Matius 17:20
Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
Dalam ayat tersebut tersirat satu rumus: “Aku mau melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.” Seperti Yesus, kita tidak mungkin bisa sempurna mutlak seperti Dia. Namun, sempurna seperti yang dikehendaki Allah bagi setiap kita harus bisa dicapai. Secara manusia itu tidak mungkin, tetapi kita bersedia. Kita menyerahkan hidup kita, sebab yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah. Kita harus bersedia terlebih dahulu. Tuhan berkata dalam Lukas 14, “Musuhmu dua puluh ribu, kamu sepuluh ribu orang. Kamu tidak mungkin menang. Beri dulu sepuluh ribu, Aku akan menambahkan.” Mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Kita mau melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan, yakni menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak mungkin, tetapi kita mau melakukannya. Kalau kita mau, dan menyerahkan diri untuk itu, maka Allah yang akan menambahkannya, karena ada bagian-Nya.
Namun, jika kita sendiri tidak bersedia, maka itu tidak mungkin terjadi. Tinggalkan dunia sebagai bukti cinta kita kepada-Nya, maka Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. Apa standar kasih kita? Mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Mengasihi dengan segenap hati walaupun kenyataannya kita masih “berdaging.” Dengan segenap akal budi kita melayani hukum Allah, sementara kita masih memiliki kodrat dosa. Kita tetap bisa mengasihi Dia walaupun Allah tidak kelihatan. Berani tidak? Itu persoalannya. Tergantung kita.
Entah kita berdagang di pasar atau berkhotbah di mimbar, tidak ada artinya jika motivasi hati kita salah. Yang penting adalah motivasi hati kita. Karena itu, kita harus berani meninggalkan dunia terlebih dahulu; barulah batin kita digarap oleh Tuhan, sehingga setiap gerak, perasaan, dan tindakan kita menyenangkan Dia. Itulah yang benar. Bukan soal menjadi pendeta atau aktivis—itu semua sesuai panggilan masing-masing. Kita menjadi pengemudi transportasi aplikasi, misalnya, itu pun mulia. Yang penting adalah motivasi hidup kita: tinggalkan dunia. Soal bagaimana memenuhinya, itu memang perlu waktu, asal komitmennya ada. Jika kita memiliki komitmen, ketika berbuat salah, rasa berdosanya akan sangat kuat. Kita tidak akan betah hidup dalam dosa. Kesenangan dunia makin hari makin pudar. Namun kita tetap dapat menikmati wisata, makan bersama keluarga dan teman-teman; memang Tuhan menciptakan itu untuk dinikmati, tetapi tanpa terikat.
Kita tidak dimiliki Allah secara bertahap. Dia sudah membayar tunai. Bagaimana kita memenuhi hidup sebagai milik Allah adalah proses pendewasaan, tetapi komitmen tidak melalui proses. Masalahnya, dulu kita berpikir komitmen itu proses: pokoknya tidak mengkhianati Tuhan, lalu seiring pertumbuhan rohani kita menyerahkan hidup sedikit demi sedikit, sampai akhirnya semuanya. Itu salah. Tidak boleh demikian. Komitmen harus langsung seratus persen.
Sejujurnya, fakta kehidupan rohani menunjukkan bahwa kita tidak pernah dimiliki Allah secara bertahap. Padahal Tuhan sudah membeli kita; maka kita harus berkomitmen dimiliki Dia secara penuh. Ternyata, karena kita merasa boleh bertahap, kita membuka hidup bagi keinginan dunia, sehingga kita justru dimiliki dunia. Dalam hati kita menjerit: mengapa kita tidak bertumbuh signifikan sebagai anak-anak Allah? Mengapa kita tidak mencapai kesucian yang Allah kehendaki?
Faktanya, masih banyak perasaan negatif yang menguasai diri kita, seperti kesombongan, keinginan untuk dianggap berharga, mudah tersinggung, kecewa, sukar menerima orang lain, mudah meledak dalam kemarahan, dan sebagainya. Di dalam daging kita pun masih ada keinginan-keinginan yang kadang mendesak untuk dipuaskan. Kita jujur, kita punya keadaan seperti itu. Itu menunjukkan bahwa kita belum berani berkomitmen. Sekarang kita belajar meninggalkan dunia. Kita tidak dibahagiakan oleh siapa pun selain Tuhan. Prinsip seperti ini harus kita bangun.