkan agar semua orang merasa nyaman. Mereka diterima untuk mendengar panggilan, lalu dipanggil untuk meninggalkan kehidupan lama. Meja persekutuan menjadi pintu menuju pertobatan, bukan tempat untuk merayakan dosa.

Kehadiran Yesus di antara orang berdosa tidak berarti Ia menyetujui dosa mereka. Seorang dokter mendekati orang sakit bukan karena ia menganggap penyakit sebagai keadaan yang baik, melainkan karena orang sakit membutuhkan pertolongan. Demikian pula, Yesus hadir untuk memanggil mereka keluar dari kehidupan yang melawan kehendak Allah. Belas kasihan-Nya bukanlah toleransi terhadap dosa, melainkan kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat dan mengalami pemulihan.

Di sini terdapat keseimbangan yang harus dijaga oleh setiap murid. Kita tidak boleh hidup sedemikian eksklusif sehingga hanya merasa nyaman bersama orang yang sudah seiman, sepaham, dan dianggap baik. Jika terang menjauh dari tempat gelap, bagaimana mereka yang berada dalam kegelapan dapat melihat jalan? Namun, kita juga tidak boleh bergaul tanpa kewaspadaan sampai kembali terpengaruh oleh kehidupan lama. Kita hadir bukan untuk menyesuaikan diri dengan dosa, melainkan untuk membawa kehadiran dan kebenaran Tuhan.

Matius menjadi jembatan karena teman-temannya mengenal dirinya. Mereka dapat melihat bahwa panggilan Yesus bukan teori. Orang yang dahulu duduk di rumah cukai kini meninggalkan pekerjaannya dan mengambil arah hidup yang baru. Kesaksian yang paling kuat adalah kehidupan yang sungguh-sungguh mengalami perubahan. Jika karakter kita tetap egois, tidak jujur, mudah melukai, dan mencintai dunia, undangan kita kepada orang lain akan kehilangan wibawa. Karena itu, jangan memahami keselamatan hanya sebagai urusan pribadi antara kita dan Tuhan. Orang yang telah menerima anugerah memiliki tanggung jawab untuk menjadi jalan agar orang lain mendengar kebenaran. Siapakah “para pemungut cukai” di sekitar kita—orang-orang yang mungkin tidak akan datang ke gereja, tetapi masih bersedia datang ke rumah, berbicara, makan, atau bekerja bersama kita? Apakah mereka menemukan kasih dan kebenaran melalui kehidupan kita?

Kesaksian seperti ini tidak harus dimulai dengan kegiatan besar. Kita dapat menyediakan waktu untuk mendengarkan orang yang terluka, mengundang seorang teman berdiskusi tentang iman, menolong tanpa mengharapkan balasan, atau menceritakan perubahan yang Tuhan kerjakan dalam diri kita. Yang penting, hubungan itu diarahkan kepada perjumpaan dengan Yesus, bukan sekadar menjadikan kita pusat perhatian. Periksalah pula penggunaan rumah, pekerjaan, pengaruh, kemampuan, dan sumber daya kita. Jangan sampai semuanya hanya dipakai untuk memperbesar kenyamanan diri. Seperti Matius, serahkan apa yang ada di tangan kita menjadi ruang bagi pekerjaan Allah. Orang yang telah dijamah oleh panggilan Tuhan tidak akan menyimpan anugerah itu bagi dirinya sendiri. Anugerah yang benar-benar mengubah kita akan menjadikan seluruh hidup kita jalan bagi orang lain untuk berjumpa dengan Yesus.