Skip to content

Keyakinan yang Kosong

 

Pada peristiwa Natal dua ribu tahun yang lalu, ada banyak orang dan banyak pihak yang mendengar berita Natal. Namun tidak semua dari mereka bertemu dengan Bayi Yesus. Bahkan penduduk Betlehem sendiri, yang menjadi “tuan rumah”, tidak mengenal-Nya. Kota Yerusalem hanya gempar ketika mereka mendengar berita dari orang Majus bahwa ada Raja orang Yahudi yang lahir, tetapi mereka pun tidak bertemu dengan Bayi Yesus. Dan yang paling menyedihkan adalah para ahli Kitab dan orang-orang Farisi—mereka yang cakap dalam beragama, para tokoh agama yang seharusnya paling berkepentingan untuk bertemu dengan Mesias—tetapi mereka juga tidak bertemu dengan-Nya.

Lalu siapa yang bertemu dengan Bayi Yesus? Para penjaga domba di padang Efrata. Begitu mendengar berita kelahiran Bayi Yesus, mereka meninggalkan domba-dombanya di padang; mereka melepaskan kesibukan demi bertemu dengan Bayi Yesus. Malam itu juga ada desakan, ada rasa butuh, ada rasa perlu, sehingga domba-dombanya ditinggalkan. Hal itu berisiko, sebab mereka bisa kehilangan beberapa domba atau bahkan banyak domba. Namun yang paling mengagumkan adalah orang-orang Majus dari Timur. Mereka harus menempuh ratusan kilometer, membayar biaya perjalanan dengan segala risiko dan konsekuensinya, meninggalkan kampung halaman, pergi ke tempat asing, dengan pertaruhan nyawa.

Dan ketika mereka bertemu dengan Anak itu, Alkitab mencatat bahwa mereka sujud menyembah. Bagaimana mereka tahu bahwa Anak ini adalah Raja? Mereka begitu percaya, dan kepercayaan mereka dibuktikan dengan tindakan. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur—barang-barang yang bernilai—yang pada akhirnya sangat berguna untuk membesarkan Anak itu. Tidak heran malaikat kemudian datang memberitahukan kepada mereka untuk tidak pulang melalui jalan yang sama.

Pertanyaan bagi kita hari ini: apakah kita—dan semua orang Kristen yang merayakan Natal—suatu hari benar-benar akan bertemu dengan Tuhan Yesus? Banyak orang Kristen, atau hampir semua orang Kristen, merasa tidak melawan Tuhan Yesus. Bahkan ketika merayakan Natal, mereka menunjukkan dukungan dan simpatinya kepada Tuhan Yesus, dan merasa bahwa mereka sudah berada di pihak-Nya. Itu sudah cukup membuat hati merasa aman, tenang, dan damai.

Namun mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan, tidak sungguh-sungguh memperkarakan: apakah suatu hari mereka bisa bertemu dengan Yesus yang sekarang sudah menjadi Raja? Sejatinya, hal ini harus benar-benar kita perkarakan—sekalipun kita seorang pendeta. Jangan percaya diri atau yakin dengan keyakinan yang kosong. Jangan hanya yakin masuk surga, yakin akan diterima Tuhan, padahal belum tentu. Itu spekulasi, untung-untungan. Mungkin terdengar “konyol”, tetapi ini sungguh-sungguh harus kita lakukan.

Kita bisa memulainya dengan pertanyaan: “Di mata Tuhan, apakah saya sudah mengambil bagian dalam kekudusan-Nya? Di mata Tuhan, apakah saya sudah mengenakan kodrat ilahi? Di mata Tuhan, apakah saya sudah termasuk melakukan kehendak Bapa? Di mata Tuhan, apakah aku sudah dianggap berkenan kepada-Nya?”

Itu harus benar-benar kita perkarakan. Kita harus sungguh-sungguh merasa takut dan gentar. Jangan membuang atau menghalau dari pikiran perasaan ragu-ragu itu, sebab keragu-raguan seperti ini justru dapat menolong kita untuk lebih serius dengan Tuhan. Kalau dahulu kita mungkin mengajar jemaat untuk jangan ragu-ragu dan harus yakin masuk surga, sekarang kita mengerti lebih dalam berdasarkan kebenaran yang sudah terbentuk dalam pikiran dan hidup kita. Sebab Alkitab sendiri berkata, “Ujilah dirimu! Jangan menyangka engkau sudah berdiri teguh!” Banyak orang merasa sudah diterima Tuhan, berseru kepada-Nya: “Tuhan, Tuhan,” tetapi ditolak oleh Allah.

Jadi, keragu-raguan ini jangan dihalau; sebaliknya, keraguan ini perlu dirasakan dan dipersoalkan, sehingga akhirnya menggiring kita masuk dalam pergumulan untuk sungguh-sungguh memperkarakan: apakah kita suatu hari diperkenankan bertemu dengan Sang Maharaja? Sebab Tuhan Yesus pasti datang kembali. Kalau dua ribu tahun yang lalu Ia datang sebagai Bayi kecil yang lemah dan hina, kelak Ia akan datang sebagai Raja dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang tidak gemetar di hadapan-Nya. Keagungan-Nya luar biasa; kewibawaan Kerajaan yang dibawa-Nya sangat dahsyat. Kira-kira, kita ini berharga atau tidak di mata-Nya? Hal itu sangat bergantung pada apakah sekarang kita menganggap Dia berharga atau tidak.