Kita harus sungguh-sungguh mengerti apa tujuan hidup ini. Tidak salah memiliki rumah, tetapi apa yang kita lakukan dengan rumah itu? Apa motivasi kita memilikinya? Tidak salah kita punya uang, tetapi untuk apa uang itu kita peroleh? Kalau kita adalah anak-anak Allah yang telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, berarti kita bukan milik kita sendiri. Baik kita makan, minum, atau melakukan hal lain, semuanya harus kita lakukan untuk Tuhan. Lalu, bagaimana kita bisa mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera kita? Jangan mengingini apa yang Tuhan tidak ingin kita ingini. Ingini apa yang Tuhan kehendaki untuk kita ingini.
Fokusnya bukan pada bendanya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, persoalannya bukan pada rumah, uang, kendaraan, atau gelar itu sendiri, tetapi pada apa yang kita lakukan dengan semua itu. Apa tujuan kita memiliki uang? Apa yang kita cari dari pangkat atau gelar? Apakah itu menjadi kehormatan pribadi atau alat untuk mengabdi kepada Tuhan?
Untuk itu diperlukan pengolahan dan pembentukan manusia batiniah kita. Saat kita berada di gereja, dalam pendalaman Alkitab, atau saat mendengar Suara Kebenaran, kita sedang mengolah batin. Jadi, pergi ke gereja bukan sekadar untuk menjalankan liturgi, karena liturgi kita yang sejati bukan dimulai di gereja, melainkan sejak kita bangun tidur sampai kita tidur kembali di malam hari. Contohnya, ibu-ibu yang membersihkan rumah, mengatur pekerjaan, menggerakkan pembantu, menyiapkan makanan untuk anak-anak, dan menyelesaikan berbagai tugas lainnya — semua itu adalah liturgi hidupnya. Inilah bentuk ibadahnya yang nyata. Bukan seremonial agama sebagaimana dalam banyak agama lain.
Kita tidak memiliki seremonial-seremonial kaku. Tidak ada aturan dalam Alkitab bahwa kebaktian harus dimulai pukul tertentu, diawali dengan nyanyian atau tepuk tangan. Itu adalah pertemuan bersama yang bersifat relatif, fleksibel, dan dinamis. Boleh memakai musik, boleh tidak. Boleh bertepuk tangan, boleh tidak. Itu semua hal minor. Yang utama adalah bagaimana kita hidup dari pagi hingga malam hari — itulah ritual kita, liturgi kita, dan ibadah hidup kita.
Supaya kita mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera, ada satu rahasia: anak-anak TUHAN yang ingin memiliki kepekaan akan kehendak-Nya harus menganggap dunia ini sebagai “huntara” — hunian sementara. Bukan “huntap” — hunian tetap. TUHAN menghendaki kita menjadi seperti Kristus. Dan untuk menjadi orang Kristen sejati, itu bukan perkara mudah.
Karena itu, saat kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk, jangan paksa orang masuk agama Kristen. Cukup bersaksi lewat perbuatan hidup kita. Itu tugas kita, bersaksi lewat perbuatan supaya orang menyaksikan kebaikan Tuhan lewat hidup kita. Lewat itu orang berkata, “Orang sebaik ini tidak mungkin Tuhannya salah.” Itu sudah cukup. Dengan demikian, kita bisa hidup di tengah masyarakat dengan baik. Jika kita telah sampai pada pengertian bahwa liturgi bukan sekadar kebaktian di gereja, melainkan seluruh hidup kita, berarti kita telah menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Dalam Wahyu 6 sampai 8, Alkitab mengisahkan tentang meterai-meterai. Zaman dahulu, meterai dipakai untuk menutup gulungan kitab. Jika meterai dibuka, barulah isi gulungan itu dapat dibaca. Di pasal tersebut menyebutkan meterai hanya bisa dibuka oleh Tuhan. Tuhan Yesus disebut Anak Domba Allah karena kematian-Nya di kayu salib menjadikan Ia layak membuka meterai itu. Ketika meterai pertama dibuka, muncullah kuda putih. Kemudian menyusul kuda merah, kuda hitam, dan kuda hijau.
Penunggang kuda putih membawa busur — bukan anak panah, hanya busur. Ini menggambarkan pergolakan yang mewarnai dunia. Apa yang akan terjadi di dunia ini, Tuhanlah yang mengesahkannya. Kuda putih melambangkan gerakan kekristenan yang menyebar ke Eropa dan dunia pada masa itu tanpa peperangan. Kekristenan menyebarkan kebenaran bukan dengan kekerasan. Penunggang kuda hanya membawa busur, tanpa anak panah.