Sehebat apa pun manusia, manusia adalah makhluk yang terbatas, dikunci dalam keterbatasan. Hal ini dimaksudkan agar manusia terikat dengan Tuhan, manusia tergantung pada Allah, Penciptanya, dan akhirnya manusia harus bermuara pada Tuhan, berlabuh pada Tuhan. Dan ini sesuatu yang logis dan fair. Allah tidak mungkin menciptakan makhluk yang memiliki kehendak bebas sebebas-bebasnya, sampai dapat mandiri total, terpisah dari Penciptanya. Demi kebaikan manusia dan kemuliaan Allah, manusia diciptakan dalam keadaan yang terkunci. Kalau secara logika, nalar, rasio atau kemampuan itu bisa tidak terbatas—walaupun bisa terbatas juga—karena manusia bisa terus berkembang atau bertumbuh.
Jadi secara intelektual, kecerdasan manusia bisa tanpa batas, kalau tidak mati. Di 2000 tahun sejarah bumi, manusia bisa mencapai Mars. Bayangkan kalau usia manusia sampai miliar dan triliun tahun dan tidak mati. Maka manusia harus mati umur 70-80 tahun dan dunia harus diakhiri. Yang dibuat terbatas adalah hatinya. Manusia dikunci Tuhan dengan keterbatasan yang mana di dalam jiwanya ada rongga kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun, kecuali Tuhan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa Tuhan, supaya manusia bisa diarahkan oleh Allah. Bayangkan, ada pria yang kuat gagah perkasa, besar badannya, banyak duitnya, istrinya kecil dan mungil, tetapi hati pria ini terikat dengan wanita itu. Wanita itu bisa mengatur suaminya. Dan sang suami tidak bisa hidup tanpa dia. Jangankan pegawai, pejabat pun takut terhadap pria itu, tetapi terhadap istrinya dia tidak berdaya!
Namun manusia berdosa tidak melihat kehausan ini, karena banyak kehausan lain; apakah itu narkoba, barang branded, kehormatan atau kekayaan. Di Lukas 16, kita membaca orang kaya yang setiap hari pesta dengan memakai jubah ungu. Begitu mati, ia harus melepaskan semuanya. Di kekekalan, ia baru sadar adanya kekosongan jiwa yang tidak pernah dia isi. Tanpa kita sadari, banyak di antara orang percaya yang sekarang sedang tertipu oleh hal ini. Bahkan, gereja pun sering menyesatkan. Contohnya, Teologi Kemakmuran yang mendoakan dan mengarahkan jemaat kepada berkat-berkat Tuhan. Sehingga jemaat tidak membutuhkan Tuhan, tapi berkat-Nya. Itu jahat, menipu, dan menyesatkan. Yang kita butuhkan hanya Tuhan, titik.
Di Perjanjian Lama kekosongan ini sudah disadari oleh orang-orang saleh, sehingga mereka bisa berkata, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair, demikian jiwaku merindukan Engkau.” Bukan merindukan kekayaan dunia di mana kalau tidak pakai mobil merk tertentu, rasanya tidak keren.” Atau kalau tidak mempunyai uang sejumlah tertentu, maka ia tidak merasa lengkap. Mereka terjebak di situ. Mazmur 73:25-26 mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Sadari kekosongan jiwa kita. Tuhan berkata di Yohanes 4:13-14, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
Banyak orang tidak menyadari rongga kosong dalam jiwanya dan adanya kehausan itu. Setelah meninggal dunia, mereka baru sadar ada kehausan yang belum pernah dia puaskan. Itu berarti, selama hidup dia tidak menemukan Tuhan. Tuhan membuat manusia terkunci dalam keterbatasan. Oleh sebab itu, yang masuk ke dalam Kerajaan Surga adalah khusus anggota keluarga Kerajaan, yang tidak mempunyai keterikatan dengan dunia, namun keterikatannya dengan Tuhan saja, atau yang menjadi kekasih Tuhan.