Dalam pelayanan terhadap sesama, sering kali mukjizat dapat terjadi. Mengapa mukjizat bisa terjadi? Pertama-tama tentu karena belas kasih Allah terhadap ciptaan-Nya. Dalam berbagai bagian dalam Injil, kita sering menemukan bahwa mukjizat yang Yesus lakukan selalu didahului dengan ungkapan “tergeraklah belas kasihan Yesus…”. Allah sungguh mengetahui bahwa ciptaan-Nya memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan. Sebagai Bapa dari seluruh ciptaan, Ia memiliki pertimbangan yang dalam dan terkadang tidak dapat dipahami. Allah seakan dapat menganulir apa yang seharusnya terjadi karena adanya hukum tabur tuai. Misalnya, seseorang terkena penyakit kanker karena pola hidup yang salah. Namun, tiba-tiba kanker yang diidapnya hilang setelah didoakan dengan minyak urapan. Meskipun telah ada tatanan yang disebut sebagai hukum alam dan hukum tabur tuai, sering kali kita menemukan adanya anomali di dalam hukum tersebut. Anomali tersebut dapat kita sebut sebagai mukjizat. Mukjizat bertumpu pada belas kasih Allah semata, bukan karena perbuatan atau usaha manusia.
Namun, dalam Alkitab kita menemukan bahwa mukjizat bukanlah perhentian akhir. Matius 4:24 mencatat: “Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.” Mukjizat, berkat, dan pertolongan Allah yang tercatat dalam Alkitab bertujuan untuk menggiring seseorang kepada pengenalan akan Yesus. Dari pengenalan akan Yesus, seseorang dapat mengenal Allah yang benar, yakni Bapa, Elohim Yahweh. Oleh karenanya, mukjizat bersifat Kristosentris (berpusat pada Kristus) dan teosentris (berpusat pada Allah) secara bersamaan. Mukjizat tidak boleh berakhir pada antroposentris (berpusat pada manusia), apalagi egosentris (berpusat pada kepentingan manusia). Ia melahirkan hormat dan kemuliaan bagi Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Menjadi suatu hal yang ironis apabila mukjizat disiarkan dengan motif yang antroposentris dan transaksional. Motif antroposentris menunjuk pada dua sisi, yakni penerima mukjizat dan mediator mukjizat. Dari sisi penerima mukjizat, motif antroposentris dapat tampak ketika mukjizat dipahami sebagai satu-satunya karya Allah bagi orang tersebut. Ia tidak menyadari bahwa mukjizat yang diberikan Allah menuntunnya kepada pertobatan dan perubahan kehidupan. Mukjizat tidak diberikan hanya untuk memberi pengalaman spektakuler pada seseorang, tetapi bertujuan mentransformasi seseorang.
Sedangkan dari sisi mediator (hamba Tuhan), mukjizat tidak boleh menjadi komoditas seorang hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan yang menjadi mediator (meskipun istilah ini sebenarnya tidak terlalu tepat karena Tuhan dapat memberikan mukjizat tanpa mediator sekalipun) tidak boleh melabeli atau membanggakan dirinya dengan karunia yang diberikan oleh Tuhan. Ironisnya, banyak hamba Tuhan yang menjadikan mukjizat sebagai “branding” atau komoditas bagi gereja yang dipimpinnya. Tidak heran, akhirnya mukjizat menjadi suatu hal yang transaksional, yakni ketika sang hamba Tuhan mempersyaratkan hal tertentu sehingga jemaat berpikir bahwa Tuhan akan memberikan mukjizat jika syarat-syarat tersebut dipenuhi. Biasanya, syarat tersebut berbentuk ketaatan institusional atau pemikiran positif. Seseorang harus taat dengan apa yang disampaikan oleh gereja dan hamba Tuhan serta berpikir positif bahwa semua itu pasti akan terjadi. Ini biasanya disebut dengan “mengimani mukjizat”. Padahal, yang menjadi pusat iman kita haruslah Tuhan. Terjadi atau tidaknya mukjizat ada dalam keputusan Allah. Bagian kita adalah hidup dalam ketergantungan penuh atas apa pun keputusan Allah.
Sungguh berbahaya apabila ada hamba-hamba Tuhan yang mengesankan bahwa jika seseorang melakukan hal tertentu, maka hal itu dapat mendesak Tuhan melakukan mukjizat. Sebab, ia bukan hanya berpotensi menipu jemaat, tetapi juga dirinya sendiri dan Roh Allah. Sejatinya, mukjizat bermaksud untuk menuntun seseorang kepada Allah Bapa melalui Putra-Nya. Jika seseorang mengesankan bahwa maksud dan tujuan mukjizat berhenti pada mukjizat itu sendiri atau bahkan mendatangkan kultus pada gereja dan hamba Tuhan tertentu, hal ini sungguh patut diwaspadai.