Dalam Matius 10:28, Tuhan Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Rasa takut kepada Tuhan bukanlah rasa takut seperti maling melihat polisi, bukan pula rasa takut seorang terdakwa di depan meja hakim, melainkan takut karena menghormati dan mengasihi Tuhan. Kadang-kadang, dari cara orang memuji dan menyembah Tuhan saja sudah terlihat seberapa ia takut akan Tuhan.
Jadi, kalau orang tidak mengerti kebenaran, maka di gereja yang dipersoalkan adalah, “Masalahmu apa? Bawalah kepada Tuhan.” Ironisnya, banyak orang takut akan masalah hidup, tetapi tidak takut akan masalah kekekalan. Padahal, bagi orang yang mengerti kebenaran, semua masalah hidup dapat diselesaikan—bahkan sebelum mati pun Tuhan dapat membereskannya—asal kita hidup bertanggung jawab. Ada hukumnya, ada tatanannya. Yang tidak akan selesai dengan sendirinya adalah masalah kekekalan dan keselamatan abadi; hal inilah yang harus digumuli.
Kita belajar bahwa supaya kapal tidak tenggelam, kita harus membuang muatan. Demikian juga dengan hidup kita; agar kapal hidup kita tidak tenggelam, kita harus membongkar muatan yang tidak perlu. Maksudnya, jangan kita terikat pada percintaan dunia. Terlalu banyak orang percaya bahwa Tuhan itu baik dan berkuasa, tetapi sejatinya mereka tidak memiliki pengenalan akan Pribadi-Nya, rencana-Nya, dan maksud ilahi-Nya. Jika hanya soal pemenuhan kebutuhan jasmani seperti makan dan minum, dewa apa pun dapat melakukannya. Namun, keselamatan abadi hanya dimiliki oleh Allah Bapa dan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang dapat memperkenalkan Allah Bapa selain Tuhan Yesus, dan kita memiliki Tuhan Yesus.
Hari-hari ini banyak terjadi penyesatan. Jika kita hanya membicarakan hal-hal yang baik dan nasihat-nasihat yang bagus, banyak motivator yang mampu melakukannya. Tetapi jika berbicara soal kesempurnaan dan surga, hanya firman Tuhanlah jawabannya. Paulus berkata, “Karena pengenalan akan Tuhanku lebih mulia daripada semuanya, oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah.” Kata “sampah” dalam bahasa Yunani adalah skubalon, yang menunjuk bukan sekadar kertas buangan, melainkan kotoran hewan. Jadi, supaya kita memperoleh Kristus, harus ada barter.
Yang membuat kita tidak dapat memiliki Kristus adalah Iblis. Di balik yang kelihatan, ada manuver Iblis. Iblis mencegah orang menjadi sempurna. Orang jahat—seperti penjudi, pemerkosa, dan pezina—jika tidak bisa ditahan untuk tidak pergi ke gereja, Iblis tidak mempermasalahkannya. Mereka boleh tetap ke gereja, asalkan tidak menjadi aktivis. Tetapi jika mereka tetap menjadi aktivis pun, Iblis tidak selalu mencegah; ia hanya membuat mereka tidak perlu total, tidak perlu melepaskan semuanya. Iblis tahu bahwa jika kita melepaskan semuanya, kita akan memperoleh Kristus.
Itulah barter yang dimaksudkan: apabila kita melepaskan semuanya, kita akan memperoleh Kristus. Oleh karena itu, banyak orang Kristen rajin ke gereja—menjadi aktivis, bahkan pendeta—namun tetap membatasi diri dan tidak melepaskan segala sesuatu; sesungguhnya mereka tidak memperoleh Kristus. Paulus berkata, “Melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.” Itulah prinsip barter.
Kita memang sangat sulit melepaskan semuanya. Karena itu, kita harus berkata, “Jagai aku, Tuhan, jangan sampai aku tidak mengingini Tuhan Yesus dan tidak mampu melepaskan semuanya.” Perlu diperhatikan bahwa percaya kepada Tuhan seperti anak-anak percaya kepada orang tua: menuruti apa yang diperintahkan. Tuhan mengajar kita bahwa Allah itu baik dan perkasa—itu benar. Tetapi Allah juga mengajar kita untuk melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Seperti yang Ia perintahkan kepada pemuda kaya, “Juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Orang muda kaya ini telah melakukan hukum; kebenarannya berdasarkan perbuatan hukum, bukan kepercayaan kepada Pribadi Tuhan. Ia telah menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tetapi ia menolak dan tidak dapat percaya kepada Pribadi Tuhan.
Berbeda dengan Abraham yang disuruh keluar dari Ur-Kasdim dan ia pergi. Abraham disuruh mempersembahkan anaknya dan ia melakukannya. Namun, lebih dahsyat lagi Tuhan Yesus yang berkata, “Biarlah kehendak-Mu yang jadi.” Dan Tuhan Yesus sungguh-sungguh taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.