Skip to content

Mau Dididik

 

Jadi tidak ada pengesahan sepihak, seakan-akan secara ajaib atau otomatis kita langsung menjadi anak-anak Allah. Tidak demikian. Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengerjakan keselamatan sampai kita memiliki tanda sebagai anak-anak Allah. Betapa malangnya orang-orang Kristen yang merasa sudah sah menjadi anak-anak Allah hanya karena beragama Kristen. Padahal kita dapat melihat kelakuan mereka yang sering kali lebih buruk daripada orang non-Kristen. Jangankan masuk Rumah Bapa atau menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, menjadi anggota masyarakatnya saja bisa membahayakan.

Ibrani 12:5–8 berkata: “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah engkau menganggap enteng didikan Tuhan dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.’ Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi jika kamu bebas dari ganjaran yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak gampang.”

Jika kita melihat dengan teliti, kita dapat memahami bahwa ada orang yang mau diajar dan ada yang tidak mau diajar. Di ayat sebelumnya dikatakan, “jangan putus asa dan jangan menganggap enteng didikan Tuhan.” Ternyata ada orang yang menganggap enteng didikan Tuhan, dan orang seperti itu adalah orang yang tidak dapat dididik. Jika kita ingin menjadi pangeran dalam Kerajaan Allah, maka kita harus dididik untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Sekolah kehidupan kita berlangsung melalui seluruh pengalaman hidup yang kita jalani. Dari hari ke hari, melalui berbagai pengalaman hidup, Tuhan menyempurnakan kita. Jika kita memiliki atmosfer duniawi, kita tidak dapat dibentuk oleh Tuhan karena kita melihat segala sesuatu dengan kacamata duniawi. Karena itu mari kita beralih ke atmosfer surgawi, sebab kita ingin menjadi sempurna. Kita harus fokus dengan benar pada hal ini sehingga kita dapat menjalani sekolah kehidupan dengan baik dan mengalami Tuhan secara signifikan.

Ibrani 12:9–10 berkata: “Selanjutnya, dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”

Jika orang tua kita di dunia ini mendidik kita, maka Bapa di surga juga mendidik kita. Untuk menjadi baik tidak terjadi secara otomatis; kita dipukul dan diajar oleh orang tua kita. Demikian pula menjadi anak-anak Allah tidak terjadi secara otomatis; kita akan “dipukul” oleh Bapa di surga. Kalimat “mengambil bagian dalam kekudusan-Nya” berarti kita memiliki kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan menjadi sempurna seperti Bapa. Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa dalam kekristenan tidak ada sulapan atau cara instan. Namun tanpa kita sadari, mekanisme instan sering diajarkan kepada jemaat seolah-olah itulah cara mendekat kepada Tuhan. Padahal hal itu justru membuat jemaat menjadi bodoh. Ini keliru dan sangat salah. Tuhan tidak mengajarkan cara yang bersifat perdukunan atau instan; sebaliknya, semuanya berlangsung melalui proses bertahap, natural, dan logis. Yang paling merusak adalah ketika para pendeta mengajarkan jemaat dengan pola seperti ini, misalnya: “Saya doakan anakmu supaya pintar dan naik kelas.”

Demikian pula dengan kesempurnaan. Dahulu kita sering berdoa, “Tuhan, buatlah aku suci, buatlah aku seperti Yesus, ubahlah hatiku.” Tetapi hal itu tidak bisa terjadi secara instan. Semua harus melalui proses. Kita boleh berkata, “Aku mau menjadi seperti-Mu, Bapa, ubahkan aku.” Namun perubahan itu tidak terjadi seperti sulap—dari kucing langsung menjadi kelinci. Tidak bisa demikian; semuanya harus melalui proses. Jadi ketika Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa,” maknanya adalah kita harus berubah. Kita memang dapat menjadi sempurna, tetapi melalui proses. Tuhan menekankan sikap batin. Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, artinya kehidupan dan perilaku yang dimilikinya harus melampaui hukum yang berlaku, sebab orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa.

Sebagaimana Tuhan katakan sebelumnya dalam Matius 5:20, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Di sini Tuhan Yesus mengajar kita untuk sungguh-sungguh memiliki kehidupan yang luar biasa dalam perilaku. Kehidupan yang bermoral tinggi bukan karena diatur oleh hukum atau berada di bawah tekanan hukum. Pada akhirnya, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun selain oleh Allah sendiri.