Jangan berpikir bahwa keberadaan kita sebagai anak-anak Allah itu hanya status karena pengakuan Allah Bapa. Kalau kita menjadi anak-anak Allah, itu bukan sekadar status, tetapi karena karakter kita adalah karakter Anak Allah. Keberadaan kita secara mental, spiritual, seperti Bapa. Kalau belum, bagaimana? Kalau belum, kita harus sekolah terus, dan Tuhan memberi kita waktu. Itulah sebabnya di dalam Yohanes 1:10-11 dikatakan, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Banyak orang tidak menerima-Nya. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak-Nya, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”
Kata ‘kuasa’ dalam bahasa Yunani ada dua kata, yang pertama, dunamis (δύναμις); yang kedua, eksousia (ἐξουσία). Kalau dunamis artinya sesuatu yang menggerakkan. Tuhan Yesus berkata, “Kamu akan menerima ‘kuasa’ kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Jadi, sebenarnya keliru kalau kita dorong-dorong orang untuk melayani Tuhan, nanti hasilnya salah, hasilnya buruk. Sebab kalau seseorang bertumbuh dalam kedewasaan rohani, dia berjalan dengan Roh Kudus, maka Roh Kudus akan menggerakkan dia menjadi saksi. Tidak usah diminta melayani, atau memberi persembahan, pasti mereka akan tergerak sendiri. Hanya kita kadang-kadang kurang sabar. Kalau firman terus diberitakan, orang akan punya pengertian, lalu tiap ia hari berjalan dengan Tuhan, maka tidak perlu kita minta untuk melayani.
Sedangkan eksousia artinya right (hak), atau privilege (hak istimewa). Kita pasti mengerti bahwa tidak mungkin ada hak tanpa kewajiban. Alkitab itu hebat sekali. Tuhan tidak menghendaki kita miskin, tapi kita tidak bisa kaya mendadak atau secara otomatis atau dengan sendirinya. Allah sediakan semua fasilitas untuk hidup, tapi kita harus kerja keras dan rajin. Sebagaimana terhadap Adam Hawa, Tuhan katakan bahwa mereka boleh makan semua buah di taman ini—kecuali yang satu itu—tapi kelola juga taman ini. Tuhan tidak menghendaki kita sakit, tapi kita tidak otomatis sehat dan panjang umur. Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, tetapi tidak otomatis orang selamat dan tidak binasa. Ada fasilitas keselamatan. Namun di satu sisi, ada kewajiban, yaitu betapa suci dan salehnya kita harus hidup. Artinya, berusahalah untuk melakukan firman. Itu semua paralel.
Tidak mungkin ada pilihan tanpa ada kehendak bebas untuk memilih. Tidak mungkin, seseorang berkata begini, “Nak, kamu boleh ada di ruangan ini, boleh ada di luar ruangan juga, kamu bebas memilih.” Tapi semua pintu ditutup, dia tidak bisa keluar. Itu namanya tidak konsekuen. Namun Tuhan tidak mungkin tidak konsekuen. Ada hak, ada kewajiban, ada konsekuensi, ada berkat, ada kutuk. Ini keagungan makhluk manusia yang tidak diatur oleh remote control. 70 tahun hidup kita ini adalah kesempatan untuk memilih, menapaki, mempersiapkan hidup kita di hari esok. Dan kalau Allah memperjuangkan keselamatan kita dengan memberikan Putra Tunggal-Nya, jangan sia-siakan.
Namun dikesankan oleh pihak gereja dan pemberita-pemberita firman bahwa seakan-akan dengan menjadi orang Kristen secara otomatis sudah menjadi anak-anak Allah, sehingga mereka sudah cukup puas dengan keberadaannya sebagai orang Kristen dan memiliki ketenangan yang sebenarnya semu belaka. Sehingga penekanan kegiatan Kristennya hanya kebaktian liturgi atau memanfaatkan Tuhan untuk membangun Firdaus di bumi. Padahal kita tidak boleh punya dua Firdaus. Harus salah satu, di bumi ini atau di langit baru bumi baru.
Ibrani 12:7-10, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
Ganjaran adalah pukulan yang dilakukan berulang-ulang. Kalau kita dihajar, berarti kita adalah anak sah, huios (υἱός), pangeran. Tapi kalau kita tidak dihajar, maka kita adalah anak-anak gampang, nothos (νόθος), anak haram, anak ilegal. Maka, jangan kita menjadi anak ilegal. Namun di sini legalitas menjadi tanggung jawab kita. Proses legalitas dengan cara apa kita menjadi anak-anak Allah yang legal? Ketika kelakuan kita seperti Bapa di surga. Alkitab mengatakan, “Kalau kamu memanggil Allah Bapa, hendaknya kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Namun, begitu kita memanggil Allah, Bapa, apakah kelakuan kita sudah seperti Bapa?