Skip to content

Lebih dari Pemenang

 

Perbedaan kita dengan orang non-Kristen bukan hanya terletak pada keyakinan yang berbeda. Orang Kristen meyakini Elohim YHWH, Allah Bapa, dan Tuhan Yesus yang diutus sebagai Juru Selamat. Namun, agama lain juga memiliki allah dan nabi yang mereka yakini. Jika perbedaannya hanya pada itu, maka kualitas hidup orang Kristen tidak akan berbeda dengan pemeluk agama lain. Bahkan, tidak jarang orang non-Kristen memiliki perilaku yang lebih baik daripada orang Kristen sendiri.

Namun, orang Kristen yang sejati—yang benar-benar mengikuti jejak Yesus—harus dapat mengenakan apa yang Yesus katakan dalam Matius 5:20, bahwa hidup keagamaannya harus lebih benar daripada ahli Taurat dan orang Farisi, dan sempurna seperti Bapa. Ini sangat sulit dan berat. Pertaruhannya adalah segenap hidup. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif kekekalan, kita tidak akan pernah menyesal memilih untuk all-out bagi Tuhan. Pilihan itu ada pada setiap pribadi, tetapi risikonya pun harus ditanggung oleh setiap pribadi. Kita boleh memilih.

Roma 5:1–5 mengatakan, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Dari ayat ini sangat jelas terlihat bahwa jemaat Roma memiliki kualitas kehidupan rohani yang berstandar ilahi, bukan sekadar standar orang beragama, melainkan standar kehidupan Yesus sendiri. Hal ini tampak dari ungkapan Paulus, seperti “bermegah juga dalam kesengsaraan.” Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Ini menunjukkan bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang tekun menderita bersama dengan Kristus, tetap setia dalam kesucian dan ketaatan, serta mengarahkan hidupnya pada pengharapan kekekalan untuk bertemu dengan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah oleh Roh Kudus. Orang Kristen yang tidak memiliki kualitas hidup seperti ini tidak mungkin memiliki perdamaian dengan Allah secara benar.

Itulah sebabnya Paulus melanjutkan dalam Roma 5:10–11, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Ungkapan “bermegah dalam Allah oleh Kristus” berarti merasa bernilai, memiliki kebanggaan rohani, dan hidup dalam kelimpahan oleh Yesus Kristus. Karena itulah jemaat Roma rela menanggung penderitaan dan kehilangan segala sesuatu demi iman mereka kepada Kristus. Jadi, ketika Paulus berkata, “kita yang dibenarkan karena iman,” yang dimaksud adalah Paulus sendiri dan jemaat Roma. Tidak ada keraguan mengenai kualitas iman Paulus dan jemaat Roma.

Demikian pula ketika Paulus mengatakan dalam pasal 8 bahwa “kita lebih dari orang-orang yang menang,” yang dimaksud tetaplah Paulus dan jemaat Roma. Maka, jika hari ini kita berkata, “kita lebih dari orang-orang yang menang,” kita harus berhenti sejenak dan bertanya: kita ini siapa? Jika kita bukan jemaat Roma, jangan sembarangan mengucapkannya. Kita baru dapat berkata “lebih dari pemenang” jika kita memiliki kualitas hidup seperti jemaat Roma—jemaat yang bermegah dalam Tuhan, yang bangga dan hidup dalam kelimpahan rohani walaupun mengalami kemiskinan, aniaya, ketelanjangan, dan kelaparan. Dalam konteks itulah Paulus berkata, “Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?”

Perlu dipahami bahwa Roma pada masa itu adalah kekuatan politik besar. Orang-orang Roma menang dalam penampilan, kekayaan, dan kedudukan. Sebaliknya, orang Kristen adalah kaum outcast—orang-orang yang terbuang, diperlakukan sebagai persona non grata, dihindari, tidak disukai, dan dianiaya. Namun Paulus berkata kepada jemaat, “Kamu lebih dari mereka.” Maka, jika kita hari ini merasa diri “lebih dari pemenang,” kita harus bertanya: dibandingkan dengan siapa? Pemenang yang mana? Di sinilah banyak kekacauan terjadi. Banyak orang berbicara tanpa pengertian, dan akhirnya bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan. Kualitas hidupnya bukan kualitas orang beriman. Ia bukan orang jahat, mungkin bisa masuk surga karena kebaikannya, tetapi belum memiliki iman yang sejati.