Lukas 5: 4–5
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Dalam perjalanan iman orang percaya, tidak jarang perintah Tuhan tampak bertentangan dengan akal sehat dan pengalaman manusia. Firman Tuhan kerap berlawanan dengan naluri dasar manusia, seperti perintah untuk mengasihi musuh, tidak membalas kejahatan, berdoa bagi mereka yang menyakiti, serta mengampuni tanpa syarat. Prinsip-prinsip ini secara logis sering dianggap tidak masuk akal, tetapi justru di sanalah ketaatan iman diuji.
Simon Petrus adalah seorang nelayan profesional. Pengalamannya dalam dunia perikanan tidak perlu diragukan. Ia memahami dengan baik waktu terbaik untuk menangkap ikan, kondisi alam yang mendukung, serta lokasi yang strategis. Setelah semalaman bekerja tanpa hasil, Petrus berada dalam kondisi lelah dan kecewa. Pada saat itulah Yesus menghampirinya dan bahkan menggunakan perahunya sebagai tempat untuk mengajar orang banyak. Setelah pelayanan tersebut selesai, Yesus memberikan instruksi yang secara teknis bertentangan dengan pengetahuan profesional Petrus: bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala pada siang hari. Secara rasional, perintah ini tampak tidak masuk akal. Dari sudut pandang nelayan berpengalaman, menangkap ikan pada siang hari di tempat yang dalam merupakan tindakan yang hampir pasti berujung kegagalan. Jika diletakkan dalam konteks manusia modern, respons Petrus dapat dipahami sebagai pergumulan antara kelelahan, pengalaman kegagalan sebelumnya, dan logika profesional yang kuat. Dalam situasi seperti ini, penolakan terhadap perintah tersebut tampak wajar dan dapat dibenarkan secara rasional.
Namun, titik krusial dalam narasi ini terletak pada respons Petrus. Meskipun ia mengemukakan realitas kegagalannya—“telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa”—ia menutup pernyataannya dengan sebuah sikap ketaatan: “tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Kalimat ini menandai peralihan dari dominasi logika menuju penundukan diri kepada otoritas Kristus. Ketaatan Petrus bukan didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kepercayaan kepada Pribadi yang memberi perintah.
Dalam kehidupan orang percaya, ketaatan sering terhambat oleh beberapa faktor utama. Pertama, pengalaman masa lalu yang penuh kegagalan dapat melahirkan sikap pesimistis dan keputusasaan. Kedua, kebergantungan berlebihan pada logika dan perhitungan manusia sering kali menghasilkan argumentasi yang menunda atau menolak ketaatan. Ketiga, gengsi dan ego pribadi—kekhawatiran akan penilaian orang lain—dapat menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang tampak “tidak masuk akal”. Ketiga faktor ini menunjukkan bahwa hambatan ketaatan sering kali bersumber dari dalam diri manusia sendiri. Ketaatan sejati justru diuji ketika seseorang tidak sepenuhnya memahami alasan di balik perintah Tuhan. Jika seseorang melakukan sesuatu karena telah memahami dan menyetujuinya terlebih dahulu, maka tindakan tersebut lebih menyerupai persetujuan rasional yang bersifat transaksional. Sebaliknya, ketaatan iman terjadi ketika seseorang melakukan perintah Tuhan meskipun perintah tersebut melampaui pemahaman dan logikanya. Dalam konteks inilah ketaatan menjadi ekspresi iman yang autentik.
Ketaatan Simon Petrus menghasilkan lebih dari sekadar berkat jasmani berupa tangkapan ikan yang melimpah. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidupnya, yang mengubah statusnya dari seorang nelayan biasa menjadi murid yang dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Dengan demikian, berkat terbesar dari ketaatan bukanlah hasil yang tampak secara kasatmata, melainkan transformasi karakter dan pendalaman relasi dengan Tuhan. Kedekatan dengan Allah menghasilkan ketenangan dan arah hidup yang baru.
Narasi ini menegaskan bahwa Tuhan tidak menuntut manusia untuk memahami seluruh rencana-Nya sebelum melangkah. Yang Tuhan kehendaki adalah kepercayaan bahwa perintah-Nya memiliki otoritas yang melampaui logika, ketakutan, dan kekhawatiran manusia. Dalam perspektif iman, logika bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, tetapi harus ditundukkan di bawah ketaatan kepada kehendak Allah. Dengan demikian, kehidupan iman bukan ditentukan oleh sejauh mana manusia mengerti, melainkan oleh sejauh mana ia bersedia taat kepada Tuhan yang layak dipercaya sepenuhnya.