Apa yang menjadi jaminan kesetiaan kita kepada Allah dan kasih-Nya? Jawabannya: tidak ada. Namun demikian, Allah tetap memercayai kita. Ia tetap percaya bahwa kita adalah gambar dan rupa-Nya, dan kita dapat mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Bukti kepercayaan-Nya kepada kita ialah pemeliharaan, belas kasih, dan pertolongan yang terus Ia berikan sepanjang hidup manusia. Di sinilah kita sungguh mengagumi betapa luas dan misteriusnya kasih Allah itu. Sebagai respons atas kasih tersebut, pada umumnya orang Kristen mempersembahkan komitmen mereka—yang dipandang sebagai titik awal perjalanan untuk membalas kesetiaan dan kasih Allah.
Di dalam Alkitab, kita melihat bagaimana tokoh-tokoh iman menyatakan komitmen mereka sebagai respons atas kesetiaan Allah. Yosua, penerus Musa, berkata, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Yang paling terkenal, Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Jika Yosua menawarkan komitmen untuk setia beribadah kepada Elohim Yahweh dan tidak kepada allah lain, Petrus menawarkan kesetiaannya sampai mati. Kisah Yosua berakhir dengan kesetiaan yang terwujud, sedangkan komitmen Petrus berakhir dengan kokok ayam tiga kali yang mengingatkannya pada pengkhianatannya sendiri.
Komitmen atau janji setia kepada Allah adalah sebuah hal yang harus dijalani dan dibuktikan. Pembuktian komitmen itu sering kali memerlukan harga yang tidak murah. Tidak semua orang akhirnya dapat membuktikan komitmen mereka. Namun sayangnya, banyak yang berpikir bahwa ketika mereka menyerukan komitmen kepada Tuhan—dalam doa pribadi atau dalam altar call—di situlah mereka telah membuktikan kesetiaan mereka. Kita perlu menyadari bahwa komitmen adalah ruang liminal. Ketika seseorang berkomitmen, ia sedang melangkah memasuki ruang liminal. Apa itu ruang liminal? Ruang liminal adalah ruang antara; momen transisi yang berada di antara dua tempat, dua waktu, atau dua kondisi. Berada di ruang liminal sering kali membangkitkan perasaan tidak nyaman dan tidak pasti karena kita berada dalam proses beralih dari yang lama menuju yang baru.
Ruang liminal dapat digambarkan seperti ketika kita naik pesawat. Pesawat adalah ruang liminal: kita sudah meninggalkan kota asal, tetapi belum tiba di kota tujuan. Duduk di pesawat selama satu jam dapat membuat beberapa orang merasa tidak nyaman. Namun apa daya—seseorang harus berada di ruang liminal itu untuk mencapai tujuan. Banyak orang tiba di tujuan dengan selamat, tetapi ada juga yang tidak pernah sampai. Demikian juga komitmen. Komitmen adalah ruang liminal—masa transisi dari masa lalu yang penuh pemberontakan kepada Tuhan menuju kesetiaan penuh kepada Allah.
Komitmen kita tidak pernah pasti dan sering kali membuat kita tidak nyaman. Selalu ada kemungkinan kita kembali ke masa lalu dan melanggar komitmen yang telah dibuat. Mungkin karena kita tidak nyaman dengan perubahan, sehingga meninggalkan komitmen tersebut. Atau mungkin juga karena kita secara tidak sadar kembali pada kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat. Apa pun alasan kita meninggalkan komitmen pada tahun lalu, sadarlah bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaruinya—bahkan mungkin dengan komitmen yang lebih dalam daripada sebelumnya.
Namun, kita juga harus berhati-hati. Kita bisa menjadi terlalu pongah dan besar kepala dengan komitmen-komitmen indah yang kita ucapkan pada malam tahun baru. Kita lupa bahwa komitmen itu sendiri bukan tujuan, melainkan ruang liminal. Dalam ruang liminal inilah kita seharusnya terus berjuang dengan rendah hati, di bawah tuntunan Roh Kudus, agar dapat memenuhi seluruh komitmen yang telah kita sampaikan kepada Tuhan sebagai respons atas kasih-Nya.