Dari pihak Allah, Ia memberikan tuntunan Roh Kudus, mendesain keadaan untuk menolong kita merdeka dari diri sendiri, karena kalau pola pikir kita belum diubah, maka kita tidak merdeka dari diri kita sendiri. Sedangkan dari pihak kita, kita harus mengasihi Tuhan. Dan mengasihi Tuhan itu bertahap; proses bertumbuh juga. Kualitas cinta kita kepada Tuhan harus bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan ini, berjalan secara simultan. Sementara firman yang diberikan Tuhan kepada kita makin keras, makanannya makin keras, peristiwa-peristiwa hidup makin menggigit, terkadang makin menyakitkan. Perjumpaan dengan Tuhan makin intensif, bertumbuh. Kecintaan kepada Tuhan juga bertumbuh.
Ibarat kirbat atau tempat anggur, tidak boleh bocor. Jika sampai kirbat kita bocor, itu artinya masih ada kesenangan. Orang yang masih punya kesenangan, tidak mungkin meninggalkan dirinya. Semakin dia tidak punya kesenangan apa pun dalam hidup dan mengarahkan diri kepada Tuhan, cintanya makin bulat dan bejananya makin tidak bocor. Namun kalau bocor, kita akan diberi tahu oleh Roh Kudus. Mencintai Tuhan itu membahagiakan. Menjadikan Tuhan kebahagiaan kita, itu membahagiakan sekali. Apa pun yang terjadi, tidak akan mengganggu jiwa kita. Sebab kita bisa mengerti yang difirmankan Tuhan, mengerti yang dikatakan: “yang kuingini Engkau saja. Apa pun yang terjadi, yang kuingini Engkau saja.”
Namun orang yang bisa sampai tingkat ini, jarang. Sejujurnya, kita masih ada bocornya. Kalau kita masih tersinggung, kita masih sakit hati, berarti kita masih “bocor.” Kita masih punya keinginan yang bukan berasal dari Tuhan, itu bocor. Hal ini berat, apalagi untuk orang-orang muda. Tetapi orang-orang muda, kalau nekat, sungguh-sungguh, itu bisa. Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya, di mana kita mendengar firman yang murni, kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, dan Tuhan memproses lewat peristiwa-peristiwa hidup, Tuhan mau kita melepaskan manusia lama kita. Kita yang menanggalkan. Namun tidak ada cara mudah, apalagi otomatis. Tidak ada.
Di dalam Efesus 4:22 firman Tuhan mengatakan, “bahwa kamu, berhubungan dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” “Nafsu” di sini bukan hanya nafsu seks, nafsu makan, atau nafsu amarah, melainkan apa pun gairah yang ada pada kita—hasil, buah, atau akibat dari apa yang kita lihat, kita dengar, kita serap dari lingkungan. Itu adalah manusia lama kita. Maka kita harus menyerap sebanyak-banyaknya dari Tuhan—kebenaran firman yang murni dan hadirat Tuhan.
Dari keputusan seseorang, dari cara bicara, dari sikap, dari reaksi-reaksinya, menunjukkan apakah dia sudah merdeka dari dirinya sendiri atau belum. Orang yang suka berbantah, berkilah, adu argumentasi, punya berbagai alasan, mau menang sendiri—walaupun dengan cara yang halus—menyerang dengan cerdas dan diam-diam kepada orang lain, itu manusia lama. Dan kita mengerti itu, karena sejujurnya, kita masih seperti itu. Namun kita tidak punya pilihan, kita harus meninggalkan manusia lama. Sebab kalau tidak, seperti yang difirmankan: “darah dan daging tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga.” Maksudnya, kedagingan atau “darah” di situ adalah spirit atau gairah dari dunia ini. Kita yang harus menanggalkan manusia lama—tidak dengan mudah atau secara otomatis.
Maka, kalau kita menanggalkan manusia lama, “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Jadi, Allah sudah punya pola—manusia baru itu bagaimana. Dan itu yang dikenakan oleh Yesus. Dan itu yang harus kita kenakan. Jadi, pada akhirnya kita harus berkata: “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.”