Skip to content

Makna Kemerdekaan

 

Menyukakan hati Bapa memang mudah sekali dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Jika dahulu seorang anak kecil mengatakan sayang kepada orang tuanya, tetapi belum membuktikan rasa sayang itu, maka hubungan orang tua dan anak tersebut belum dewasa, belum merupakan hubungan yang berkualitas tinggi. Namun, ketika ia bertumbuh dewasa dan mulai mengerti orang tuanya, ia dapat dilibatkan dalam beban yang dipikul orang tuanya, ia dapat melakukan apa yang diingini orang tuanya untuk membuktikan rasa sayangnya.

Kita harus memperkarakan keadaan kita yang belum seperti yang Tuhan kehendaki ini dan kita harus rela dibentuk. Memang, bagi beberapa dari kita hal ini terasa abstrak, karena selama ini kita tidak bergumul untuk menjadi pribadi yang menyukakan hati Bapa. Hidup kita hanya diisi dengan berbagai kesenangan diri sendiri, dan itu merupakan irama yang nyaris permanen di dalam diri kita. Filosofinya ialah, “Hidup untuk apa kalau tidak menyenangkan diri sendiri?” dan itulah yang banyak orang lakukan.

Namun sekarang kita belajar firman dan kita menyadari bahwa kita bukanlah makhluk gratis. Adam dan Hawa diciptakan untuk melakukan kehendak Bapa. Kita dipanggil oleh Tuhan untuk mencapai target yang Tuhan kehendaki. Adam harus memilih: menjadi sempurna atau meleset. Meleset bukan berarti manusia menjadi binatang, melainkan tetap menjadi makhluk manusia. Sebab manusia tetap bisa menjadi baik setelah jatuh dalam dosa—baik dalam arti melakukan hukum secara manusiawi—tetapi manusia tidak bisa sempurna melakukan kehendak Bapa. Salib Tuhan membuka kembali kesempatan bagi kita untuk menjadi sempurna.

Masing-masing kita memang memiliki target yang berbeda; yang diberi banyak, dituntut banyak. Maka, bagi orang yang baru bertobat pada usia 60 tahun tentu tidak sama dengan orang yang bertobat sejak kecil dan sudah mendapat tuntunan. Kita sekarang dituntut untuk menjadi miskin, merasa tidak memiliki keadaan seperti yang Tuhan inginkan, sehingga kita terus bergerak dan menggeliat. Janganlah pertumbuhan rohani kita dikunci dengan perkataan, “Aku tidak bisa sempurna,” sebab masing-masing orang harus berusaha semaksimal mungkin menjadi sempurna seperti yang Tuhan kehendaki, siapa pun kita.

Jangan dengarkan fitnah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa sempurna. Sempurnanya si A tidak sama dengan sempurnanya si B, tetapi semua harus sampai pada titik maksimal yang dapat diusahakan oleh masing-masing kita. Kita mau menjadi komunitas yang berada di jalur yang Tuhan kehendaki, meninggalkan kewajaran hidup manusia pada umumnya dan mengenakan kebenaran yang murni yang diajarkan Tuhan Yesus di tengah gelombang kehidupan dan kekacauan dunia. Kita tetap berprinsip pada kebenaran Tuhan dengan integritas yang tinggi. Kita tidak perlu berdebat dengan mereka yang tidak setuju dengan apa yang kita pahami. Hal ini bukan karena kita takut berdebat, melainkan karena kita meyakini bahwa teologi seseorang akan dibuktikan kebenarannya melalui kelakuan, perbuatan, dan ucapannya.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa ada orang-orang yang tidak merasa miskin di hadapan Tuhan, sebab yang hendak dicapai bukanlah kesempurnaan; bahkan kesempurnaan dianggap hanya sebagai sambilan. Padahal seharusnya kesempurnaan menjadi tujuan utama, dan hal-hal lain hanyalah pendukung. Tujuan utama kita adalah kesempurnaan, dan segala sesuatu harus diarahkan kepada tujuan tersebut. Percayakah kita bahwa jika kita sungguh-sungguh menjadikan keberkenanan di hadapan Tuhan—atau kesempurnaan—sebagai tujuan utama, pusat kegiatan, dan kesibukan utama kita, maka kita baru dapat menghayati apa artinya merdeka? Ketika kesempurnaan menjadi tujuan utama kita—dan ini memang maksud serta tujuan Allah bagi kita—dan ketika kita menjalaninya dengan segenap hati, segenap kekuatan, dan segenap akal budi, barulah kita dapat mengerti apa arti kemerdekaan itu. Kita harus berani melangkah, harus ada terobosan, dan kita harus berani mengatakan, “Inilah tujuan utama hidupku, inilah alasan aku hidup,” supaya kita terus menatap ke atas, menatap kepada target yang nyaris mustahil itu.

Dengan demikian, kita akan selalu merasa miskin di hadapan Tuhan. Sehingga ketika kita membutuhkan Tuhan, bukan karena urusan makan, minum, kesehatan, atau hal-hal lain yang bersifat jasmaniah—sebab Tuhan telah menetapkan tatanan bahwa apa yang kita tabur itulah yang kita tuai, dan hal itu menjadi tanggung jawab kita—melainkan karena kita membutuhkan bimbingan-Nya untuk mencapai kesempurnaan tersebut.