Keterikatan dengan Tuhan haruslah keterikatan yang permanen. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya, dalam segala keadaan, di segala tempat, dan setiap waktu, tetap berada dalam keterikatan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada tempat dan waktu di mana orang percaya tidak melekat kepada Tuhan. Pada akhirnya, keterikatan ini menjadi keterikatan yang abadi. Inilah yang sebenarnya disebut sebagai covenant (perjanjian) antara umat dan Allah. Dalam Perjanjian Lama, istilah ini disebut beriyth (בְּרִית), sebuah kata yang sangat penting dalam menunjukkan hubungan antara Yahweh dan Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kata yang sejajar dalam teks Yunani adalah diathēkē (διαθήκη).
Orang percaya tidak boleh terikat kepada Tuhan hanya pada waktu berada di gereja; demikian pula, kita tidak boleh merasa tidak terikat pada dunia hanya ketika mengikuti kebaktian. Untuk tidak terikat pada dunia, seseorang tidak harus meninggalkan kesibukan di luar gereja—sebagai pengusaha, tenaga medis, praktisi hukum, politisi, dan sebagainya. Ada orang yang beranggapan bahwa untuk dapat hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, ia harus meninggalkan pekerjaan sekuler, rajin menghadiri kebaktian setiap hari, dan supaya lebih sempurna lagi, menjadi fulltimer gereja atau pendeta. Ini adalah konsep yang keliru, dan mirip dengan keyakinan dalam beberapa agama yang mengajarkan bahwa untuk menjadi orang saleh, seseorang harus meninggalkan dunia, menyingkir ke tempat sunyi, dan mengasingkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan. Lalu muncul anggapan bahwa diri mereka lebih suci dibandingkan orang-orang yang tetap sibuk dalam kegiatan sehari-hari di luar gereja.
Justru ketika seseorang bergulat dalam berbagai pergumulan hidup di dunia, ia dapat membuktikan cinta dan kesetiaannya kepada Tuhan serta kesalehannya yang sejati. Sama seperti seseorang baru layak disebut perenang hebat jika mampu berenang bukan hanya di kolam renang, tetapi juga di tengah gelombang lautan. Seorang suami terbukti setia bukan ketika tidak ada godaan, melainkan ketika ia memiliki kesempatan untuk memindahkan hatinya kepada banyak wanita cantik tetapi tetap memilih istrinya sendiri. Demikian pula seseorang dapat membuktikan bahwa ia mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu ketika ia memiliki kesempatan besar untuk meraih kenikmatan dunia—gelar, kekuasaan, nama besar, dan kehormatan—tetapi tetap memilih Tuhan. Dari sinilah kecintaan seseorang kepada Tuhan teruji.
Tuhan memberi peluang bagi orang percaya untuk menikmati dunia dengan segala kesenangannya. Namun, orang percaya yang setia akan berusaha untuk memilih terikat kepada Tuhan. Dalam Lukas 17, Tuhan Yesus mengutip kisah Lot. Ia mengingatkan agar orang percaya tidak gagal menyambut karya keselamatan-Nya hanya karena mencintai dunia. Lot tidak menoleh ke belakang sekalipun ia kehilangan seluruh hartanya di Sodom. Lot menaati Tuhan dengan setia, tetapi istri Lot tidak. Sebagai orang pilihan, kita harus berani melakukan “barter”: meninggalkan dunia untuk memperoleh Kerajaan Surga. Kita harus berani melakukan tindakan barter sebagaimana orang-orang yang disebut dalam perumpamaan Matius 13:44–46. Barter adalah persoalan hati—persoalan batin.
Apakah hati kita sungguh-sungguh tidak lagi berharap memperoleh kebahagiaan dari dunia, atau masih menggantungkan kebahagiaan pada berbagai fasilitas yang ada di bumi ini? Jika seseorang masih berharap memperoleh kebahagiaan dari dunia ini, berarti ia tidak mengikatkan diri kepada Tuhan. Tetapi jika seseorang berani meninggalkan kesenangan dunia, sebab ia hanya ingin menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka ia sedang membangun tali ikatan yang abadi dengan Tuhan. Kiranya ini menjadi komitmen kita dalam menapaki tahun yang baru.