Skip to content

Lebih Dalam daripada Kesembuhan

 

Matius 9:2

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Banyak orang datang kepada Tuhan karena ingin persoalannya segera diselesaikan. Ketika sakit, kita meminta kesembuhan. Ketika terdesak secara ekonomi, kita memohon jalan keluar. Ketika keluarga terguncang, kita mengharapkan pemulihan. Semua permohonan itu wajar. Namun, kisah orang lumpuh yang dibawa kepada Yesus memperlihatkan bahwa Tuhan melihat kebutuhan yang jauh lebih dalam daripada kebutuhan yang tampak di depan mata.

Beberapa orang membawa sahabat mereka yang lumpuh dengan keyakinan bahwa Yesus sanggup menyembuhkannya. Mereka pasti berharap orang itu dapat berdiri dan berjalan. Akan tetapi, perkataan pertama Yesus bukanlah, “Bangunlah,” melainkan, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus membawa perhatian mereka kepada pusat persoalan manusia. Kelumpuhan merupakan penderitaan yang nyata, tetapi dosa adalah kerusakan yang lebih mendasar. Penyakit dapat menghancurkan tubuh, sedangkan dosa merusak hubungan manusia dengan Allah, membentuk watak yang menyimpang, dan menyeret manusia menjauh dari tujuan penciptaannya.

Hal ini tidak berarti bahwa setiap penyakit disebabkan secara langsung oleh dosa pribadi. Yesus sendiri menolak anggapan semacam itu dalam kasus orang yang buta sejak lahir. Namun, masuknya dosa ke dalam dunia telah membawa kerusakan, penderitaan, dan kematian. Karena itu, manusia tidak cukup hanya mengalami perbaikan keadaan lahiriah, tetapi terutama membutuhkan pengampunan dan pemulihan batin supaya dapat kembali hidup sesuai dengan kehendak Allah. Di sinilah kita perlu memeriksa orientasi kehidupan rohani kita. Apakah kita datang kepada Tuhan hanya agar tubuh sehat, usaha berhasil, keluarga aman, dan hidup terasa nyaman? Jika semua persoalan lahiriah kita diselesaikan, tetapi karakter tetap rusak, apakah kita sungguh-sungguh telah mengalami keselamatan? Apa artinya tubuh yang sehat bila hanya dipakai untuk memuaskan keinginan diri sendiri? Apa gunanya keadaan ekonomi yang baik bila hati semakin terikat kepada dunia? Apa artinya doa dijawab bila kita tidak pernah belajar menaati kehendak Bapa?

Yesus kemudian menyembuhkan orang lumpuh itu sebagai bukti yang dapat dilihat bahwa Anak Manusia memiliki otoritas untuk mengampuni dosa. Otoritas tersebut dinyatakan dalam rangka menghadirkan pemerintahan Allah dan menyelamatkan manusia dari dosanya. Orang banyak pun memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa demikian kepada manusia. Kesembuhan jasmani menjadi tanda bahwa zaman keselamatan sedang dinyatakan, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar tubuh yang dipulihkan. Allah menghendaki manusia dibebaskan dari dosa dan dikembalikan kepada kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Ironisnya, para ahli Taurat tidak menyambut berita pengampunan itu dengan sukacita. Mereka segera menuduh Yesus menghujat Allah. Sebagai penjaga hukum, mereka mempunyai pengetahuan agama, tetapi merasa terancam ketika pekerjaan Allah tidak sesuai dengan kerangka berpikir dan kepentingan mereka. Ini merupakan peringatan serius bagi orang beragama. Kita dapat menguasai banyak ajaran, tetapi tidak mengenali pekerjaan Allah karena hati terikat pada kedudukan, tradisi, atau kebanggaan diri. Pengetahuan akan firman seharusnya membuat kita semakin rendah hati dan mudah dikoreksi, bukan semakin cepat menghakimi.

Pengampunan tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan seriusnya dampak dari dosa. Pengampunan juga bukan izin untuk mengulangi kesalahan tanpa rasa takut. Justru karena dosa telah diampuni, kita harus meninggalkan cara hidup lama. Anugerah memberi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan belajar hidup dalam kesucian. Orang yang sungguh-sungguh menerima pengampunan tidak akan mempermainkan kemurahan Allah. Ia akan memandang kesempatan hidup sebagai waktu untuk berubah.

Kebenaran mengenai pengampunan tidak boleh berhenti sebagai doktrin yang disetujui. Kebenaran itu harus menjadi pengalaman yang menghasilkan buah. Adakah dosa yang belum kita akui? Adakah kebiasaan salah yang terus kita pertahankan sambil berharap Tuhan tetap memberkati kita? Adakah orang yang telah kita lukai, tetapi belum kita datangi untuk meminta maaf? Pengampunan dari Allah harus mendorong pemberesan nyata, bukan sekadar memberikan kelegaan emosional.