Ketaatan adalah bukti nyata dari komitmen kita kepada Allah. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Artinya, kasih kepada Tuhan tidak hanya diukur melalui kata-kata, lagu-lagu penyembahan, atau aktivitas rohani, melainkan melalui tindakan konkret yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ketaatan menunjukkan bahwa Allah sungguh-sungguh menjadi Tuhan dalam hidup kita.
Namun, ketaatan tidak selalu mudah. Ada banyak hal dalam hidup yang sering kali bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dunia menawarkan jalan cepat, solusi instan, dan kenyamanan sesaat. Daging mendorong kita menuju kesenangan pribadi. Tekanan sosial sering membuat kita berkompromi. Karena itu, ketaatan memerlukan komitmen yang kuat: komitmen untuk berkata “ya” kepada Allah meskipun pilihan itu sulit, tidak populer, atau tidak nyaman.
Dalam 1 Samuel 15:22, Samuel menegur Saul dan berkata, “Ketaatan lebih baik daripada korban.” Saul menjalankan sebagian perintah Tuhan, tetapi memilih untuk mengabaikan sebagian lainnya. Ia memberi alasan rohani untuk ketidaktaatannya. Namun bagi Tuhan, ketaatan yang utuh lebih penting daripada ritual yang megah. Kita mungkin melayani dengan luar biasa, memberi persembahan besar, atau aktif dalam banyak kegiatan gereja, tetapi jika hati kita tidak taat, semua itu tidak berkenan kepada-Nya.
Ketaatan juga menuntut kerelaan untuk meninggalkan kehendak kita sendiri. Banyak orang bersedia taat selama kehendak Tuhan sejalan dengan keinginan mereka. Namun ketaatan sejati tampak ketika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai atau tidak kita mengerti. Abraham taat ketika Tuhan meminta Ishak, anak yang sangat ia kasihi. Musa taat ketika Tuhan menyuruhnya kembali ke Mesir, tempat ia dahulu melarikan diri. Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Mereka taat bukan karena memahami semuanya, melainkan karena percaya kepada Allah yang memanggil mereka.
Ketaatan juga memerlukan proses pembelajaran. Tidak ada orang yang langsung sempurna dalam ketaatan. Petrus membutuhkan waktu panjang untuk bertumbuh menjadi murid yang taat. Pada awalnya ia impulsif, mudah takut, bahkan menyangkal Yesus. Namun Tuhan tidak menyerah atas hidupnya. Ketaatan dibangun melalui pengalaman jatuh-bangun, melalui proses teguran dan pemulihan. Tuhan tidak menuntut ketaatan sempurna seketika, tetapi Ia menuntut hati yang mau dibentuk.
Salah satu tantangan terbesar dalam ketaatan adalah konsistensi. Mudah taat ketika keadaan baik, tetapi sulit ketika kita berada dalam tekanan. Namun justru di tengah situasi itulah kualitas ketaatan kita diuji. Dalam kesusahan, kita cenderung mengambil keputusan cepat berdasarkan perasaan, bukan berdasarkan firman. Padahal ketaatan menuntut agar kita tetap berjalan di jalan Tuhan, sekalipun itu jalan yang sempit.
Ketaatan juga memerlukan keberanian: keberanian untuk berbeda dari dunia, menolak dosa, meninggalkan hubungan yang tidak sehat, berkata “tidak” kepada godaan, serta berdiri di pihak Allah meskipun kita harus kehilangan kenyamanan, kesempatan, atau persetujuan manusia.
Akhirnya, komitmen untuk taat adalah komitmen untuk berjalan bersama Tuhan setiap hari. Pertanyaannya bagi kita hari ini: Apakah saya melakukan kehendak Tuhan atau kehendak saya sendiri? Apakah saya hanya taat ketika nyaman? Apakah saya bersedia taat sekalipun tidak mengerti? Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus berkomitmen taat kepada Bapa, seperti Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.