Skip to content

Komitmen untuk Bertumbuh: Pembaruan Setiap Hari

 

Pertumbuhan rohani bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Pertumbuhan memerlukan komitmen, kedisiplinan, dan kesediaan untuk terus diperbarui dari hari ke hari. Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:16 berkata, “Manusia batiniah kita dibarui dari sehari ke sehari.” Ini menunjukkan bahwa pembaruan rohani bukan peristiwa sesekali, melainkan ritme hidup yang berlangsung terus-menerus. Allah tidak menghendaki kita menjadi orang Kristen yang statis; Ia ingin kita terus maju, meninggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru (Kol. 3:10).

Namun, banyak orang percaya berhenti bertumbuh setelah pertobatan awal. Mereka merasa sudah cukup karena aktif ke gereja, ikut pelayanan, atau terlibat dalam berbagai kegiatan rohani. Padahal aktivitas rohani tidak sama dengan pertumbuhan rohani. Pertumbuhan rohani terjadi ketika hati terus dibentuk, pikiran terus diperbarui, dan karakter terus mengalami transformasi.

Pertumbuhan rohani memerlukan kesediaan untuk dibentuk. Seperti tanah liat di tangan penjunan (Yer. 18), pertumbuhan dimulai ketika kita membuka diri untuk disentuh, dibentuk, bahkan diremukkan oleh tangan Tuhan. Sikap hati yang keras, merasa benar sendiri, atau merasa cukup merupakan penghalang terbesar bagi pembaruan rohani. Komitmen untuk bertumbuh berarti kita memiliki kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, bentuklah aku menurut kehendak-Mu,” bukan menurut standar dunia, bukan menurut keinginan daging, melainkan menurut rancangan Allah yang sempurna.

Selain itu, pertumbuhan rohani memerlukan disiplin rohani. Tidak ada orang Kristen yang bertumbuh tanpa firman, doa, persekutuan, dan ketaatan. Firman Tuhan adalah makanan rohani yang memberi nutrisi bagi manusia batiniah kita. Doa adalah napas kehidupan rohani yang menghubungkan kita dengan sumber kekuatan. Persekutuan adalah tempat kita diajar, ditegur, dan dikuatkan. Ketaatan adalah wujud nyata pertumbuhan kita. Tanpa disiplin ini, pertumbuhan rohani akan stagnan.

Salah satu tantangan besar bagi pertumbuhan rohani adalah kesibukan. Dunia modern membuat banyak orang percaya tenggelam dalam pekerjaan, sekolah, pelayanan, urusan keluarga, dan media sosial. Kehidupan rohani sering kali menjadi prioritas terakhir. Banyak orang ingin bertumbuh, tetapi tidak menyediakan waktu untuk Tuhan. Pertumbuhan rohani memerlukan komitmen untuk menyediakan ruang bagi Allah bekerja dalam hidup kita. Tidak ada pembaruan tanpa waktu berkualitas bersama Tuhan.

Pertumbuhan juga memerlukan proses. Tidak semua perubahan terjadi sekaligus. Ada area hidup yang Tuhan pulihkan dengan cepat, tetapi ada pula area yang Tuhan bentuk perlahan-lahan. Kadang kita merasa frustrasi ketika melihat bagian hidup kita yang belum berubah. Namun, pertumbuhan rohani bukan perlombaan cepat, melainkan maraton panjang. Tuhan bekerja dalam kesabaran dan kasih setia-Nya; tugas kita adalah terus menyediakan diri di dalam proses tersebut.

Pertumbuhan rohani juga ditandai oleh perubahan cara berpikir. Roma 12:2 menegaskan bahwa transformasi terjadi melalui pembaruan budi. Ketika pikiran kita diperbarui oleh firman, cara kita memandang hidup, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan merespons orang lain juga berubah. Pembaruan pikiran menghasilkan transformasi karakter. Karena itu, komitmen untuk bertumbuh berarti kita rela meninggalkan pola pikir lama yang duniawi, egois, dan reaktif, lalu menggantinya dengan pola pikir Kristus.

Satu lagi ciri pertumbuhan adalah kedewasaan dalam menghadapi pergumulan. Orang yang bertumbuh bukan orang yang hidupnya bebas masalah, melainkan orang yang mampu melihat masalah sebagai alat pembentukan Allah. Kesulitan hidup bukan penghalang pertumbuhan; justru sering kali menjadi sarana pertumbuhan yang terbesar. Melalui pergumulan, Allah membuka motif-motif hati yang salah, mengajarkan kita ketekunan, memperdalam iman, dan menumbuhkan karakter yang serupa Kristus.

Pada akhirnya, komitmen untuk bertumbuh berarti kita tidak puas dengan keadaan rohani kita saat ini. Kita terus mengejar keserupaan dengan Kristus. Pertanyaan yang perlu kita renungkan ialah: Apakah hidup saya semakin menyerupai Kristus hari demi hari? Apakah saya menyediakan waktu bagi firman dan doa? Apakah saya terbuka untuk ditegur dan dibentuk Tuhan? Apakah saya memandang pergumulan sebagai bagian dari pembentukan Allah? Kiranya hari ini menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita. Amin.