Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat di Efesus, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Ef. 4:17–18). Artinya, kita tidak boleh lagi hidup seperti dahulu. Jika dulu kita adalah musuh Allah, sekarang kita telah diterima dan dianggap benar. Namun, jangan lagi kita bersikap dan berperilaku seperti dulu. Kita harus berubah.
Ayat selanjutnya mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4:19–22). Jadi, jika kita belum menanggalkan manusia lama, berarti kita masih memosisikan diri sebagai musuh Allah. Kita memang sudah dianggap benar, tetapi jangan kita merasa cukup hanya dengan status “dianggap benar” lalu hidup tanpa perubahan. Allah tidak jahat dengan membenarkan kita supaya kita masuk surga dalam keadaan tidak benar. Ia membenarkan kita supaya kita diubahkan, agar kita sungguh-sungguh menjadi benar.
Efesus 4:23–24 mengatakan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, padahal sebenarnya masih berada dalam keadaan bermusuhan. Jika seseorang baru menjadi Kristen, hal itu masih dapat dimaklumi. Namun, jika keadaan itu terus-menerus berlangsung, berarti ia tidak mau berdamai dengan Allah. Jangan demikian. Marilah kita bertobat. Untuk dapat mengalami perdamaian dengan Allah, hidup kita harus dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Orang yang sedang dipulihkan ke dalam rancangan semula pasti mulai tidak mencintai dunia dan tidak lagi hidup dalam keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Itulah sebabnya firman Tuhan dalam 1 Yohanes 2:15–17 mengatakan,
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Allah tidak mungkin berkasih dengan orang yang tidak mengasihi-Nya. Tidak mungkin Allah membiarkan seseorang mencintai dunia, tetapi tetap masuk surga. Oleh sebab itu, kita harus mengalami perubahan.
Sesungguhnya, menjadi orang Kristen itu berat—seolah-olah mencari persoalan. Namun, ingatlah: tidak ada mahkota tanpa salib. Dalam perdamaian dengan Allah, ada langkah kompromi. Bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah. Kita harus berkompromi dengan kebenaran dan kesucian, tetapi tidak lagi berkompromi dengan dunia. Kita harus berkhianat terhadap daging, hawa nafsu, ego, dan ambisi kita. Itulah yang disebut menyangkal diri. Kita tidak bisa berkompromi dengan keduanya sekaligus.
Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Dan juga, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:24–25).
Bukan Allah yang mengikuti irama kita, melainkan kita yang harus mengikuti irama Allah; kitalah yang harus menyelaraskan diri dengan Allah. Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan untuk mengalami perdamaian dengan Allah. Karena itu, marilah kita meratap, melihat keadaan hidup kita yang masih carut-marut dan belum beres. Kita mau bertobat. Kita mau berubah.