Skip to content

Ketika Orang Sakit Merasa Sehat

 

Matius 9:12-13

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Keadaan rohani yang paling berbahaya adalah ketika seseorang berbuat dosa tetapi merasa dirinya benar. Orang yang sadar sedang sakit masih dapat mencari pertolongan. Sebaliknya, orang sakit yang merasa sehat akan menolak tabib dan menganggap pengobatan tidak diperlukan. Inilah keadaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka dapat mengenali kesalahan orang lain dengan cepat. Mereka mengetahui siapa yang dianggap najis, siapa yang melanggar batas, dan siapa yang tidak pantas masuk ke dalam persekutuan. Namun, ketelitian itu tidak disertai kemampuan melihat keadaan hati sendiri. Mereka menganggap ketaatan terhadap aturan dan persembahan keagamaan sebagai bukti bahwa mereka sehat di hadapan Allah. Padahal, sikap menghakimi, kesombongan, dan ketiadaan belas kasihan memperlihatkan penyakit rohani yang serius.

Yesus menjawab mereka dengan gambaran tentang tabib dan orang sakit. Ia datang kepada orang berdosa karena dosa merupakan penyakit jiwa yang harus disembuhkan. Seorang dokter yang baik tidak membenci pasien karena penyakitnya, tetapi ia juga tidak membiarkan penyakit itu tanpa penanganan. Demikian pula, belas kasihan Allah menerima orang-orang berdosa untuk membawa mereka kepada pertobatan. Perkataan “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” tidak berarti ada orang yang sama sekali tidak membutuhkan keselamatan. Masalahnya, sebagian orang mengakui penyakitnya, sedangkan sebagian lain menyembunyikannya di balik penampilan agama. Pemungut cukai mengetahui buruknya reputasi mereka; di sisi lain, orang Farisi merasa tidak memiliki persoalan. Karena merasa benar, mereka tidak membuka diri terhadap koreksi dan akhirnya menolak pekerjaan Allah yang hadir di depan mereka.

Kemudian Yesus berkata, “Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Perkataan ini sangat tajam karena disampaikan kepada orang-orang yang menganggap diri mereka ahli dalam Kitab Suci. Mereka mengetahui teksnya, tetapi belum memahami hati Allah. Pengetahuan yang tidak mengubah watak dapat melahirkan kesombongan rohani. Seseorang dapat rajin beribadah, memberi persembahan, menguasai doktrin, dan aktif melayani, tetapi tetap keras, tidak mengampuni, dan tidak peduli terhadap orang yang terhilang. Belas kasihan menjadi ujian apakah kehidupan keagamaan kita sungguh berpusat pada Allah atau pada pencitraan diri. Persembahan dapat dilihat orang, pengetahuan dapat mengundang kekaguman, dan pelayanan dapat dipuji. Namun, belas kasihan sering dilakukan tanpa sorotan. Ia menuntut kita merendahkan diri seraya memikul beban orang lain. Di sanalah keadaan hati kita tersingkap.

Allah tidak sedang meniadakan ibadah atau persembahan. Ia menolak ibadah yang dipisahkan dari ketaatan dan belas kasihan. Aktivitas keagamaan tidak dapat menggantikan kehidupan yang benar. Kita tidak dapat menutupi kepahitan dengan pelayanan, mengganti kejujuran dengan persembahan, atau merasa suci hanya karena tidak melakukan dosa yang dilakukan orang lain. Ukuran kebenaran bukanlah perbandingan dengan orang yang lebih buruk, melainkan kesesuaian hidup kita dengan kehendak Bapa.

Karena itu, sebelum menunjuk penyakit rohani orang lain, izinkan firman memeriksa diri kita. Apakah kita mudah merendahkan mereka yang latar belakangnya buruk? Apakah kita merasa lebih layak diterima Allah karena kedudukan, pelayanan, atau pengetahuan teologi? Apakah kita mempertahankan ritual keagamaan tetapi menolak mengampuni? Sikap seperti itu menunjukkan bahwa kita membutuhkan Sang Tabib sama seriusnya dengan orang yang kita hakimi. Mengalami belas kasihan Allah seharusnya menjadikan kita pembawa belas kasihan. Belas kasihan yang benar berani menyebut dosa sebagai dosa, tetapi tetap membuka jalan pertobatan bagi pelakunya. Ia tidak mempermalukan orang untuk meninggikan diri, tetapi menolong orang bangkit dan kembali kepada kehendak Allah.