Bayangkan kita sedang melakukan perjalanan ke sebuah daerah yang sama sekali asing—belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Hal apa yang paling kita butuhkan? Tentu sebuah peta lengkap. Di zaman sekarang, kita sudah sangat terbiasa menggunakan GPS yang dapat menunjukkan seluruh rute, kondisi jalan, bahkan alternatif perjalanan secara real time. Kita merasa lebih tenang jika mengetahui arah dari awal sampai akhir.
Namun, dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan, sering kali kita tidak diberi “peta lengkap” seperti itu. Matius 2:19-23 menunjukkan sesuatu yang sangat realistis tentang hal ini: Tuhan tidak selalu menjelaskan seluruh rencana-Nya di awal, tetapi Ia setia menuntun langkah demi langkah.
Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel.” Terhadap perintah itu, Yusuf taat. Ia tidak bertanya panjang, tidak menawar, tidak meminta penjelasan tambahan. Ia hanya melakukan satu hal: mengikuti arahan Tuhan yang ia terima saat itu.
Namun, menariknya, perjalanan mereka tidak berhenti di situ. Ketika Yusuf mendengar bahwa Arkhelaus memerintah di Yudea menggantikan Herodes, ia menjadi takut untuk pergi ke sana. Lalu Tuhan kembali menasihatinya melalui mimpi, dan Yusuf diarahkan ke Galilea, ke sebuah kota kecil bernama Nazaret. Jika kita melihat alurnya, perjalanan hidup Yusuf tidak lurus: Betlehem → Mesir → Israel → Nazaret. Secara manusia, ini terlihat seperti rute yang berputar-putar atau terasa seperti zig-zag yang tidak efisien dan membingungkan. Namun, justru melalui jalur yang tampak berliku itulah rencana Tuhan digenapi dengan sempurna.
Dari hal ini, kita dapat belajar satu prinsip penting: hidup dalam pimpinan Tuhan bukan tentang mengetahui seluruh rencana, tetapi tentang setia pada setiap langkah yang Ia nyatakan. Sering kali kita ingin Tuhan bekerja seperti GPS: memberikan gambaran lengkap, menunjukkan semua kemungkinan, bahkan memberi kepastian hasil. Kita ingin mengetahui semuanya—dari awal sampai akhir. Namun Tuhan lebih sering memberi “cukup terang untuk satu langkah ke depan”, bukan sorotan terang untuk seluruh perjalanan sekaligus.
Mengapa? Karena Tuhan tidak hanya tertarik membawa kita ke tujuan, tetapi juga membentuk relasi kita dengan-Nya di sepanjang perjalanan itu. Jika kita mengetahui semuanya sejak awal, kita cenderung berjalan dengan kekuatan sendiri. Namun, ketika kita hanya mengetahui langkah berikutnya, kita belajar untuk terus bergantung kepada-Nya setiap hari.
Selain itu, kisah ini juga mengajarkan bahwa apa yang tampak seperti jalan memutar sebenarnya bisa menjadi bagian dari rencana Tuhan yang sempurna. Tinggal di Mesir bukan tujuan akhir. Pergi ke Nazaret bukan pilihan yang “ideal” atau prestisius. Namun semua itu justru menggenapi firman Tuhan. Dalam hidup kita, mungkin ada fase-fase yang terasa seperti “tidak sesuai rencana”. Kita merasa sudah melangkah dengan iman, tetapi justru menghadapi perubahan arah, penundaan, atau situasi-situasi yang tidak kita duga. Kita mulai bertanya, “Tuhan, mengapa jalannya menjadi seperti ini?”
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Bahkan ketika jalannya berliku, Ia tetap sedang mengarahkan semuanya menuju penggenapan rencana-Nya. Yang Tuhan minta dari kita bukanlah pemahaman yang sempurna, melainkan ketaatan yang konsisten.
Hari ini, mungkin kita tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi dalam hidup. Mungkin ada keputusan yang harus diambil tanpa semua jawaban tersedia. Atau mungkin kita sedang berada di “persimpangan” yang membingungkan, di tengah “wilayah asing” di mana kita tidak tahu apa yang ada di depan. Namun kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian. Dari tokoh Yusuf kita belajar bahwa pada akhirnya, hidup yang dipimpin Tuhan memang tidak selalu berjalan lurus—tetapi pasti tidak pernah salah arah.