Skip to content

Lip Service

 

Pasti kita pernah mendengar, atau mungkin kita sendiri yang mengucapkan, pada waktu seseorang tidak ke gereja, lalu melihat orang ke gereja, pembenaran diri yang dilakukan adalah dengan mengatakan, “Lebih baik saya tidak ke gereja daripada ke gereja, tetapi memiliki kehidupan yang buruk seperti orang-orang itu.” Biasanya ini pembenaran untuk orang yang tidak ke gereja, tetapi cukup menjadi alasan mengapa dia tidak bergereja. Tentu, ini tidak tepat, ini tindakan yang salah. Orang yang ke gereja belum tentu hidupnya benar, tapi kalau orang bisa ke gereja, tapi tidak ke gereja, pasti tidak benar, kecuali memang tidak ada gereja, atau kalau ada, gereja tersebut tidak mengajarkan kebenaran, sehingga dia merasa tidak terberkati di gereja itu. Dan itu pun dia harus mencari gereja lain.

Lebih baik saya tidak ke gereja daripada seperti dia yang ke gereja tapi berkelakuan buruk, merupakan pernyataan yang patut menjadi catatan bagi kita. Jangan sampai kita ke gereja, tetapi perilaku hidup kita setiap hari tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Atau bagi kita, tidak sesuai dengan standar kehidupan Yesus yang harus kita kenakan. Kalau kita ada di gereja di mana lagu-lagunya adalah lagu-lagu yang memuat syair-syair yang ekstrem, yang radikal terhadap Tuhan—misalnya: “Hanya Engkau yang kurindukan,” “Satu hal yang kuminta, berkenan kepada-Mu,” “Tidak ada hal lain yang kuingini” —itu harganya lebih mahal dari gereja-gereja yang syair lagu-lagunya hanya memuat pujian, penyembahan, dan permohonan berkat kepada Allah.

Menjadi kekhawatiran kita bersama, banyak orang—termasuk kita—menyanyi tanpa perasaan, atau dengan perasaan tetapi hanya sesaat saja. Kita menyatakannya itu di hadapan Tuhan, tetapi kehidupan kita setiap hari bertentangan dengan apa yang kita nyatakan dalam syair lagu penyembahan. Waktu di gereja kita berkata, “Tubuh, nyawaku, dan roh jiwaku kuserahkan pada-Mu, aku hidup hanya bagi-Mu, Engkau satu-satunya alasan kuhidup” kalimat-kalimat yang acap kali kita nyatakan di hadapan Tuhan. Kalau sampai kenyataan hidup kita setiap hari tidak sesuai dengan pernyataan kita, betapa mengerikan keadaan kita di hadapan Allah. Menipu manusia saja memiliki konsekuensi. Menipu manusia yang berjabatan tinggi, maka lebih tinggi pula konsekuensinya. Menipu orang tua, orang yang terhormat, tentu lebih besar konsekuensinya. Sekarang, menipu Tuhan? Ironisnya, bisa-bisanya sejahtera, bisa-bisanya masih merasa damai dan menganggap sepi kebodohan yang dilakukan tersebut, yang itu bisa berkategori sebagai kemunafikan.

Munafik, dalam bahasa Yunani-nya, hipokrites, artinya orang yang memainkan peranan. Pada waktu dia tampil di panggung, dia mempersonifikasikan sosok tokoh tertentu, dan itu bukan dirinya setiap hari, hanya sementara. Itu namanya orang yang memainkan peranan. Kalau panggilan hari-harinya misalnya Endang, begitu di panggung namanya Juliet. Tiap harinya dipanggil Freddy, tapi waktu di panggung namanya Romeo. Jadi, memang benar juga kata orang yang melakukan pembenaran diri, “Lebih baik saya tidak ke gereja daripada ke gereja seperti dia tapi berkelakuan buruk.” Walaupun pernyataan itu salah, tetapi ada benarnya, karena ke gereja bisa saja menipu Tuhan. Biasanya, orang yang menipu Tuhan, setiap harinya juga menipu sesamanya. Tidak mungkin orang yang tidak jujur di hadapan Tuhan, lalu jujur terhadap sesamanya. Bisa, tapi sulit.

Jadi, betapa hebat kehidupan orang Kristen yang pernyataan-pernyataannya pada waktu ibadah—yang tentu sesuai dengan firman Tuhan—dia usaha untuk dikenakan dalam hidupnya setiap hari. Betapa luar biasa kehidupan orang-orang ini! Memang sangat mungkin ada kesenjangan antara kehidupan setiap hari dengan pernyataan janji ikrar kita waktu di gereja; di mana tidak ada satunya kata dan perbuatan. Tapi harus ada usaha untuk menjembatani kesenjangan itu, sehingga apa yang dia kemukakan di gereja itu menjadi kenyataan hidup setiap hari. Misalnya di gereja kita menyanyi, “Menyenangkan-Mu, menyenangkan-Mu, senangkan Tuhan dalam segala perkara. Menyenangkanmu senangkan-Mu, di mana pun kuberada senangkan Tuhan,” apakah kalimat ini tulus dari hati kita? 

Betapa hebat kalau kita berusaha untuk mempersonifikasikan, mengenakan kehidupan yang kita ikrarkan waktu kita di gereja ini dalam hidup kita setiap hari. Walaupun tentu ada kesenjangan, tetapi kita berusaha terus walau terseok-seok untuk bisa memenuhi apa yang kita ikrarkan, kita janjikan, kita ucapkan kepada Tuhan. Jangan anggap Tuhan tidak ada dan tidak berperasaan. Dia mengerti, Dia merasa, apakah kita sungguh-sungguh mengusahakan untuk menyenangkan Dia atau hanya lip service.