Kita mesti bersikap realistis, berjaga-jaga, dan waspada bahwa oknum kuasa kegelapan tidak pernah berhenti bekerja untuk menghalangi orang-orang percaya menemukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kuasa kegelapan akan melakukan berbagai manuver agar orang percaya merasa puas dengan status keberagamaannya, bukan status kebertuhanannya. Orang beragama belum tentu bertuhan; tetapi orang bertuhan pasti adalah orang yang beragama dengan benar. Nampaknya Iblis berusaha “memarkir” paradigma banyak orang percaya pada titik: cukup beragama, menjalani ritual, seremoni, atau liturgi kekristenan—yang penting hadir di gereja seminggu sekali, memberi persembahan dan perpuluhan, bahkan ikut melayani. Semua itu dianggap sudah memenuhi kehendak Allah. Padahal, pergi ke gereja, memberi persembahan, dan melayani baru memenuhi tuntutan gereja, belum tentu kehendak Allah dalam arti yang seutuhnya.
Seseorang yang memenuhi kehendak Allah adalah orang yang hidup dengan sikap 1 Korintus 10:31: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Mulutnya hanya mengeluarkan kata, kalimat, atau narasi yang mendatangkan kemuliaan Allah. Ia tidak akan mengucapkan sesuatu yang melukai sesamanya, apa pun latar belakang atau alasannya. Demikian pula perilakunya—ia menjadi berkat, contoh, teladan, dan surat terbuka yang dibaca banyak orang.
Kalaupun ia terpeleset dalam ucapan atau tersesat dalam perilaku tanpa sadar, ia akan merasakan kepedihan hati yang mendalam, menyesal, dan berusaha memperbaiki diri seraya bersikap lebih berhati-hati. Sikap mengalah, menerima orang lain, mengampuni, serta menaikkan doa terbaik bagi orang yang memusuhi kita perlu dilatih terus-menerus. Latihan demi latihan dalam berbagai peristiwa hidup akan membuat kita semakin tajam dan peka dalam menghidupi kehendak Allah. Jangan lelah menjadi orang baik. Jangan berhenti mengasihi. Jangan memukul meski memiliki kesempatan untuk memukul. Jangan merasa rugi ketika kebaikan dibalas dengan kejahatan. Sikap-sikap seperti ini menunjukkan bahwa kita sedang menghidupi kehendak Allah. Allah pasti memperhitungkan dan menandai orang percaya yang memiliki kehidupan seperti ini.
Inilah resolusi, komitmen, dan kebulatan tekad yang mesti kita capai, selagi kita masih memiliki sepotong kesempatan dan sepenggal waktu hidup. Seruan untuk menjadi “sempurna seperti Bapa” dan “serupa dengan Tuhan Yesus” kiranya menjadi resolusi dan komitmen yang tidak boleh gagal dalam hidup orang percaya—khususnya bagi keluarga besar GSKI di mana pun berada. Seruan ini ditujukan kepada gembala jemaat, pelayan, aktivis, dan seluruh jemaat Tuhan.
Dikembalikannya manusia kepada rancangan semula adalah sesuatu yang mutlak, absolut, dan tidak dapat ditawar ataupun dilanggar. Itulah puncak resolusi, komitmen, dan kebulatan tekad. Itulah puncak kesucian dan kekudusan yang Allah ingin kita capai. Sebab, tanpa kekudusan tidak seorang pun dapat memandang Allah. Jangankan memandang, masuk dalam Kerajaan Bapa pun tidak diizinkan bagi orang yang hidupnya tidak suci dan tidak kudus.
Dengan demikian, kita mesti—dan wajib—membangun serta merawat kesucian dan kekudusan hidup. Hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela adalah modal untuk melanjutkan perjalanan abadi bersama Elohim Yahweh dan Tuhan Yesus Kristus di Kerajaan Bapa.