Skip to content

Konsekuensi yang Menyertai

 

Yohanes 15:12–14

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”

Makna berikutnya dalam sebutan “Bapa kami” adalah adanya sebuah panggilan agar setiap orang percaya hidup saling mengasihi satu sama lain sebagai saudara. Tuhan Yesus menginginkan agar orang percaya saling mengasihi. Inilah yang menjadi indikator pembuktian bahwa kita adalah murid Yesus (Yohanes 13:35). Menurut Tuhan Yesus, standar mengasihi saudara harus sampai pada tingkat pengorbanan, yaitu memberikan nyawa bagi mereka. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah: apakah kita memiliki kerelaan untuk menyerahkan nyawa bagi dan oleh karena Sahabat kita yang bernama Yesus Kristus?

Hal ini memiliki makna bahwa kita harus berani menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita. Seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 3:16, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Menyerahkan nyawa bagi saudara-saudara kita berarti memiliki kesediaan untuk mengorbankan apa pun demi keselamatan orang-orang yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi saudara kita. Hal ini berbicara mengenai pelayanan yang dibebankan Tuhan kepada semua orang percaya. Jika demi keselamatan orang lain Tuhan Yesus rela mati di kayu salib, maka kita pun harus melakukan apa pun yang diperintahkan Tuhan demi keselamatan orang lain.

Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa Yesus tidak hanya memberikan perintah kepada kita, tetapi juga telah memberikan keteladanan yang nyata. Oleh karena itu, Paulus juga mengatakan dalam Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerima-Nya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Melakukan apa pun demi keselamatan orang lain merupakan tindakan nyata dari menderita bersama Kristus. Inilah ciri bangsawan surgawi yang akan dipermuliakan bersama Kristus, yaitu rela menyerahkan apa pun demi keselamatan orang lain.

Jadi, memanggil Bapa dengan tambahan kata “kami” memiliki konsekuensi yang harus diterima, yaitu memiliki kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Siapakah sesama manusia itu? Mereka adalah orang-orang yang memerlukan pertolongan. Inilah beban pelayanan yang harus kita tunaikan dengan mengorbankan apa pun yang ada pada kita: segenap tenaga, perasaan, waktu, harta, bahkan nyawa kita. Oleh sebab itu, betapa naifnya orang yang memanggil Bapa dengan tambahan kata “kami”, tetapi tidak memedulikan keselamatan saudara-saudara yang lain.

Ada banyak orang yang ingin menjadi saudara kita, tetapi mereka memiliki pertanyaan seperti, “Aku tidak mengerti keselamatan,” atau “Anakku tidak memiliki masa depan.” Maka, pertanyaan bagi kita sekarang adalah: maukah kita menjadi saudara bagi mereka? Jika kita memanggil Bapa di surga sebagai Bapa kami, maka ada konsekuensi yang menyertai, yaitu bahwa kita memiliki saudara-saudara yang harus kita topang. Dalam hal ini, tentu semuanya harus sesuai dengan komando Tuhan. Di bawah komando Tuhan, semuanya pasti baik. Namun, perbuatan sebaik apa pun, jika dilakukan di luar komando Tuhan, pada akhirnya tidak menjadi baik.