Walaupun manusia telah kehilangan kemuliaan Allah dan jatuh dalam dosa, manusia masih mampu melakukan hukum, meski tidak sempurna. Pasti ada salah dan gagal. Dalam Perjanjian Lama, bila terjadi pelanggaran, darah domba menjadi solusi penebusan. Itu berlaku bagi orang Yahudi. Namun orang Kristen masa kini sering merasa beriman hanya karena beragama Kristen, sehingga hidupnya tampak lebih mudah dibandingkan orang Yahudi. Sejatinya tidaklah demikian. Orang percaya justru harus mengambil keputusan, harus memilih — apakah ia akan mengikut Yesus dengan iman yang benar, yang diwujudkan dalam tindakan seperti Yesus, ataukah ia akan mengikuti dunia. Pilihan ini tidak bisa diwariskan secara otomatis. Orang tua dapat menjadi mentor, memberi teladan, dan membimbing, tetapi pada akhirnya setiap individu harus mengambil keputusan sendiri.
Sayangnya, kehidupan Kristen masa kini banyak dihidupi oleh orang-orang yang hanya “Kristen warisan.” Mereka menjadi Kristen bukan karena pengalaman pribadi dengan Kristus, melainkan karena status yang diwariskan. Mereka tidak memiliki “pengalaman Kristen,” yaitu pengalaman nyata dalam mengikut Yesus. Akibatnya, iman “Kristen warisan” lemah dan mudah terhanyut oleh arus dunia. Ketika standar kekristenan tidak lagi Yesus, melainkan ukuran-ukuran manusia, mereka terjebak dalam pasivitas rohani. Kondisi ini diperparah oleh pengajaran yang keliru, seperti ajaran bahwa “Allah menentukan siapa yang selamat dan siapa yang binasa.” Pengajaran ini menumpulkan rasa tanggung jawab, karena orang merasa hidupnya sudah ditentukan tanpa perlu berjuang.
Ajaran tentang kedaulatan Allah yang mutlak sering disalahpahami. Dikatakan bahwa Allah sudah menetapkan sebagian manusia untuk selamat dan sebagian lainnya untuk binasa, dan manusia tidak dapat menolak anugerah yang diberikan. Konsekuensinya, orang menjadi pasif, tanpa dinamika rohani, tanpa kesadaran untuk berjuang. Akhirnya, banyak orang Kristen cukup puas dengan kekristenan warisan ini. Mereka hidup dalam sistem keagamaan yang rapi, merasa aman dengan keyakinan bahwa Allah sudah menentukan nasib mereka. Mereka pergi ke gereja, aktif dalam kegiatan pelayanan, dan menganggap itu sudah cukup.
Padahal, dengan “Kristen warisan” seperti ini, seseorang hanya melestarikan bentuk luar dari kekristenan. Ia dapat hidup beragama dengan taat, karena agama memberi tempat terhormat dalam masyarakat. Namun, kekristenan yang diwariskan tanpa pilihan pribadi hanya akan merasa yakin adalah umat pilihan, padahal tidak pernah menghasilkan kehidupan yang menyala. Ketika dunia berubah dan pengaruhnya semakin kuat, orang-orang seperti ini menjadi sangat rapuh. Mereka tidak bertumpu pada pilihan iman, melainkan pada sistem dan tradisi. Akibatnya, ketika badai dunia datang, iman mereka runtuh, gereja kehilangan daya, dan banyak jemaat meninggalkan imannya. Fenomena ini nyata di dunia Barat, di mana kekristenan merosot tajam dan gereja-gereja menjadi sepi.
Kedaulatan Allah sejati bukanlah kedaulatan yang menentukan secara sewenang-wenang siapa yang selamat dan siapa yang binasa, melainkan kedaulatan yang memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Sejak awal, Allah telah menunjukkan hal ini ketika memberikan perintah kepada Adam dan Hawa di Taman Eden untuk tidak makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Inilah kemuliaan Allah yang sejati — Ia berdaulat, namun tidak memaksa. Ia tetap Mahatinggi tanpa harus meniadakan kebebasan ciptaan-Nya.
Jika kedaulatan Allah dipahami sebagai kuasa mutlak yang meniadakan pilihan manusia, maka orang tidak perlu memilih. Ia hanya mewarisi iman dan mengandalkan takdir. Tetapi ketika kita memahami bahwa Allah memberi kehendak bebas, maka setiap individu harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Inilah kedaulatan Allah yang agung — bukan kedaulatan yang menindas, tetapi yang mengundang manusia untuk ikut serta dalam rencana-Nya.
Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan diselamatkan. Karena itu, jika seseorang akhirnya binasa, itu bukan karena Allah menentukannya demikian, melainkan karena ia memilih jalan itu sendiri. Keselamatan bukan hasil warisan, tetapi hasil dari pilihan iman yang nyata — pilihan untuk mengikuti Yesus dengan segenap hati, pikiran, dan perbuatan, sampai hidupnya menjadi cerminan kemuliaan Allah di dunia ini.